• Vestibulum quis diam velit, vitae euismod ipsum

    Etiam tincidunt lobortis massa et tincidunt. Vivamus commodo feugiat turpis, in pulvinar felis elementum vel. Vivamus mollis tempus odio, ac imperdiet enim adipiscing non. Nunc iaculis sapien at felis posuere at posuere massa pellentesque. Suspendisse a viverra tellus. Nam ut arcu et leo rutrum porttitor. Integer ut nulla eu magna adipiscing ornare. Vestibulum quis diam velit, vitae euismod ipsum? Quisque ...

  • Aliquam vel dolor vitae dui tempor sollicitudin

    Proin ac leo eget nibh interdum egestas? Aliquam vel dolor vitae dui tempor sollicitudin! Integer sollicitudin, justo non posuere condimentum, mauris libero imperdiet urna, a porttitor metus lorem ac arcu. Curabitur sem nulla, rutrum ut elementum at, malesuada quis nisl. Suspendisse potenti. In rhoncus ipsum convallis mauris adipiscing aliquam. Etiam quis dolor sed orci vestibulum venenatis auctor non ligula. Nulla ...

  • Nam ullamcorper iaculis erat eget suscipit.

    Etiam ultrices felis sed ante tincidunt pharetra. Morbi sit amet orci at lorem tincidunt viverra. Donec varius posuere leo et iaculis. Pellentesque ultricies, ante at dignissim rutrum, nisi enim tempor leo, id iaculis sapien risus quis neque. Ut sed mauris sit amet eros tincidunt adipiscing eu vitae lectus. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos ...

Twitter

Tampilkan postingan dengan label Architecture. Tampilkan semua postingan


Sebagai sebuah negeri di kawasan khatulistiwa, yang luas lautannya lebih besar daripada luas daratannya, di Indonesia terdapat luar biasa banyaknya jenis kerang-kerangan laut.
Warnanya pun bermacam-macam. Pola pigmentasi kulit kerang laut sangat indah, kompleks! Setiap kali kita bermain-main di tepi pantai di kawasan nusantara yang masih asri, kita akan takjub memperhatikan goresan-goresan lukisan alam di kulit kerang yang indah sekali. Goresan-goresan sederhana yang hasilkan pola yang luar biasa kompleks, yang ketika di-implementasi pada bangun 3-dimensi menguak takdir kompleksitas bangunan kuno candi Borobudur!
Lukisan maestro manapun, rasanya, tak mudah menandingi bentuk “lukisan abstrak” di kulit kerang-kerangan laut itu. Sebagai contoh adalah lukisan indah pada cangkang kerang Cymbiola Innexa berikut ini, yang beberapa waktu lalu diberikan oleh salah seorang kawan yang baru melancong di kawasan Bali dan Lombok. Terdapat bentuk dan pola segitiga-segitiga yang seolah acak, tapi sebentar mengamatinya kita seolah gampang menemukan polanya.
Jika pelukis Renaissance perlu menggambar pola dasar, melalui penentuan garis horizon, tempat ia nanti melukis obyek-obyek lukisan sesuai aturan perspektif sehingga memunculkan “realitas” baru dari dalam lukisannya, bagaimanakah alam melukis kulit cangkang seekor kerang? Tak ada dua cangkang kerang yang sama persis, tetapi mata kita gampang membedakan antara dua spesies kerang hanya dengan memperhatikan pola gambar dan ornamentasi cangkangnya.
Alkisah, matematikawan dengan kontribusi interdisiplin, John von Neumann (1903-1957) menawarkan sebuah model komputasi yang dapat menunjukkan bahwa tak semua pola yang sangat kompleks lahir dari sistem yang bekerja secara rumit pula. Ia menawarkan model bernama Otomata Selular: sebuah model yang menunjukkan bagaimana aturan sederhana (sel-sel berbentuk kotak-kotak) yang jika disusun dengan aturan sederhana dapat memberikan pola kompleks yang luar biasa. Adalah Stephen Wolfram, seorang fisikawan yang juga berkontribusi lintas disiplin, mulai dari sains, ilmu komputer, hingga ekonomi, secara berani mengakuisisi model otomata selular ini dalam mencoba menggagas implementasi luas dari proposal von Neumann tersebut. Otomata selular, ketika diterapkan dalam banyak lapangan studi, berpotensi memberikan kita sebuah ilmu baru, a new kind of science, yang menjelaskan bahwa kompleksitas yang kita lihat sehari-hari, misalnya pola lukisan alam di cangkang kerang.
Otomata selular merupakan sebuah “dunia” kotak-kotak yang selalu di-update secara dinamis dengan aturan-aturan tertentu yang sebenarnya sangat sederhana. Misalnya, jika ada 2 kotak berwarna (hitam), maka kotak tersebut akan berubah warna atau tetap dengan warna itu… demikian serterusnya. Sebagai contoh, mari kita lihat gambar di bawah ini. Otomata selular ini berubah secara dinamis dengan memperhatikan apakah diisi atau tidaknya di lapisan iteratif sebelumnya sesuai dengan tumbuh membesarnya cangkang hewan lunak (mollusca) di laut.
Dengan menerapkan aturan sederhana pada gambar di atas, pola kompleks yang mirip sekali dengan lukisan di cangkang kerang Cymbiola Innexa pun muncul. Ya, alam tak punya penggaris dalam melukis pola-pola konfigurasi struktur terlokalisasi yang tergambar pada cangkang kerang-kerangan. Yang ada adalah konsentrasi molekul-molekul pigmen dalam rongga-rongga kalsium karbonat yang menyusun cangkang. Jika secara sederhana kita modelkan terisinya sekotak rongga sebagai “1″ sementara jika tak terisi sebagai “o”, maka dengan mengikuti aturan ber-nomor indeks 30 otomata selular sederhana (elementer), pola ragam hias alamiah cangkang kerang yang rumit akan muncul. Ilmuwan biologi modern banyak memodelkan hal pigmentasi kerang dengan model otomata selular ini, bahkan telah menggunakan pendekatan yang memper-umum-kan pola algoritmik dari komposisi ragam hias alamiah cangkang kerang. Dalam buku fenomenalnya, A New Kind of Science, Wolfram nemunjukkan potensi besar dari akuisisi otomata selular dalam menjawab pertanyaan besar ilmu hayat ini.
Menariknya, pendekatan ini dapat pula kita gunakan untuk melihat kompleksitas yang luar biasa dari candi Buddha Mahayana terbesar di Indonesia, peninggalan abad ke-8, ketika Dinasti Syailendra menjadi tuan rumah di peradaban Nusantara. Nenek moyang kita sangat cerdas meniru cara alam bekerja. Tak punya sistem metrik yang sangat canggih – yang tentunya adalah hal paling penting dalam melukis, apalagi membangun sebuah mega-struktur seperti candi – namun dengan meng-akuisisi teknik proses kerja dari aturan sederhana untuk hasilkan pola arsitektur kompleks, maka Borobudur pun dibangun.
Itu mungkin sebabnya mengapa – sama seperti cangkang kerang tak pernah ada yang sama, namun mirip – candi-candi yang tersebar di Sumatera, Jawa, hingga Bali, tak ada yang sama persis, namun punya “karakter” unik yang membuat kita seolah mudah meng-identifikasinya bahkan membuat klasifikasi-klasifikasi arsitektur vernakular. Bayangkan Borobudur sebagai sebuah hasil tumpuk-tumpukan blok-blok batu yang ditempatkan dengan aturan-aturan sederhana seperti halnya alam mengisi struktur biokimia rongga-rongga molekul cangkang kerang dengan pigmen, maka pola kompleks dalam wujud 3-dimensional pun hadir.
Sebuah teknik ber-geometri yang aneh, dari sudut pandang sains modern. Sebelumnya pola serupa ini telah pula ditunjukkan pada geometri motif kain tradisional Indonesia: batik. Matematikawan, Benoit Mandelbrot (1924-2010) memformalkan teknik geometri unik ini dengan sebutan “fraktal”. Rilis video berikut ini bercerita lebih detail tentang Borobudur, geometri fraktal, dan Otomata Selular.
Jika motif cangkang kerang adalah adikarya alam 2-dimensi, maka Borobudur adalah adikarya budaya nusantara 3-dimensi. Sungguh membanggakan menjadi pewaris teknologi kuno hebat ini, dan sungguh meng-inspirasi dalam hidup yang sangat kompleks ini!


house-038Hemat energi dapat dimulai dari rumah kita sendiri. Membangun atau merenovasi rumah sebaiknya tidak sekadar mementingkan gaya belaka, melainkan ada kiat agar rumah dapat ramah lingkungan. Seorang arsitek yang juga pecinta lingkungan, Robby Wahyu Widodo mencoba memaparkannya.
Ada beberapa opsi dan kesempatan yang dapat kita lakukan terhadap gerakan hemat energi di rumah kita. Langkah-langkah ini sangat baik untuk diterapkan oleh rekan-rekan ketika ingin membangun rumah baru atau merenovasi rumah. Kadang langkah tersebut terkesan sangat sederhana dan tak terlintas di benak kita. Padahal jika ditilik, besar sekali manfaatnya untuk lingkungan sekitar. Apa sajakah itu?
Pencahayaan dengan efisiensi tinggi.
Di pasaran banyak dijual lampu yang mengklaim hemat energi. Lampu-lampu ini memang berharga relatif mahal di awal pembelian, namun apakah kita pernah berpikir mengenai life cost-nya? Lampu yang berkualitas jelek pasti lebih sering rusak dan menuntut diganti, dan itu berarti pengeluaran uang, bukan? Jadi saat berbelanja peralatan elektronik, upayakan memilih yang memang benar-benar hemat energi.
Pencahayaan langit dan siang hari.
Tuhan memberikan karunianya berupa matahari dan langit yang dapat berfungsi sebagai sumber cahaya di pagi hingga sore hari. Ada dua strategi pencahayaan, pencahayaan samping dan atas. Bila diterapkan dengan perencanaan dan desain yang baik di rumah kita, bukan tidak mungkin dapat menggantikan fungsi lampu listrik dan akhirnya menghemat biaya listrik.
Pembayangan ruang luar, kulit bangunan, dan ventilasi.
Bangunan dengan bahan kulit atau pelingkup yang memiliki nilai hambatan hantaran panas yang besar akan berpengaruh besar terhadap kenyamanan ruang dalam. Begitu juga dengan pembayangan bukaan, kaca, maupun teras sama implikasinya dengan kenyamanan termal penghuni rumah. Kita harus ingat panas sinar matahari berpengaruh terhadap suhu ruang dalam melalui tiga cara : konduksi, konveksi dan radiasi. Pemilihan bahan dan desain pembayangan dan bukaan ventilasi yang baik akan berimplikasi terhadap kenyamanan dan energi, terlebih bila kita sering menggunakan AC atau kipas angin.
Atap yang dingin.
Memang agak aneh mendengar istilah ini. Maksud istilah ini adalah bahan penutup atap yang memiliki nilai hambatan hantaran panas yang cukup besar dan memiliki kemampuan memantulkan panas yang baik. Penutup atap dari bahan tanah atau keramik sangat baik untuk kenyamanan suhu ruang dalam. Apalagi bila ditambah penggunaan lembaran aluminium foil yang dipasang di bawah penutup atap. Poin ini berhubungan dengan penggunaan energi listrik untuk AC, sehingga AC tidak bekerja “ngoyo” di siang hari.
Peralatan rumah tangga berefisiensi tinggi.
Poin ini memang tidak berhubungan langsung dengan fisik bangunan, namun sangat berpengaruh dengan biaya listrik yang kita keluarkan setiap bulan. Sekarang pilihan merek dan spesifikasi alat rumah tangga semaikn beragam. Pilihlah yang hemat energi listrik sehingga memiliki life cost yang ringan untuk operasionalnya.
Selamat berkreasi menghadapi krisis BBM dan Listrik!


Dari beberapa artikel yang saya baca di internet menyebutkan bahwa, apabila berdiskusi tentang arsitektur islam di Indonesia, kita akan berbicara tentang arsitektur masjid. Penulis akan mencoba mengupas tentang “islamic pattern” yang merupakan warisan budaya islam dengan mengkaitkan arsitektur masjid di Indonesia.
Apakah desain pada bangunan masjid tersebut mengimplementasikan warisan budaya yang kita miliki, atau desain tersebut berkiblat pada teori-teori barat, atau mungkin desain tersebut apa kata tukang.
Gambar 1. Implementasi Islamic Pattern pada Real Alcazar
Penulis tidak akan memberikan contoh masjid dalam tulisan ini sebagai pembanding, namum pembaca dapat melihat sendiri masjid-masjid di sekitar pembaca, mengingat jumlah masjid yang kita miliki sangat banyak. Berdasarkan data dari departemen agama, tahun 2004 jumlah masjid mencapai 643.834 dengan jumlah penduduk Indonesia yang beragama islam 85,2%. Silahkan pembaca bandingkan apakah desain masjid di sekitar anda yang mungkin didesain dengan komputer memiliki nilai estetika yang lebih baik dengan beberapa gambar yang penulis sajikan pada tulisan berikut ini.
Islamic Pattern, warisan kesenian islam
Islamic Pattern yang merupakan warisan budaya islam adalah sebuah kesenian yang beraliran geometri. Bentuk dasar yang digunakan dalam bentuk ini adalah lingkaran. Dengan bentuk lingkaran dapat dibentuk sebuah persegi atau segitiga sama sisi. Dari kombinasi-kombinasi bentuk tersebut, akan didapatkan motif yang dapat diulang. Motif-motif ini dapat diimplementasikan dalam berbagai kebutuhan seperti ornamen pada dinding bangunan, fasade bangunan, kesenian pada logam, kayu, keramik, tekstil, karpet ataupun minatur.
Gambar 2. Motif khas Real Alcazar
Gambar 3. Implementasi geometri pada dinding keramik
Islam pernah menduduki kejayaaan di Eropa yang dimulai dari Andalucia. Beberapa peninggalan bersejarah di antaranya Alhambra yang terletak di Granada, La Mezquita atau Masjid di Cordoba, dan Real Alcazar di Sevilla. Penulis memiliki kesempatan untuk belajar Master Arsitektur di Universidad de Sevilla, Andalucia, Spanyol. Sehingga memiliki beberapa foto yang dapat dijadikan contoh bangunan yang mengimplementasikanIslamic Pattern pada bangunan.
Ilmu yang dimiliki pada saat itu sangatlah terbatas, yaitu ilmu matematika sederhana yang disebut geometri, namun sang arsitek mampu menghadirkan desain-desain yang detail pada bangunan. Bentuk sulur pada beberapa fasade bangunan, dibentuk dari lingkaran dengan menggunakan penggabungan dan pengurangan bentuk. Untuk contoh bagaimana bentuk tersebut didapat, silahkan baca artikel penulis yang lain dengan judul “Pola Geometri pada Seni dan Arsitektur Islam di Andalucia, Studi Kasus Alhambra di Granada, Spanyol“.
Gambar 4. Penerapan Islamic Pattern pada dinding
Gambar 5. Penerapan Islamic Pattern pada atap
Gambar 6. Stucco Courtyard
Gambar 7. Detail motif sulur pada Stucco Courtyard
Gambar 8. The Hunting Courtyard
Nilai-nilai kesenian yang pernah kita miliki, seyogyanya kita lestarikan dengan mengimplementasikan pada bangunan yang tepat guna, misalnya pada masjid. Tidak selayaknya kita membuat sebuah desain dengan sumber yang tidak kita ketahui jelas sehingga kita melihat sebuah desain yang indah karena semua orang berkata “itu adalah desain yang indah”.


Seti Pada tahun 5000 SM, bangsa Mesir adalah bangsa yang telah memiliki peradaban yang mantap. Selama berabad-abad hingga kini, peninggalan peradaban Mesir kuno telah diakui sebagai peninggalan yang mengagumkan. Termasuk lukisan di dinding-dinding batu yang menghiasi bangunan serta makam-makam para raja dan bangsawan Mesir.
Lukisan-lukisan yang didominasi oleh profil-profil manusia ini, memiliki ciri yang amat khas dalam penggambarannya. Kedua tangan memiliki sisi yang sama dengan panjang jari yang sama, dada menghadap ke depan, namun kedua kaki dan kepala menghadap ke samping, serta profil mata yang digambar dengan perspektif depan. Gaya lukis ini tentu saja tidak menggambarkan perspektif manusia yang tepat. Seniman Mesir tampaknya berusaha menggambar profil tubuh manusia sejelas-jelasnya sehingga harus menggabungkan berbagai perspektif fitur tubuh dalam satu profil lukis. Selama 3000 tahun ke depan, para seniman Mesir kuno tetap mempertahankan gaya lukis ini.
Mengapa gaya lukis bangsa Mesir kuno sepert ini? Jawabannya ditemukan pada makam seorang pendeta bernama Ramose. Adik Ramose adalah seorang kepala seniman bagi Firaun. Sebelum kematian Ramose, adiknya menghiasi makam dengan berbagai lukisan dan relief yang indah. Sebelum karya itu berhasil diselesaikan, Firaun meninggal, sehingga Ramose kehilangan pekerjaannya. Lukisan yang dipersiapkan untuk menghiasi makamnya kelak pun, terhenti dan tidak selesai. Dari sinilah terlihat, di sepanjang dinding lukis yang belum selesai, terdapat garis-garis halus berwarna merah yang membentuk sebuah pola kotak-kotak simetris.
Arkeolog pun mencocokkan profil manusia dalam lukisan-lukisan Mesir lainnya, dengan kotak-kotak simetris yang terdapat pada dinding lukis yang belum selesai. Ternyata setiap profil lukisan yang ada memiliki ukuran yang sama dari berbagai skala. Ukuran untuk mata, kepala, tungkai kaki, tinggi tubuh, tangan dan seterusnya. Kotak ukur untuk masing-masing bagian tubuh inilah yang menyebabkan profil manusia pada lukisan Mesir tidak dapat dibuat dengan perspektif realistis.
Karya-karya seni ini merupakan salah satu perwujudan obsesi bangsa Mesir akan konsistensi dan keteraturan. Nilai budaya inilah yang selama berabad-abad membuat lukisan dinding bangsa Mesir memiliki pola yang sama.

Diberdayakan oleh Blogger.