• Vestibulum quis diam velit, vitae euismod ipsum

    Etiam tincidunt lobortis massa et tincidunt. Vivamus commodo feugiat turpis, in pulvinar felis elementum vel. Vivamus mollis tempus odio, ac imperdiet enim adipiscing non. Nunc iaculis sapien at felis posuere at posuere massa pellentesque. Suspendisse a viverra tellus. Nam ut arcu et leo rutrum porttitor. Integer ut nulla eu magna adipiscing ornare. Vestibulum quis diam velit, vitae euismod ipsum? Quisque ...

  • Aliquam vel dolor vitae dui tempor sollicitudin

    Proin ac leo eget nibh interdum egestas? Aliquam vel dolor vitae dui tempor sollicitudin! Integer sollicitudin, justo non posuere condimentum, mauris libero imperdiet urna, a porttitor metus lorem ac arcu. Curabitur sem nulla, rutrum ut elementum at, malesuada quis nisl. Suspendisse potenti. In rhoncus ipsum convallis mauris adipiscing aliquam. Etiam quis dolor sed orci vestibulum venenatis auctor non ligula. Nulla ...

  • Nam ullamcorper iaculis erat eget suscipit.

    Etiam ultrices felis sed ante tincidunt pharetra. Morbi sit amet orci at lorem tincidunt viverra. Donec varius posuere leo et iaculis. Pellentesque ultricies, ante at dignissim rutrum, nisi enim tempor leo, id iaculis sapien risus quis neque. Ut sed mauris sit amet eros tincidunt adipiscing eu vitae lectus. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos ...

Twitter

Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Cover Novel Oeroeg
Cover Novel Oeroeg
“Tidak bisa kubayangkan seberapa sepi masa kanak-kanakku bila Oeroeg tak ada. Biarpun ayahku administratur perkebunan dan Oeroeg hanya anak mandor, kami selalu bermain bersama. Namun ketika kami beranjak besar, Oeroeg mulai menjaga jarak dariku, karena aku orang Eropa dan ia hanyalah inlander….”
Itulah kenangan bahagia masa kecil tokoh “aku” tatkala sehari-hari keluyuran bersama temannya yang bernama Oeroeg. Novel berlatar Sukabumi zaman kolonial karya penulis roman Belanda, Hella S Haasse, tersebut diterbitkan pertama kali pada 1948 dalam bahasa Belanda. Tahun ini, buku tersebut dicetak kembali oleh Gramedia dengan kemasan sampul berbeda dan dialihbahasakan ke bahasa Indonesia.
Helena, sang penulis, lahir di Batavia (sekarang Jakarta) pada 2 Februari 1918. Ibunya adalah seorang pianis bernama Katherina Diehm-Winzenhohler dan ayahnya seorang inspektur keuangan pemerintahan kolonial Belanda bernama Willem Hendrik Haasse. Lewat pekerjaan ayahnya, kehidupan di Indonesia pernah dirasakan Hella.
Oeroeg, novel berisi 144 halaman, bercerita tentang persahabatan dua anak lelaki yang berbeda strata sosial di zaman kolonial. Ceritanya mengambil latar belakang kehidupan masyarakat di perkebunan Kebon Jati, jauh di pedalaman Pegunungan Priangan, Sukabumi, Jawa Barat. Percakapan mereka sehari-hari dalam bahasa Sunda. Haasse menempatkan dirinya sebagai orang pertama dalam dalam cerita, yakni “aku”.
Dari sampul, kita sudah bisa menangkap bahwa isi novel bakal bercerita tentang soal perbedaan sosial itu. Cover bergambar dua anak lelaki berdiri di bawah deras hujan, yang satu lengkap bersepatu, berambut terang, dan mengenakan payung. Sedangkan di sebelahnya bisa dipastikan bahwa itu adalah Oeroeg, anak inlander yang bertelanjang dada dan kaki, berambut gelap, serta berlindung di bawah daun pisang. Di halaman enam novel tersebut, perbedaan sudah dihadirkan. Disebutkan bahwa Oeroeg adalah anak inlander, pribumi. Walau demikian, mungkin di awal cerita kamu akan dibuat penasaran dengan gender sebenarnya dari si aku tersebut hingga nantinya kamu mendapatkan titik temu.
Lalu jurang sosial itu semakin diruncingkan Haasse antara pekerjaan ayah si aku dengan ayah Oeroeg, antara tuan dan mandor. Haasse pun mengisahkan bahwa Oeroeg bisa ber sekolah tinggi hingga MULO, sistem pendidikan kolonial setara dengan SMA, atas balasan terhadap jasa ayah Oeroeg yang meninggal karena menyelamatkan anak seorang tuan Belanda.
Cerita ini, yang berisi kisah berdasarkan kejadian-kejadian nyata yang diolah, bukanlah sekadar pernyataan; ini, dalam bentuk penggambaran, suatu pernyataan kerinduan dan cinta kasih terhadap negeri tempat si “aku” dilahirkan dan dibesarkan, dan di belakang-nya, di bawahnya, untuk memecahkan teka-teki kerinduan terhadap separuh sisi gelap diri si “aku” yang berada di bawah bayang-bayang, yang tak dikenal.
Cerita ini dibangun sebagian besar berdasarkan kesan dan pengalaman masa remaja penulis, meski penulis sendiri tak pernah mengenal anak muda Belanda atau Indonesia seperti mereka, dan tidak pernah berada dalam situasi-situasi yang disamakan dengan cerita ini.
Oerog adalah laporan pencarian jejak masa lalu; si aku, laki-laki muda berkebangsaan Belanda pada tahun 1947 mengenang kembali masa remajanya di Indonesia dan persahabatan masa remajanya dengan anak laki-laki sebaya.***

buku-tentang-ahmad-dahlanKehidupan KH Ahmad Dahlan merupakan realitas yang dilaluinya dengan keras. Setelah digambarkan dalam film, kemudian dinovelisasi pula, tampaklah warna dari kehidupan dan perjalanan perjuangannya. Di tengah ide pembaruan yang diusungnya, banyak sekali tantangan yang diterima, yang mengakibatkannya harus bertungkus-lumus dan berjibaku dengan lingkungan. Kehidupan Ahmad Dahlan muda sebenarnya tak beda dengan anak kecil dan remaja biasa. Di masa kecil, dia bernama Darwis dan melewati masa kecil serta remaja dengan teman-temannya secara normal. Yang agak tak biasa pada diri Ahmad Dahlan muda adalah daya kritisnya pada keadaan dan umat Islam.
Kekritisan Darwis misalnya tampak saat ia mengikuti acara40 hari kematian tetangganya. Saat permisi buang air kecil, Darwis secara tak sengaja mendengarkan percakapan tentang tuan rumah yang harus mengutang demi menggelar acara peringatan 40 hari yang sudah terkesan ‘’wajib’’ dilakukan di sekitar Kampung Kauman, Jogjakarta itu. Dia merasa heran, kenapa orang yang sudah susah dengan kematian keluarga, harus dibebani dengan utang pula. Kekritisannya berjanjut ketika di masjid terdapat adanya tempat khusus untuk Sultan, yang ditinggikan dari jamaah yang lainnya. Dia mempertanyakan kepada ayahnya, kenapa Sultan memiliki tempat khusus, padahal dalam pelajaran yang diterimanya, manusia itu sama, hanya takwanya yang menentukan beda dengan sesama muslim.
Pertanyaan kritis ini dijawab ayahnya dengan bijak. Namun tetap saja Darwis ingin mendapatkan jawaban yang lebih konkret. Dia terus bertanya dan mencari jawaban alternatif. Kekritisannya, sikap bedanya dengan kebanyakan orang, serta pendiriannya yang kukuh membawa Darwis pada situasi yang sulit. Dia mulai tak diterima lingkungannya yang paternalistik. Semakin lama, jiwanya semakin tak nyaman dengan kondisi ini.
Namun sebaliknya, lingkungan tak dapat menerimanya. Para kyai memusuhinya, bahkan ada yang mencapnya sebagai kafir. Sampai kemudian dia harus ‘’mengungsi’’ ke Timur Tengah, bertemu dengan pembaru se-macam Muhammad Rasyid Rida. Tentu saja ini mengukuhkan pendiriannya hingga ketika pulang ke tanah air, dia mendirikan mendirikan organisasi keagamaan tertua bernama Muhammadiyah. Salah satu visi Ahmad Dahlan adalah memurnikan kembali ajaran Islam, sama dengan beberapa pembaru semacam Jamaluddin Al-Afgani dan Rasyid Ridha.
Novelisasi dari kehidupan KH Ahmad Dahlan dan perjuangannya mendirikan Muhammadiyah tertutur dengan bahasa yang lugas mudah dimengerti. Ahmad Dahlan merupakan sosok anak muda pendobrak tradisi yang tak lain berniat agar islam kembali menjadi rahmat bagi semesta alam ini. Bukan islam yang menyulitkan pemeluknya sendiri. Dalam novel ini, sang penulis Akmal Nasery Basral yang juga merupakan penulis Imperia dan Nagabonar 2 mengaku hanya menceritakan kehidupan Ahmad Dahlan di masa mudanya saja. Ia yang juga pernah merasakan sekolah di Muhammadiyah mendapatkan cerita berdasarkan skenario dari Hanung dan melanjutkannya dengan meriset buku-buku ilmiah.
Selain berbentuk novel, kisah Ahmad Dahlan memang sudah lebih dahulu difilmkan dengan judul yang sama, Sang Pencerah. Novel ini termasuk ringan, dan mudah dipahami pembaca remaja. Kaum remaja muslim seharusnya dapat menjadikan sosok KH Ahmad Dahlan sebagai salah satu figur yang revolusioner dan berjiwa berani. Novel ini cocok sebagai novel penggugah semangat dan menginspirasi. Dalam bentuk filmnya, karya ini tak kalah hebatnya dan kini sedang tayang di bioskop.***

Diberdayakan oleh Blogger.