• Vestibulum quis diam velit, vitae euismod ipsum

    Etiam tincidunt lobortis massa et tincidunt. Vivamus commodo feugiat turpis, in pulvinar felis elementum vel. Vivamus mollis tempus odio, ac imperdiet enim adipiscing non. Nunc iaculis sapien at felis posuere at posuere massa pellentesque. Suspendisse a viverra tellus. Nam ut arcu et leo rutrum porttitor. Integer ut nulla eu magna adipiscing ornare. Vestibulum quis diam velit, vitae euismod ipsum? Quisque ...

  • Aliquam vel dolor vitae dui tempor sollicitudin

    Proin ac leo eget nibh interdum egestas? Aliquam vel dolor vitae dui tempor sollicitudin! Integer sollicitudin, justo non posuere condimentum, mauris libero imperdiet urna, a porttitor metus lorem ac arcu. Curabitur sem nulla, rutrum ut elementum at, malesuada quis nisl. Suspendisse potenti. In rhoncus ipsum convallis mauris adipiscing aliquam. Etiam quis dolor sed orci vestibulum venenatis auctor non ligula. Nulla ...

  • Nam ullamcorper iaculis erat eget suscipit.

    Etiam ultrices felis sed ante tincidunt pharetra. Morbi sit amet orci at lorem tincidunt viverra. Donec varius posuere leo et iaculis. Pellentesque ultricies, ante at dignissim rutrum, nisi enim tempor leo, id iaculis sapien risus quis neque. Ut sed mauris sit amet eros tincidunt adipiscing eu vitae lectus. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos ...

Twitter

Tampilkan postingan dengan label Chemistry. Tampilkan semua postingan


Polusi Karbon Dioksida yang Dihasilkan dari Sebuah Pabrik
Tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan bahan bakar fosil yang semakin tinggi dekade ini telah membawa beberapa dampak yang cukup buruk bagi lingkungan global, seperti terjadinya pemanasan global.
Penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan berbagai produk olahannya, gas alam, dan batubara yang sebagian besar terdiri atas senyawa hidrokarbon (suatu kelompok senyawa kimia yang terdiri atas unsur karbon dan hidrogen) menghasilkan polusi karbon dioksida yang semakin tidak terkontrol. Gas karbon dioksida merupakan penyumbang utama gas rumah kaca yang menyebabkan terjadinya pemanasan global di bumi ini. Selain membawa dampak buruk karena menyebabkan polusi karbon dioksida, bahan bakar fosil merupakan sumber energi yang tidak dapat diperbarui dan akan segera habis dalam waktu dekat.
Untuk menjawab tantangan itulah,  S. Tajammul Hussain dan M. Hasib-ur-Rahman, dua orang peneliti dari Quaid-i-Azam University, Islamabad, Pakistan telah berhasil menemukan suatu formula nanokatalis yang mampu mengkonversi karbon dioksida dan uap air menjadi senyawa hidrokarbon, yaitu etanol dan propuna. Seperti pada hasil studi mereka yang telah dipublikasikan pada Journal of Nano System & Technology, kedua peneliti tersebut telah berhasil mengkonversi campuran gas karbon dioksida dan uap air menjadi metanol dan propuna dengan menggunakan nanokatalis dari paduan metal rutenium (Ru), mangaan (Mn), dan nikel (Ni) yang dialiasikan ke dalam katalis pendukung titanium (IV) oksida. Pengertian nanokatalis itu sendiri adalah suatu zat kimia yang mampu mempercepat proses terjadinya reaksi tanpa ikut bereaksi dengan ukuran sepermiliar meter, suatu ukuran yang amat kecil.
Penemuan mutakhir ini cukup fenomenal mengingat para ilmuwan di seluruh dunia tengah mencari metode alternatif untuk mensintesis hidrokarbon rantai panjang dari sumber hidrokarbon rantai pendek atau tunggal seperti halnya karbon dioksida. Sintesis konversi ini memang belum dapat dikatakan ekonomis dikarenakan persentase konversi tertinggi dicapai pada suhu 450°C dengan hasil 36% etanol dan 41% propuna. Mekanisme konversi ini pun terbilang cukup rumit karena seluruh spesi logam dalam nanokatalis tersebut memiliki peranan tersendiri dalam reaksi konversi ini.
Hasil konversi yang didapat memang bukan merupakan hidrokarbon rantai panjang seperti yang terdapat pada bensin, tetapi riset ini merupakan langkah awal yang baik untuk menemukan metode terbaru mengubah polusi karbon dioksida menjadi sumber energi hidrokarbon. Meskipun hasil penelitian ini terbilang kurang ekonomis untuk diproyeksikan pada skala besar, namun sangat diharapkan penelitian-penelitian selanjutnya dapat diaplikasikan secara global untuk menjawab dua tantangan besar berikut: mengurangi jumlah polutan karbon dioksida agar dampak pemanasan global berkurang dan mensintesis kembali sumber energi utama manusia saat ini, yaitu hidrokarbon.
Sumber :
Hussain, S. Tajammul & M. Hasib-ur-Rahman. 2009. Nano Catalyst for CO2 Conversion to Hydrocarbon. Journal of Nano System & Technology Vol.1 No.1 JNST.2009.004.
Ghifari, Abi Sofyan. 2010. Konversi Carb Gas Menjadi Etanol dan Propuna Menggunakan Nanokatalis Trimetalik Berbasis Logam Ru:Mn:Ni/TiO2. Olimpiade Sains Nasional Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (OSN-PTI) 2010.
Sumber gambar : http://www.balioutbound.com/wp-content/uploads/2007/11/gw.jpg


edwardcullenVampir kini kembali ngetren akibat film Twilight. Tahukah anda bahwa suatu penyakit genetik yang disebut porphyria boleh jadi merupakan pemicu munculnya mitos vampir? Porphyria adalah suatu kelainan berupa gangguan pada jalur pembentukan heme, suatu komponen dari hemoglobin yang berperan mengangkut oksigen dalam darah.
Anemia
Kebanyakan individu ini mengidap anemia karena mengalami gangguan sintesis heme (komponen pembentuk hemoglobin). Penyakit ini disebabkan oleh adanya ketidaksempurnaan dalam jalur pembentukan enzim dari glisin menjadi porfirin, menyebabkan over produksi porfirin yang dapat terkumpul di kulit, cairan tubuh, atau feses. Bentuk yang paling umum dari penyakit tersebut adalah acute intermittent porphyria. Kebanyakan individu yang terserang biasanya heterozigot dan biasanya tidak menimbulkan gejala spesifik karena satu single copy dari gen normal mampu menyediakan mekanisme biosintesis yang cukup untuk produksi enzim secara normal.
Istilah porphyria ini diambil dari bahasa Yunani, porphura yang berarti pigmen ungu, disebut demikian karena warna ungu yang muncul pada cairan tubuh pasien ketika terserang. Selain dapat diturunkan secara genetik, penyakit ini bisa dipicu oleh faktor lain seperti penggunaan obat-obatan tertentu, alkohol, kontrasepsi hormon, dan sebagainya. Pada kondisi lingkungan tertentu dan asupan nutrisi tertentu dapat terbentuk δ-aminolevulinate dan porphobilinogen yang menyebabkan gangguan abdominal akut dan disfungsi saraf.
Salah satu bentuk kelainan porphyria adalah dapat membuat kulit menjadi sensitif terhadap sinar matahari, membuatnya rapuh dan mudah rusak. Karakteristik ini dimanfaatkan dalam penelitian pengobatan kanker dimana suatu obat yang diturunkan dari porphyrin disisipkan ke sel kanker, kemudian dipaparkan ke sinar, sehingga membuat melanoma kanker terbakar habis. Bentuk porphyria lain yang jarang terjadi, akan menghasilkan akumulasi uroporphyrinogen I, suatu isomer dari prekursor protoporphyrin. Zat ini menyebabkan urine berwarna merah, membuat gigi sangat mengkilat jika terkena sinar ultraviolet, dan membuat kulit abnormal jika terkena sinar matahari.
Vampir dan Porphyria
Boleh jadi kondisi genetik seperti inilah yang mengawali adanya mitos tentang vampir. Seseorang yang terkena penyakit ini, membutuhkan banyak darah karena dia mengidap anemia dan dia menghisap darah orang lain di malam hari karena pada siang hari kulitnya mungkin bisa melepuh apabila terkena sinar matahari.
Pada Januari 1964, makalah yang membahas porphyria dan etiologi manusia serigala diterbitkan di Proceedings of the Royal Society of Medicine. Lebih lanjut, pada tahun 1985, David Dolphin memublikasikan makalahnya yang berjudul “Porphyria, Vampires and Werewolves : The Aetiology of European Metamorphosis Legends”, yang kemudian menuai beragam kontroversi.
Antara lain karena meski penderita porphyria mendapat terapi injeksi heme, bagaimanapun darah yang diminum (seperti yang dilakukan oleh vampir) akan masuk ke sistem pencernaan dan diuraikan. Polemik lain berkembang yakni pada aspek-aspek seperti sensitifitas terhadap cahaya, dan alergi bawang putih yang ditengarai merupakan bagian-bagian yang ditambahkan oleh industri film pada legenda vampir itu sendiri.
Bagaimana pendapat Anda?????


 Pak Johanis Mawuntu, seorang sahabat saya adalah seorang Pensiunan Pertamina Perkapalan yang sangat konsen dengan LPG. Beliau sebelumnya pernah mendongeng juga tentang BBM disini. Nah sekarang beliau ingin berbagi ilmu tentang LPG yang sering meledak.
Tahukah anda bahwa gas LPG itu meledakhanya pada konsentrasi tertentu?
Pak Johanis bercerita begini. Menurut beliau gas yang dijual belikan itu harus memenuhi standar tertantu sesuai dengan Keputusan Dirjen Miga No.25 K/36/DDJM/1990 tanggal 14 Mei 1990, Gas Elpiji yang dipasarkan di Indonesia adalah gas campuran yang terdiri dari Gas Propane dan Gas Butane yang perbandingan campurannya adalah Propan 30% dan butane 70%.
Sesuai Keputusan Dirjen Migas No. 25 K/36/DDJM/1990 tanggal 14 Mei 1990 ini juga menyebutkan bahwa Spesifikasi Bahan Bakar Gas Elpiji untuk Keperluan Dalam Negeri adalah Spesifikasi LPG Propane (C3) dan Spesifikasi LPG Butane (C4) menggunakan standar ASTM (American Standard Testing Method).
Campuran atau paduan dari 2 jenis gas inilah yang dinamakan “ELPIJI” yang sekarang tersebar luas di masyrakat untuk kepentingan dapur, industri dan transportasi. Gas Elpiji termasuk yang dapat cair pada tekanan dan suhu rendah. Namun jenis gas ini mempunyai sifat dan kelakuan yang sangat berbahaya karena mudah terbakar dan mudah meledak, tidak beracun tapi jika terhirup lebih dari 1.000 ppm atau 0.1% (100%=1.000.000 ppm) akan menyebabkan mengantuk, mimpi kemudian meninggal.
Kelakuan dan sifat dari Elpiji adalah:
  • Elpji agar terbakar atau meledak harus terdapat/memenuhi 3 unsur yaitu:
  • Hydrocarbon (BBM atau BBG)
  • Oxigen (Terdapat dalam udara yang kita hirup untuk bernafas)
  • Panas (Korek api, pematik, loncatan bunga api, elektrik statis dll.)
Ketiga unsur ini yang disebut: Segitiga Api.
Tidak begitu menguntungkan bagi Elpiji karena pada campuran tertentu akan menyebabkan ledakan yaitu pada konsentrasi gas 1.8% s/d 10% di udara terbuka atau tertutup. Pada konsentrai gas Elpiji 0% s/d 1.8% di udara tidak akan terbakar atau meledak karena terlalu miskin hidrokarbon. Pada konsentrasi gas 10% s/d 100% di udara juga tidak bisa terbakar karena terlalu kaya hidrokarbon.
Untuk menghindari terjadinya bahaya dari segitiga api caranya adalah dengan menghilangkan salah satu unsur tersebut pada keperluan berbeda.
KEBOCORAN GAS
Pada peralatan baik itu dapur rumahtangga, industri ataupun transportasi rentan terjadi kebocoran karena Tabung Gas adalah merupakan Bejana Bertekanan. Tekanan Gas Elpiji termasuk rendah pada suhu ruangan biasa. Menurut Undang Undang Uap (Stoom Ordonnantie) 1930 yang masih berlaku sampai sekarang dan belum pernah direvisi, pasal 1; ayat 1, bahwa: Bejana atau tabung yang bertekanan > 1 Atmosfir (atm) harus mendapat injin dan pengawasan oleh Negara/Pemerintah.
Pada kesempatan mendongeng kali ini Pak Johanis hanya membahas kebocoran gas Elpiji pada penggunaan di dapur rumah tangga. Ya karena ini sedang sering terjadi. Kebocoran Gas Elpiji dapat terjadi melalui sambungan selang yang tidak kedap atau selangnya sendiri yang berpori pori sehingga dapat ditembusi oleh gas karena mutu selang yang tidak memadai, melalui katup/klep dari tabung itu sendiri yang tidak pas terhadap dudukannya atau bisa juga seperti yang pernah penulis dapati saat memasak makanan yang kuahnya dapat meluap, terjadi luapan sehingga mematikan api di kompor. Hal ini menyebabkan gas menyembur terus tanpa diawasi sehingga gas memenuhi ruangan dapur.
Kebocoran lainnya karena regulator ditancapkan ke tabung dengan sistim klip on dimana karena konstruksi sangat sederhana (sudah SNI) sehingga kurang kokoh dan tidak mencekam dengan baik sehingga rentan terjadi kebocoran, ditambah lagi dengan mutu dari karet yang kurang baik.
Jika terjadi kebocoran gas Elpiji didapur akan menjadi sangat berbahaya karena hal yang tidak menguntungkan bahwa Gas Elpiji lebih berat dari udara, jika udara 1 per satuan berat maka Gas Elpiji adalah 2 per satuan berat. Konsentrasi Gas ELPIJI akan sangat berbahaya utamanya jika tidak ada peranginan yang menghembusnya keudara luar. Gas Elpiji ini akan merambat dilantai karena lebih berat dari udara, sehingga kadang kala tidak terhembus oleh angin atau exhaust fan atau tidak terhisap oleh cerobong di atas tungku dapur.
Kebocoran gas Elpiji yang merambat di lantai kadangkala belum tercium orang yang sedang berdiri sehingga, setelah tercium berarti gas yang ada sudah setinggi hidung orang yang menciumnya. Volume Gas bisa aja tanpa diduga telah terakumulasi dan berada pada campuran yang dapat meledak. Campuran gas Elpiji terhadap udara sampai dengan 1.8% walaupun tersulut atau dibakar dengan pematik api tidak akan terjadi ledakan atau menyala.
Tetapi pada kandungan gas diantara 1.8% — 10% akan meledak sangat dahsyat jika ada sumber api atau dari elektrik statis. Pada kandungan Elpiji > 10% hanya akan menyala saja.(lihat segitiga ledak dan segitiga nyala). Ledakan Elpiji pada kandungan 1.8% —- 10% termasuk kategori sempurna sehingga sangat dahsyat daya hancurnya berlangsung secara berantai, kekuatannya tergantung dari jumlah campuran yang meledak.
Pada saat meledak seluruh oksigen yang ada didaerah itu akan terpakai habis dan menjadi hampa udara, sehingga jika ada orang didaerah sekitarnya disamping mendapat luka bakar juga akan kesulitan bernafas. Bangunan sekitarnya akan porak poranda dilanda oleh udara yang bolak balik. Elpiji yang meledak pada kandungan 1.8% s/d 10% ini hakekatnya tidak diikuti oleh kebakaran. Kalau disusul oleh kebakaran berarti kandungan gas sudah > 10% menyala saja (flammable) bukan ledakan.
TABUNG GAS
Gas Elpiji kemudian dikemas dalam bentuk Tabung 3,6 Kg, 12Kg dan 50kg, isi tabung terdiri dari bentuk Elpiji cair dan Elpiji gas jenuh. Tekanan dalam Tabung Elpiji berubah ubah seiring dengan perobahan suhu di sekelilingnya. (hokum:boyle – gay lussac). Kemasan ini memungkinkan penyebaran ke seluruh pelosok Nusantara, karena distribusi dan transportasi menjadi mudah.
Tabung gas Elpiji berapapun ukurannya tidak boleh diisi penuh, batas amannya adalah 80% dan juga tidak boleh kosong samasekali karena tabung Elpiji berisi gas Elpiji dan cairan Elpiji yang bertekanan pada isi (volume) yang tetap, sehingga yang berubah (variable) adalah suhu (temperature) dan tekanan (Pressure). Artinya gas Elpiji dapat di pampatkan sedangkan cairannya tidak, Sehingga jika terisi penuh maka dengan sedikit kenaikan suhu tabung Elpiji dapat pecah. Jika pecah maka cairan Elpiji tersembur keluar dan dengan cepat menjadi gas yang akan meledak jika bercampur dengan udara dan terpicu oleh loncatan bunga api atau elektik statis.
Tabung Elpiji tidak boleh kosong samasekali karena secara teoritis dapat meledak sendiri. Walaupun peristiwa ledakan yang sesuai teori ini kemungkinannya satu kali diantara sejuta, tapi kan pemakainya puluhan juta. (Penjelasannya memerlukan analisa yang panjang).
Tabung Elpiji yang sedang terisi cairan dan gas tidak mungkin meledak karena gas elpijinya dalam keadaan jenuh. Kalaupun tekanannya terlalu tinggi melewati ambang batas maka tabung hanya menjadi pecah. Bahaya akan timbul jika gas muncrat keluar tidak ditanggulangi dengan benar.
Bejana atau tabung seperti kapal-kapal tanker atau mobil-mobil tangki sampai dengan tabung-tabung yang ukuran kecil dapat meledak sendiri, karena sesuai dengan teori segitiga ledak yang kami paparkan diatas. Teori ini berlaku bagi bejana atau tabung yang dalam keadaan kosong karena dapat mengandung unsur-unsur yang dapat mengakibatkan ledakan yaitu ada campuran gas (hidrokarbon) dan udara(oksigin) serta ada pemicunya(elektrik statis).
Jika ketiga unsur dari segitiga ledak terpenuhi maka akan terjadi ledakan, namun ledakan Tabung 3kg tidak seperti bom atau granat karena disamping isi (volume)sedikit juga tabung yang dikonstruksi bentuk silinder sangat kuat karena gaya dorongnya saling menghilangkan(baca ilmu gaya). Paling-paling yang kalah dan mental tercabut duluan adalah katup keamanannya termasuk rumah katup. (harus diingat bahwa tabung akan meledak pada saat kosong artinya tabung pernah bertekanan dibawah tekanan 1 atm sehingga volume campuran yang meledak sangat sedikit, tekanan tabung sesungguhnya pada ambient temperature k.l. 6 kg/cm2 Atm mutlak = ata).


 Tahun 1986, Dr. Rex. E. Newham dari Leeds, Inggris, berhasil membuktikan bahwa mineral boron sangat membantu dalam perawatan atau pencegahan penyakit arthritis dan osteoporosis yang sering diderita terutama oleh wanita menopause. Boron secara dramatis mampu menggenjot konsentrasi hormon estrogen dalam darah dan diduga memiliki peran yang penting bagi pemanfaatan energi dan perkembangan.
Boron dalam kimia dinyatakan dengan simbol B3+, ternyata tidak hanya diperlukan bagi tumbuhan, khususnya kelapa sawit, tetapi juga diduga kuat esensial bagi hewan dan manusia. Boron merupakan mineral nutrient mikro yang sangat dibutuhkan tubuh terutama untuk proses metabolisme dan salah satu mineral nutrisional untuk membantu memperbaiki status mineral tulang dan mengurangi resiko osteoporosis. Di dalam tubuh, boron bekerja meniru kerja hormone estrogen, yakni menyerap dan menyimpan kalsium supaya kondisi tulang tetap terjaga baik.
Boron yang dianjurkan bagi orang dewasa sekitar 0.5 sampai 2 mg/hari. Konsumsi suplemen boron sangat tidak dianjurkan karena belum ada penelitian resmi mengenai toksisitas atau efek lain akibat konsumsi boron dalam dosis tinggi. Meskipun demikian, dosis boron hingga 10-15 mg per hari masih digunakan untuk pengobatan.
Bila dalam tubuh terjadi defisiensi boron maka akan terjadi peningkatan kebutuhan terhadap kalsium, fosfor, dan magnesium dan sebaliknya terjadi penurunan kebutuhan tembaga. Boron diduga memiliki hubungan kuat dengan metabolisme vitamin D, hasil penelitian telah membuktikan bahwa hewan percobaan yang diberi makanan tanpa boron, mengalami kehilangan kalsium total yang tinggi, serta gangguan glukosa, lemak, insulin, dan penurunan perkembangan tulang.
Sumber-sumber pangan utama yang banyak mengandung boron adalah kacang-kacangan terutama kedelai dan hasil olahannya, tempe, tahu, dan oncom. Buah-buahan seperti apel, menurut penelitian US Apple Association pada tahun 1992, diberitakan bahwa apel mengandung boron yang membantu tubuh wanita mempertahankan kadar estrogen pada saat menopause. Buah-buahan lainnya seperti pir, anggur, peach, kismis, kurma dan madu merupakan sumber boron.
Kesehatan Tulang
Menurut Prof Dr Made Astawan, Ahli Teknologi Pangan dan Gizi IPB, mekanisme boron dalam memelihara kesehatan tulang dan persendian dititikberatkan pada pemeliharaan densitas tulang dan integritas serta kekuatan kartilago, ligamen, dan tendon. Pemeliharaan tersebut dilakukan dengan menjaga ikatan silang antara materi anorganik (mineral) dan materi organik (protein) dalam matriks tulang.
Mekanisme pemeliharaan ini juga menyangkut peran boron sebagai regulator dari berbagai hormon. Hormon pertama yang diregulasi adalah 1,25-dihidroksi-vitamin D-3, yaitu bentuk hormonal dari vitamin D. Hormon yang kedua adalah testosteron.
Boron dapat menurunkan ekskresi atau pengeluaran kalsium dan diperlukan untuk metabolisme kalsium, fosfor, dan magnesium Fungsi boron tersebut dinilai sinergis dengan fungsi vitamin D. Boron diindikasikan memiliki interaksi spesifik dengan vitamin D dalam memperkuat struktur tulang.
Menurut Hunt, 1996, bukti mengenai pentingnya kecukupan boron adalah percepatan gejala arthritis pada populasi yang asupan boronnya rendah atau tinggal di area tanah dengan kandungan boron rendah. Jumlah penderitaan arthritis pada populasi dengan konsumsi boron yang cukup dan rendah, masing-masing, adalah 3 persen dan 20 persen.
Peran boron dalam mengurangi kesetimbangan kalsium negatif adalah dengan meningkatkan retensi kalsium dalam tubuh, terutama pada pusat-pusat kalsium yaitu tulang dan jaringan ikat. Peningkatan retensi dalam jangka panjang dapat mencegah penyakit degradasi densitas tulang (osteoporosis).
Suatu penelitian telah membuktikan bahwa konsumsi boron dan kalsium secara teratur selama beberapa minggu menyebabkan 67-75 persen penderita dapat berhenti mengonsumsi obat pereda rasa sakit. Hal ini membuktikan bahwa boron dan kalsium dapat mengurangi kecepatan degradasi tulang dan jaringan ikat persendian. Mekanisme yang terjadi adalah penghambatan aktivitas enzim kolagenase, yaitu enzim yang mampu mendegradasi jaringan kolagen, terutama jaringan ikat. Degradasi terhadap jaringan kolagen juga dapat menyebabkan pengeriputan dan penuaan dini.
Fungsi Reproduksi
Kesehatan reproduksi pria ditunjang oleh hormon utamanya, yaitu testosteron, sedangkan pada wanita ditunjang oleh hormon estradiol. Selain kedua hormon tersebut, terdapat juga hormon dehidroepiandrosteron (DHEA). Dalam suatu penelitian, kadar hormon-hormon reproduksi tersebut diukur dalam darah para relawan, sebelum dan setelah mengonsumsi sejumlah boron dalam waktu tertentu. Hasil yang diperoleh setelah 60 hari konsumsi boron dalam jumlah cukup adalah adanya kenaikan kadar hormon reproduksi dalam darah. Hormon DHEA meningkat sebesar 56 persen, sedangkan hormon testosteron meningkat sebesar 29,5 persen.
Mekanisme peningkatan hormon reproduksi yang terjadi adalah melalui interaksi homeostasis kalsium dan boron dalam bentuk kalsium-frukto-borat. Homeostasis terjadi dalam kondisi tubuh cukup boron. Boron berperan dalam menghambat enzim penghancur hormon-hormon reproduksi sehingga kadar hormon-hormon tersebut tetap tinggi di dalam darah. Mekanisme lainnya adalah melalui pelepasan hormon reproduksi dari Sex Hormone Binding Protein (SHBP) atau protein pengikat hormon reproduksi.
SHBP merupakan protein pembawa hormon reproduksi dalam darah. Namun, apabila dalam keadaan terikat, hormon tersebut menjadi inaktif sehingga menghambat siklus pematangan sel-sel reproduksi. Bebasnya testosteron (tidak terikat) dalam darah mendukung pencegahan penyakit-penyakit kerapuhan tulang, seperti osteoarthritis dan osteoporosis, karena testosteron dapat meningkatkan retensi kalsium tubuh.

Peradangan

Boron juga telah terbukti memiliki aktivitas anti-inflamasi. Aktivitasnya sangat signifikan, terutama untuk pencegahan penyakit inflamatori seperti rheumatoid arthritis, dan asma. Boron dapat menghambat kerja enzim yang langsung berhubungan dengan peradangan (inflamasi).
Inflamasi sebenarnya merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan tubuh melawan bakteri atau sebab lainnya, terutama di sekitar luka atau infeksi. Mekanisme anti-inflamasi yang dilakukan oleh boron adalah menghambat serangan oksidasi dan mendukung fungsi leukosit dan neutrofil (bagian dari sel darah putih) dalam menginaktivasi zat-zat yang tidak diinginkan (umumnya berasal dari makanan) yang memiliki potensi oksidasi (Hunt, 2000).
Boron juga memiliki fungsi antioksidasi secara tidak langsung dengan meningkatkan produksi enzim-enzim antioksidasi dalam darah dan dalam sel. Enzim-enzim tersebut adalah superoksida dismutase (SOD), kalatase, dan glutathione peroksidase. Ketiga enzim tersebut merupakan enzim pertahanan tubuh alami untuk melawan radikal-radikal bebas.

Diberdayakan oleh Blogger.