Tampilkan postingan dengan label Philosophy. Tampilkan semua postingan
Setelah sistem pendidikan melemah pada beberapa generasi setelah Adam, manusia menjadi bingung akan eksistensinya. Sebagai makhluk, manusia mengakui segala kelemahannya. Di balik kekuatan pikirannya yang luar biasa, manusia hanyalah seonggok daging yang tak berdaya menghadapi kekuatan alam. Oleh sebab itu, rasa ketuhanan mereka menghadirkan kekuatan dari luar yang dianggapnya bisa membentengi mereka dari kekuatan alam. Generasi-generasi awal manusia melihat kekerdilan dirinya ketika mereka berada di dekat objek-objek alam yang tak lazim, misalnya pohon-pohon besar, bebatuan raksasa, gunung-gunung, dan sebagainya. Akhirnya mereka meyakini bahwa di balik objek-objek tersebut, tersimpan kekuatan yang dianggap mampu menolongnya dari segala marabahaya. Itulah asal-mula munculnya animisme dan dinamisme.
Kosmologi Primitif
Setelah peradaban manusia semakin maju, pandangan manusia menuju langit. Sejak beribu tahun yang lalu, para pemikir menganggap bahwa bumi dan kehidupan kita adalah pusat aktivitas alam raya. Pandangan ini disebut Geosentrisme.
Manusia dianugerahi pikiran dengan berbagai kemampuannya untuk menalarkan segala sesuatu. Indera manusia menginformasikan segala hal yang pernah dilihat, didengar, dan dirasa, lalu dikirim ke otak, sehingga pikiran mengolahnya menjadi apa yang disebut ‘penjelasan’. Pada zaman permulaan, belum ada peralatan canggih untuk membantu penginderaan ke langit, misalnya teropong atau teleskop. Oleh sebab itu, terjadi kepicikan pemikiran yang menganggap bahwa bumi dan segala kehidupannya adalah pusat semesta. Ketika itu, mereka justru kesulitan apabila harus berpikir bahwa bumi bergerak dan mengelilingi matahari. Maka spekulasi bahwa bumi diam mutlak dan menjadi pusat pergerakan bulan, bintang-bintang, planet-planet, dan matahari adalah keniscayaan. Spekulasi ini pertama kali diluncurkan Aristoteles sekitar 300 tahun sebelum masehi. Pada abad 2, Claudius Ptolemeus, menyempurnakannya sehingga menjadi teori utuh yang memiliki sistem matematis.
Sekitar abad 16, alat bantu penginderaan jauh baru berkembang di Eropa. Salah satu perancangnya yang paling terkemuka adalah Galileo Galilei dari Pisa, Italia. Dengan teropong buatannya, Galileo menyelidiki keadaan langit. Ternyata kegiatan tersebut membongkar kebobrokan filsafat Aristotelian. Banyak spekulasi yang tidak sesuai dengan pengamatan beliau, termasuk Geosentrisme. Pengamatan beliau justru mendukung Heliosentrisme, yang dianggap mustahil pada masa itu.
Heliosentrisme pertama kali diluncurkan Aristarchus, rival intelektual Aristoteles dalam bidang astronomi. Pada abad 14, Heliosentrisme dikembangkan oleh Ibnu Al-Shatir dari Damaskus. Teori ini dikenal luas ketika Nicholas Copernicus menuliskannya dalam De Revolutionibus Orbium Caelestium (Tentang Revolusi Benda-benda Langit) pada tahun 1543. Beberapa dekade kemudian, Johannes Kepler menyempurnakan sistem Copernicus dengan orbit yang berbentuk elips. Di tangan mereka, orientasi semesta sedikit berpindah, yakni dari bumi ke matahari.
Kosmologi Abad 20
Pada abad 20, para peneliti di Amerika dan Eropa membuat teleskop antariksa, suatu teleskop supercanggih yang dipasang di awang-awang, salah satunya Teleskop Hubble milik Lembaga Antariksa dan Aeronautik Amerika Serikat (NASA). Dengan teleskop itu, para astronom mengamati bahwa di luar tata surya kita terdapat begitu banyak bintang dan galaksi. Heliosentrisme mengharuskan bahwa mereka semua berpusat pada matahari. Namun, pengamatan justru tak memberi sedikit pun bukti yang membenarkan asumsi ini. Matahari sendiri hanyalah sebuah bintang menengah yang merupakan bagian dari sebuah galaksi yang diberi nama Milky Way atau Bimasakti, bersama dengan bermiliar-miliar bintang lainnya. Sekarang para kosmolog meyakini bahwa alam semesta tidak memerlukan pusat lagi.
Pada 1922, Friedmann mengemukakan dua pengandaian yang sangat sederhana, bahwa semesta ini tampak identik ke arah manapun kita memandang, dan bahwa sifat itu akan tetap sama dari manapun kita mengamati. Dari kedua gagasan itu, Friedmann menunjukkan bahwa seharusnya kita tidak mengharapkan bahwa jagat itu statis. Pada 1924, astronom Amerika ternama, Edwin Hubble, menunjukkan bahwa Bimasakti bukanlah satu-satunya galaksi. Sebenarnya banyak sekali galaksi, dan diantara galaksi-galaksi ini terdapat kawasan yang sangat luas, yang merupakan ruang kosong. Untuk membuktikan gambaran ini, ia perlu menentukan jarak ke galaksi-galaksi ini, yang terletak begitu jauh sehingga tampak betul-betul terpaku, tidak seperti bintang-bintang yang dekat. Oleh karena itu, Hubble terpaksa menggunakan metode tidak langsung untuk mengukur jarak-jarak itu. Kecermelangan suatu bintang telah maklum bergantung pada dua faktor, yakni banyaknya cahaya yang dipancarkan (luminositas) dan jaraknya dari mata kita. Oleh karena itu, seandainya variabel luminositas dan kecermelangan diketahui, maka jarak bintang dapat kita hitung.
Dengan variabel-variabel itu, Hubble menghitung jarak galaksi-galaksi dari bumi. Sekarang kita tahu bahwa Bimasakti hanyalah satu dari beberapa ratus miliar galaksi yang dapat dilihat dengan menggunakan teropong modern. Sedangkan setiap galaksi sendiri memiliki beberapa ratus miliar bintang. Galaksi kita sendiri mempunyai garis tengah sekitar 100.000 tahun cahaya. Galaksi ini berputar lambat-lambat, bintang-bintang dalam lengan-lengan spiralnya beredar mengitari pusat galaksi sekali dalam beberapa ratus juta tahun. Matahari hanyalah sebuah bintang kuning biasa dengan ukuran rata-rata dan terletak di dekat pinggir dari salah satu lengannya. Tentulah generasi kita jauh melangkah dibandingkan Aristoteles dan Ptolemius yang menganggap bumi sebagai pusat semesta ataupun Aristarchus, Ibnu Al-Shatir, Copernicus, Kepler, dan Galileo yang menganggap bahwa matahari sebagai pusat semesta.
Semesta Memuai
Para astronom pada 1920-an mulai memeriksa spektrum bintang-bintang dalam galaksi-galaksi lain. Mereka menjumpai sesuatu yang sangat aneh, yakni terdapat perangkat karakter warna-warna yang hilang seperti pada bintang-bintang di Bimasakti. Hampir semuanya bergeser ke arah ujung merah spektrum. Kuantitas pergeserannya sama. Untuk memahami implikasi pergeserannya, terlebih dulu kita harus memahami efek Doppler, yang merupakan pengalaman sehari-hari.
Seperti telah dipahami bahwa cahaya tampak terdiri atas fluktuasi gelombang dalam medan elektromagnetik. Frekuensi cahaya luar biasa tinggi, berkisar dari 4×108 MHz sampai 7×108 MHz atau sekitar empat sampai tujuh ratus triliun gelombang setiap detik. Frekuensi cahaya yang berbeda akan diterima sebagai warna yang berbeda, dimana ujung merah berada pada frekuensi paling rendah dan ujung biru berada pada frekuensi paling tinggi. Bayangkan suatu sumber cahaya dari jarak yang konstan dari mata kita, misalnya bintang, dimana frekuensi yang kita terima akan sama seperti frekuensi ketika ia dipancarkan, karena medan gravitasi galaksi tidak cukup kuat untuk mempengaruhi. Andaikan sumber itu mulai bergerak mendekat ke arah kita, sehingga ketika sumber itu memancarkan gelombang-gelombang berikutnya, waktu yang dibutuhkan olehnya untuk mencapai mata kita akan lebih pendek dari sebelumnya. Jumlah gelombang yang kita terima atau frekuensinya akan lebih tinggi daripada jika ia diam. Fenomena ini akan menghasilkan pergeseran biru (blue shift). Sebaliknya, jika suatu sumber bintang bergerak menjauhi kita, maka spektrumnya akan bergeser ke arah merah (red shift). Hubungan antara frekuensi dan laju gerak sumber disebut sebagai Efek Doppler.
Setelah Hubble membuktikan adanya galaksi lain, ia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengamati spektrum galaksi-galaksi. Kebanyakan orang membayangkan galaksi-galaksi bergerak kian-kemari secara acak.Mereka berharap bisa menjumpai pergeseran merah dan pergeseran biru sama banyak. Namun sangat mengejutkan bahwa kebanyakan galaksi ternyata mengalami pergeseran merah, bahkan hampir semuanya bergerak menjauhi kita. Pada tahun 1929, Hubble mengumumkan pergeseran merah itu berbanding lurus dengan jarak galaksi. Makin jauh ia dari kita, makin cepat ia bergerak menjauh. Ini ditafsirkan sebagai semesta yang mengembang, seperti apa yang diperkirakan Friedmann.
Dalam tahun 1965, dua fisikawan Amerika yang bekerja pada Bell Telephone Laboratories Amerika Serikat, Arno Penzias dan Robert Wilson, menemukan derau gelombang radio dari latar belakang kosmik. Gelombang latar belakang ini dianggap sebagai sisa-sisa ledakan besar di masa lalu, yang menyebabkan pemuaian jagat raya. Penemuan ini dianggap sebagai bukti bahwa semesta ini memuai setelah suatu ledakan mahadahsyat di masa lalu.1
Tujuh Lapis Langit
Segala sesuatu selain Allah adalah alam—termasuk kita sendiri sebagai subjek yang menyadari keberadaan mereka. Di situ ada daratan, lautan, pegunungan, sungai-sungai, danau-danau, hutan belantara, berbagai binatang, berbagai tanaman dan pepohonan yang tercakup dalam sebuah planet bernama ‘Bumi’. Bumi dikelilingi sebuah satelit alami bernama ‘Bulan’. Selain itu, bumi juga memiliki banyak rekan sejawat: Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto dan mungkin ada lagi planet yang belum diketahui, puluhan satelit alami yang mengelilingi mereka, planetoid-planetoid, asteroid-asteroid, komet, meteor, dan debu-debu angkasa. Bumi, bulan, dan mereka semua bersama-sama mengelilingi sebuah bintang sedang dengan sinar yang kekuning-kuningan bernama ‘Matahari’. Ternyata, matahari juga memiliki rekan sejawat yang demikian banyak, mencapai miliaran jumlahnya. Mereka pun bersama-sama mengelilingi sebuah bintang raksasa di pusatnya. Bintang pusat tersebut diperkirakan besarnya 100.000 kali besar matahari. Mereka membentuk suatu sistem berbentuk cakram yang luar biasa menakjubkan bernama ‘Bimasakti’. Tidak cukup sampai di situ, Bimasakti juga punya rekan-rekan sejawat yang demikian banyak. Mereka bersama-sama mengelilingi sebuah bintang super raksasa di pusat kelompok galaksi. Dan sistem itu juga memiliki rekan-rekan sejawat yang juga sangat banyak. Mereka bersama-sama mengelilingi sebuah bintang hiper raksasa di pusat kelompok sistem itu. Dan tak habis sampai di situ, ternyata mereka juga memiliki rekan sejawat yang juga sangat banyak, dan mereka pun mengelilingi sebuah bintang yang secara fisik lebih besar lagi. Dan demikian seterusnya sampai tujuh kali tingkatan. Ini akan menuntut peralatan eksperimen (teleskop) yang lebih kuat lagi di masa-masa yang akan datang.
Demikianlah sistem semesta yang telah dijelaskan Allah dalam ayat: “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. 2:29)”.
Tujuh Lapis Bumi
Hal yang sama akan kita dapatkan kalau kita menilik ke bawah. Fisikawan yang reduksionis meyakini bahwa wujud dan lingkungan kita di Bumi (dan di luar Bumi) tersusun atas unit-unit kecil materi yang disebut partikel elementer. Pada zaman Yunani, Democritus mengklaim bahwa atom adalah partikel elementer yang dimaksud. Misalnya Anda melihat miniatur kastil dari pasir yang dibuat para wisatawan di pinggir pantai Kuta. Apabila Anda memandangnya dari jauh, seolah-olah ia terlihat padat, kokoh, dan tak bercelah. Tapi apabila Anda perhatikan lagi baik-baik dari jarak yang cukup dekat, maka Anda akan mendapati bahwa kastil tersebut tersusun atas butir-butir kecil pasir pantai. Sekarang ambillah satu butir pasir saja. Meskipun kita sudah melihatnya sedekat mungkin, ia tetap terlihat seperti pasir yang kompak, tapi sebetulnya ia pun tersusun atas molekul-molekul yang lebih halus lagi. Molekul-molekul itu juga tersusun atas atom-atom yang jauh lebih halus lagi. Nah, menurut Demokritus, atom adalah penyusun pasir yang paling kecil dan tidak dapat dibagi lagi.
Fisikawan tidak mau percaya begitu saja dengan spekulasi Democritus. Mereka lalu merancang peralatan untuk membantu meramalkan tersusun atas apakah atom-atom itu. Hasilnya diketahui bahwa atom ternyata tersusun atas inti yang dikelilingi elektron-elektron. Sejauh ini elektron disepakati sebagai zarah yang elementer, namun dalam berbagai percobaan, inti ternyata bisa dipecah lagi menjadi hadron-hadron yang disebut proton dan neutron. Dengan peralatan yang lebih canggih lagi, neutron ditembakkan dari sebuah sumber menuju target. Ketika ia menumbuk target, terdeteksilah beberapa partikel yang lain: proton, elektron, neutrino, dan sebagainya.
Kecanggihan teknologi di era modern telah menciptakan peralatan eksperimen yang luar biasa: akselerator berputar atau sinklotron. Pada sepanjang abad 20 dan 21, CERN dan lembaga-lembaga riset lain di Amerika dan Eropa telah membangun alat seperti ini. Hasilnya, atom telah dipecah-pecah menjadi ratusan zarah subatom. Dengan bekal SDM dan dana yang sangat besar, yang di tanggung berbagai negara maju di dunia, CERN membangun sinklotron terbesar di planet. Peralatan paling mutakhir dibangun di perbatasan Swiss dan Perancis adalah sebuah akselerator raksasa sepanjang 27 km bernama Large Hadron Collider (LHC). LHC akan digunakan untuk memburu partikel bernama boson Higgs, yang diduga memberi massa semua partikel. Ia dikatakan sebagai partikel terakhir yang akan menjawab semua problem fisika.2
Beberapa orang (termasuk saya) mungkin meragukannya, apakah boson Higgs benar-benar terakhir? Suatu masa di abad-abad mendatang, kita akan semakin teliti dalam memecah partikel subatom. Kalau kita menilik Alquran, pertanyaan ini akan segera terjawab. Alquran menyatakannya dalam ayat: “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu (QS. 65:12)”.
Alquran secara eksplisit mengemukakan bahwa bumi (materi yang bisa diamati di bumi) tersusun atas tujuh lapis seperti pula lapisan-lapisan langit. Dengan peralatan yang semakin canggih dan semakin berenergi, kelak manusia akan terus memecah-mecah zarah-zarah yang menyusun bumi hingga ditemukan zarah paling kecil pada pemecahan yang ketujuh. Misalnya saja apabila Anda mengambil sebutir batu kerikil, maka ia bisa kita haluskan sampai tujuh tingkat energi. Tingkat energi pertama akan memecah batu itu menjadi molekul-molekul (unsur dan senyawa), tingkat energi kedua akan memecah molekul-molekul itu menjadi atom-atom, tingkat energi ketiga akan memecah atom-atom menjadi inti dan elektron-elektron, tingkat energi keempat akan memecah inti-inti menjadi hadron-hadron (proton, neutron, dan lain-lain), tingkat energi kelima akan memecah hadron-hadron menjadi kuark, tingkat energi keenam akan memecah kuark-kuark menjadi zarah yang lebih elementer lagi, dan tingkat energi ketujuh akan memecahnya menjadi zarah-zarah yang lebih elementer lagi. Sejauh ini, peralatan eksperimen baru mencapai tingkat energi kelima.
Apakah ini tidak cukup untuk mengatakan bahwa Al Quran memuat ilmu pengetahuan yang jauh lebih tinggi dari kosmologi dan fisika energi tinggi yang dimiliki generasi sekarang?
Dalam tradisi filsafat, dikenal apa yang disebut sebagai ‘dilema kejahatan’. Dari mana asal kejahatan? Apakah hubungan Tuhan dengan kejahatan? Apa dialektikanya terhadap kebaikan? Mari kita simak bersama.
DALAM tradisi agama-agama semitik, terutama Kristen dan Yahudi, Tuhan dicirikan memiliki tiga sifat paling fundamental, yakni Maha Kuasa (Omni Potent), Maha Tahu (Omni Scient), dan Maha Kasih (Omni Benevolent). Beberapa orang menambahkan bahwa Tuhan itu juga Maha Hadir (Omni Present), ada dimana saja. Mengenai Omni Present, sebenarnya masih sangat diperselisihkan. Ketika sejumlah teolog memahami bahwa Tuhan ada di semua tempat dan di setiap waktu atau imanen dalam ciptaannya, yang lain menganggap Tuhan ada entah bagaimanapun juga di luar makhluk-Nya atau transenden.
Tuhan Maha Kuasa, artinya bisa melakukan segalanya. Jika Ia ingin menghacurkan segalanya dalam sekejap atau menciptakan yang tak berhingga dari yang tidak ada, maka tidak ada kesulitan apapun bagiNya. Tetapi bisakah Tuhan menciptakan pintu yang terbuka sekaligus tertutup, atau sebuah lingkaran yang sekaligus bujur sangkar? Bisakah Tuhan membuat 1+1=37? Ini kelihatan absurd dan banyak kaum teolog yang tidak suka menerima bahwa Tuhan tidak bisa menciptakan hal ini yang secara logika tidak mungkin, karena itu akan membatasi kekuasaanNya.
Tuhan juga Maha Tahu, artinya tidak seorang pun atau sesuatu pun yang bisa bersembunyi dari Tuhan, karena Ia bisa melihat dan mengetahui segalanya, termasuk pikiran yang paling mendalam sekalipun. Beberapa orang khawatir akan kenyataan kemahatahuan ini, karena tampaknya menghadirkan masalah bagi kehendak bebas manusia. Misalnya jika Tuhan tahu bahwa saya kira-kira memilih kopi daripada teh, apakah berarti pilihan saya tidak sungguh-sungguh bebas, karena telah ditakdirkan begitu adanya di luar pengawasan saya. Kekhawatiran ini hanyalah kesalahpahaman. Fakta bahwa Tuhan mengetahui apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi kemudian tidak harus bermakna bahwa masa depan telah ditentukan. Kenyataan bahwa Ia bisa melihat masa depan tidak berarti bahwa masa depan itu bukanlah hasil pilihan bebas kita. Tuhan mengetahui apa yang akan dilakukan dengan bebas tanpa maksud mencurigai kebebasan tersebut.
Tuhan juga lazim diterima sebagai Maha Kasih. Dalam kalimat pujian yang sangat terkenal “Tuhan adalah cinta”, yang berarti tidak ada batas bagi kasihNya. Tuhan tidak akan mengizinkan siapapun menderita, karena itu di luar cinta. Satu masalah yang jauh lebih serius mengenai konsep ini membuat keprihatinan banyak orang dalam hal mengapa ada kejahatan dan penderitaan di dunia. Ini biasa disebut sebagai masalah kejahatan.
Masalah kejahatan dibagi menjadi dua tipe. Ada kejahatan moral, yakni hal-hal jahat yang merupakan tindakan manusia, seperti penyiksaan, kekejaman, penindasan, dan sebagainya. Ada juga yang disebut kejahatan alamiah, seperti banjir, penyakit, gempa bumi, kecelakaan, dan lain-lain.
Masalah bagi konsep Tuhan tradisional adalah adanya banyak macam kejahatan. Ada begitu banyak hal yang membawa banyak orang untuk menanyakan bagaimana eksistensi penderitaan seperti itu cocok dengan eksistensi bahwa Tuhan Maha Kasih. Bahkan masalah ini bisa dinyatakan secara lebih tegas. Jika Tuhan ada, bagaimana Dia bisa menjelaskan kejahatan ini? Tampaknya ada tiga jawaban yang mungkin. Bisa jadi Dia tidak mengetahuinya, tetapi itu berarti Tuhan tidaklah Maha Tahu. Bisa jadi Dia mengetahuinya tapi tidak peduli terhadapnya, tetapi itu akan menandakan bahwa Tuhan tidaklah Maha Kasih. Bisa juga Dia tidak bisa menghentikannya, tetapi itu akan berarti Tuhan tidaklah Maha Kuasa. Sehingga keberadaan kejahatan benar-benar mengubah dengan sangat radikal pikiran kita bahwa Tuhan tidak bisa Maha Tahu, Maha Kuasa, dan Maha Kasih.
Beberapa orang menegaskan bahwa cukuplah mengatakan Tuhan itu tidak ada. Namun beberapa orang menawarkan solusi bahwa Tuhan bisa tahu tentang penderitaan, peduli pada penderitaan, dan mampu melakukan sesuatu mengenai penderitaan, tetapi dengan tetap mengizinkan kejahatan berjalan terus. Solusi ini biasa disebut teodisi.
Beberapa teodisi terlihat tidak masuk akal sama sekali. Misalnya, beberapa menyangkal kenyataan bahwa ada kejahatan apa saja di dunia ini. Sesuatu mungkin kelihatan buruk dari mana kita berdiri, tetapi itu karena kita tidak bisa melihat gambar secara keseluruhan. Dari tempat mana Tuhan berada, segala sesuatu kelihatan baik. Sulit melihat bagaimana siapa saja bisa menerima ini, paling tidak ketika untuk menjaga agar perikemanusiaan tetap utuh. Menyaksikan pembantaian oleh Nazi misalnya, dan kita menyatakan bahwa itu hanya kelihatan buruk karena kita tidak bisa menyaksikan gambarannya secara keseluruhan, bisa jadi menjadikan kita tidak punya perasaan sama sekali.
Ada juga teodisi yang lebih dipercaya tidak menyangkal realitas kejahatan, tetapi berusaha menunjukkan bahwa dalam jangka panjang kejahatan itu lebih baik ada daripada tidak ada. Seperti seorang tukang gigi yang meminta Anda untuk bertahan dengan rasa sakit karena Anda akan mengambil manfaatnya dalam jangka panjang. Jadi dalam pandangan ini Tuhan mengizinkan kita untuk menderita karena itu penting untuk jangka panjang.*
Apa yang membuat mungkin semua penderitaan di dunia ini menjadi bermanfaat? Satu jawaban yang cukup memuaskan adalah adanya kehendak bebas yang berkaitan dengan berlakunya Prinsip Keberpasangan. Bahwa Tuhan menciptakan semuanya berpasang-pasangan, dan bahwa di dunia ini ada kebaikan dan tentu harus ada pula keburukan, kejahatan, penderitaan, atau apapun namanya. Makhluk cerdas seperti manusia diberikan suatu kehendak bebas dan berkesempatan untuk memilih diantara keduanya. Apabila manusia memilih jalan kebaikan, maka kebaikan pula yang akan mereka terima kelak di kemudian hari. Namun apabila mereka memilih jalan keburukan, maka keburukan pulalah yang akan diterimanya. Inilah pilihan hidup yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Sebab itu, baik kejahatan maupun kebaikan sangat diperlukan eksistensinya dalam kehidupan. Dua hal tersebut hanyalah bagian dari keteraturan alam yang didesain berdasar Prinsip Keberpasangan.
Tuhan itu Maha Kasih, adanya kejahatan tentu juga menandakan kasihNya. Rasa nikmat dan kesenangan tidak akan pernah kita rasakan tanpa adanya rasa sakit dan kesengsaraan. Apabila tidak ada penderitaan di dunia ini, maka tidak akan ada pula yang namanya kebahagiaan. Kebahagiaan muncul ketika penderitaan juga muncul. Salah satu diantara mereka adalah pembanding daripada salah satu yang lain.
Orang bijak sering mengatakan lauk yang terlezat adalah rasa lapar, minuman yang tersegar adalah rasa haus, istirahat yang ternikmat adalah saat lelah, dan tidur yang paling pulas adalah saat kantuk menyerang. Bagaimana mungkin kita akan menikmati lezatnya makanan kalau kita makan sepanjang hari. Bagaimana mungkin kita akan menikmati istirahat jika sepanjang hari kita tidur dan duduk-duduk. Nikmati hidup ini dengan kesulitan dan penderitaan, maka kita akan tahu apa artinya kebahagiaan. Jadi, mengatakan bahwa Tuhan tidak tahu, tidak berkuasa, dan tidak welas asih terhadap adanya kejahatan jelas sesuatu yang tidak beralasan, jika dihadapkan pada keberlakuan Prinsip Keberpasangan yang telah ditetapkan sebagai pondasi semesta.
*Dikutip sepenuhnya dari: Lima Tema Utama Filsafat (Julian Baggini)
“Andaikan waktu adalah suatu lingkaran, yang mengitari dirinya sendiri. Demikian juga dunia, akan selalu mengitari dirinya sendiri, orang tidah tahu, bahwa setiap saat dia menjalani kehidupan mereka kembali.
Pedagang tidak merasa bahwa mereka akan saling menawar lagi dan lagi. Politikus tidak tahu bahwa mereka akan berseru dari mimbar berulang-ulang dalam putaran waktu. Orang tua menikmati sepuas-puasnya tawa pertama anak-anak mereka seolah-olah tak akan mendengar lagi. Sepasang suami istri yang pertama kali bermain cinta malu-malu melepas busana, mereka semua tidak tahu bahwa akan terulang lagi tanpa henti, persis sebelumnya.
Kemana?
Lalu kemana sebenarnya perginya waktu? Kenapa yang tersisa hanya kenangan-kenangan yang bagai kerak di dasar sungai, yang mengendap dalam pikiran kita, menunggu hujan yang akan melarutkannya. Kapan saat ini menjadi masa lalu, dan kemana perginya masa lalu. Kalau Al-Ghozaly menyatakan bahwa hal yang paling jauh dari kita adalah masa lalu, tetapi ada juga pepatah yang menyatakan bahwa seseorang yang lupa akan masa lalunya akan ditakdirkan untuk mengulanginya.
Dalam Teks Ayat suci disebutkan bahwa malaikat jibril menuju Dimensi langit hanya sekelebat yang takarannya adalan 50 tahun waktu bumi, dengan demikian sangatlah benar bahwa waktu adalah relative, tergantung kecepatan kita mengarunginya. Dan waktu adalah penanda sebuah peristiwa, dimana kadang terjadi secara berulang-ulang. Peristiwa yang sedetik telah lewat akan menjadi sebuah kenangan. Peristiwa , sekali terjadi akan kehilangan sebuah realitas. Yang tertinggal adalah bagaimana kita memberi makna dan mengambil hikmah dari sebuah peristiwa yang kita lalui.
Menurut penulis setiap kali kita mengalami sebuah peristiwa apapun pada diri kita, kegembiraan, kesedihan, duka, cinta, bahagia, tangis, tawa, semua fenomena yang ada, paling tidak kita harus bisa mengambil hikmah atau mendapatkan suatu hal-hal yang baru sebagai bekal kehidupan kita selanjutnya dalam mengarungi samudra waktu. Sebuah peristiwa bisa kita jadikan sebagai sebuah jawaban dari rasa penasaran dan kebelumtahu-an kita. Sebagai suatu misal kenapa kita harus merasakan Jatuh cinta, karena sebagai jawaban dari rasa penasaran keingintahuan kita tentang jatuh cinta. Kenapa harus ada air mata yang jatuh saat kesedihan, biar kita bisa berempati atau bahasa jawa-nya tepo sliro (merasakan penderitaan orang lain), dan peristiwa-peristiwa lainnya yang bisa menjawab kebelumtahuan kita.
Pencerahan
Sebuah peristiwa bisa dijadikan sebagai pencerahan bagi kita, bisa menimbulkan sebuah inspirasi baru untuk mencipta sesuatu. Peristiwa jatuhnya sebuah apel dari pohon, menjadikan seorang Newton, cukup untuk menemukan sebuah teori gravitasi. Sebuah bencana akan memberikan pencerahan bagi kita untuk kembali menyerahkan semuanya pada Tuhan setelah berbagai macam ikhtiar yang kita lakukan. Semua berpulang pada kita untuk memaknai sebuah peristiwa yang terjadi.
Sebuah peristiwa bisa juga digunakan sebagai pembuktian atau penguatan Pendapat yang telah kita miliki dan kita yakini. Kejadian-kejadian yang bermakna spiritual biasanya sudah kita yakini sebelumnya apapun agama dan keyakinan kita. Suatu misal peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah SAW yang kalo dilihat hanya dengan “Ilmiah semata” akan terasa controversial. Tetapi kalo sudah ada keyakinan sebelumnya, peristiwa tersebut akan menguatkan pendapat yang telah kita yakini tentang keAgungan Tuhan.
Memang ada kalanya, suatu peristiwa dengan mudah dapat dijelaskan melalui ilmu pengetahuan dan tekhnologi, tetapi masih banyak juga ilmu pengetahuan dan tekhnologi belum mampu menguak hakikat dari suatu peristiwa. Bidang inilah sebenarnya yang harus menjadi tantangan bagi kita semua untuk selalu iqro’ (membaca), berpikir, dan bekerja keras dalam rangka ikhtiar untuk memahami peristiwa-peristiwa yang oleh Tuhan sengaja diciptakan untuk meningkatkan derajat keilmuan kita. Pada akhirnya hasil dari Ikhtiar kita harus bermuara pada semakin kuatnya keyakinan kita akan Keagungan Tuhan.
Waktu dan peristiwa tergantung bagaimana kita memaknainya, bisa berjalan terasa lambat atau cepat yang semuanya akan melahirkan kenangan. Saat kita menantikan sesuatu yang kita harapkan, waktu bisa sedemikian lambat-nya, ada kalanya waktu seakan bergerak sangat cepat yang kita serasa ingin menahannya sedetik saja, saat-saat terindah yang kita miliki.
Demikianlah waktu, maka menurut penulis apa yang ditulis seniman besar kita, yang meninggal di usia masih muda Chairil Anwar dalam sebaris Puisinya:
“Hidup hanya menunda kekalahan”.
Bukan sebagai sebuah pesimisme dalam menghadapi hidup, tetapi lebih kepada kepasrahan kepada sang Pencipta bahwa pada akhirnya kita akan dikalahkan oleh usia dan Waktu.
Ya pada akhirnya…..
“Hidup hanya menunda kekalahan”.
Bukan sebagai sebuah pesimisme dalam menghadapi hidup, tetapi lebih kepada kepasrahan kepada sang Pencipta bahwa pada akhirnya kita akan dikalahkan oleh usia dan Waktu.
Ya pada akhirnya…..
Sufi dalam menghadapi kebencian
Pada suatu hari, Ibrahim bin Adham, seorang sufi, sedang berjalan kaki untuk menemui seorang kolega. Di tengah jalan, dia bertemu dengan dua orang prajurit. Ternyata, tentara itu dikirim oleh khalifah di Baghdad, untuk mencari seorang kriminal. Alhasil, salah seorang dari tentara itu bertanya ke Ibrahim,’wahai pengembara, apakah anda melihat si fulan? *sambil menunjukkan lukisan sang kriminal*’. Jawab Ibrahim, ‘Oh maaf, saya tidak pernah melihat dia’. Namun, salah satu dari tentara itu curiga, dan menunjuk ke arah Ibrahim,’Wahai pengembara, pasti anda pendusta, karena berdasarkan informasi yg kami terima, dia pasti lewat jalan ini’. Kata Ibrahim, ‘Mohon maaf, saya kurang paham maksud anda. Saya benar-benar tidak pernah melihat dia’. Tentara itu menjawab,’sudah cukup! tidak usah banyak cing cong..Makan ini! *mengirim bogem mentah ke Ibrahim*. Akhirnya, Ibrahim disiksa oleh kedua tentara itu sampai babak belur, di tengah jalan sepi tersebut. Setelah penyiksaan itu, kedua tentara itu berlalu begitu saja. Namun, ternyata peristiwa penyiksaan itu disaksikan oleh seorang ibu. Sewaktu kedua tentara itu berpapasan dengan sang ibu, lalu si ibu angkat bicara, ‘Apa yang kalian lakukan dengan orang tua itu? Dia itu Ibrahim bin Adham! Seorang ulama yang sangat alim’. ‘Apa?’ demikian respon kedua prajurit itu. Lalu sontak, kedua prajurit itu mengejar Ibrahim di belakang, yang sedang jalan terpincang-pincang karena luka yang ia derita. Lalu, mereka membungkuk dalam dalam di depan Ibrahim, dan salah satu dari mereka berkata,’Wahai Ibrahim yang mulia, kami minta maaf atas kezhaliman yang telah terjadi’. Ibrahim menjawab dengan santai,’Anakku, Saya sudah lupakan peristiwa itu, dan saya anggap tidak pernah terjadi’.
Ibrahim bin Adham, dan semua sufi, adalah kelompok yang berkata ‘tidak’ untuk membalas kekerasan dengan kekerasan. Bukan hanya di Islam, namun juga di agama lain, akan kita temui kelompok mistikus yang selalu menjadikan pendekatan tanpa kekerasan. Contoh yang paling banyak diingat adalah Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, dan Martin Luther King jr. Kalimat ‘Cintailah Musuhmu’, merupakan kutipan dari Bibel yang sangat sering dikutip. Namun, walaupun para bijak sudah berkata, bahwa kebencian harus dibalas oleh cinta kasih, tetap saja kebencian dan permusuhan masih meraja lela di dunia ini. Sebenarnya, dari manakah asalnya?
Genealogi kebencian
Mengapa kebencian itu muncul? Secara moral, darimanakan asalnya? Dalam satu perspektif, hal ini tidak lepas dari konsep filsafat jerman. Friedrich Nietzche, sang filosof jerman, berpendapat bahwa hanya manusia unggul saja yang pantas menjadi penguasa dan berkuasa atas segala hal. Dalam bahasa jerman ‘uebermensch’, yang jika diterjemahkan ke bahasa Inggris adalah ‘overman’, merupakan konsepsi moral, dimana keunggulan manusia diukur dengan parameter aristokrasi. Apa saja parameter tersebut? Mereka adalah pendidikan setinggi mungkin, kekayaan yang berlimpah, dan yang paling penting, adalah mentalitas untuk menjadi pemenang. Dalam kacamata aristokrasi, hanya ada dua jenis manusia. Yaitu mereka yang menang, dan mereka yang kalah. Mereka yang kalah, disebut Nietzche sebagai ‘moralitas gerombolan’, sebab mereka hanya pantas menerima perintah dari para aristokrat, dan tidak sebaliknya. Namun, hanya menunggu waktu saja, sebelum gerombolan tersebut mengkudeta konsepsi moral dari para aristokrat. Jika kudeta itu sukses, maka gerombolan itu akan menjadi aristokrat baru, dan nilai-nilai moral yang dianggap salah oleh aristokrat lama, akan menjadi suatu kebenaran oleh aristokrat yang baru. Ini disebut juga sebagai ‘transvaluasi’, atau penjungkir balikan nilai. Dalam aplikasinya yang paling ekstrim, Adolf Hitler mengadopsi filsafat Nietzche, bersama musik Richard Wagner, sebagai sastra dan seni resmi di Nazi. Ironis, karena Nietzche sendiri tidak pernah membahas konsep negara bangsa. Aplikasi moralitas aristokrasi dalam spektrum lain adalah penciptaan sekolah unggulan, sekolah internasional, sistim ranking, universitas unggulan, beasiswa unggulan, dan kredit kum dalam penelitian/pengajaran. Semua sistim pendidikan modern yang kita cerap sekarang, dilandasi oleh moralitas aristokrasi ala Nietzche. Dalam sistim ini, harus ada mereka yang menang, yang menikmati karir bagus, karena keunggulan aristokrasi yang dimiliki. Sementara yang kalah, sudah jelas. Karir mereka hancur, dan tidak punya masa depan. Dikotomi kalah menang ini, akhirnya melahirkan kebencian, antara yang kalah dengan yang menang, ataupun sebaliknya.
Berikanlah Cinta kasih
Ibrahim bin Adham sudah mengajarkan kepada kita, bahwa kebencian bisa dibalas dengan cinta kasih. Memang, seorang Sufi seperti beliau sudah melakukan latihan spiritual yang sangat berat untuk mencapai tingkat tersebut. Namun, yang dicapai adalah kedamaian hati dan ketenangan batin. Dikotomi menang-kalah Nietzchean, yang menghasilkan kebencian demi kebencian, hanya membawa kita pada keresahan lahir dan batin. Berkompetisi dengan orang lain, berarti juga kita harus menghancurkan orang lain, walaupun itu diperhalus hanya pada tataran ‘nilai ulangan’ , ‘ranking’ atau ‘sertifikat cum laude’ misalnya. Akhirnya, semua ini hanya menghasilkan serentetan permusuhan, dan tinggal menunggu waktu saja, sebelum mereka yang kalah balas dendam terhadap yang menang, untuk kemudian menjadi pemenang yang baru. Lingkaran balas dendam itu akan berlangsung terus tanpa akhir, jika tidak dihentikan. Dunia yang sekuler sekarang ini, hanya menghasilkan ‘manusia pembenci’, bukan ‘manusia pencinta’. Mengapa tidak kita rubah semua ini? Latihan spiritual para sufi sudah menunjukkan, bahwa menghilangkan kebencian dan nafsu untuk menghancurkan orang lain adalah sangat mungkin. Sudah waktunya kita tanggalkan mentalitas aristokrasi, dan kembali pada pesan para bijak bestari dari timur tersebut.
Pertanyaan kemudian sebetulnya apakah memang orang yang diminta memakai otaknya itu, betul tidak menggunakan otaknya sebelum berkata atau bertindak? Bukankah si lawan bicaranya itu dapat berkata atau bertindak demikian karena telah melalui proses berpikir yang artinya telah menggunakan otaknya pula.
Hanya saja yang menjadi masalah adalah yang satu memakai otaknya untuk berpikir dengan caranya, sementara yang satu lagi, berpikir dengan caranya juga. Ujung-ujungnya, tidak ketemu.
Sementara kalau dilihat dari sudut pandang orang yang diminta memakai otaknya itu, akan pasti mempunyai cara pikir yang sama, kenapa bukan dia saja yang memakai otaknya supaya perkataaannya ataupun tindakannya menjadi benar, menurut versinya tentu.
Sebetulnya, kedua-duanya ketika akan bertindak atau berkata-kata, sudah memakai otaknya terlebih dahulu, cuma saja, kedua-duanya menggunakan cara yang berbeda, melihat dari sudut pandang yang berbeda, jadi, hasilnya, yang satu ke kiri, yang satu ke kanan, jauh panggang dari api.
Apakah berpikir itu sebetulnya? Apa betul sama antara kata berpkir dan menggunakan otak seperti pada contoh di atas?
Kalau dalam gerakan pantomim, si peraga pantomim akan memeragakan gerakan (seolah-olah) berpikir dengan cara menempelkan telunjuknya di kening, menunjukkan kalau aktivitas berpikir itu berpusat di kepala.
Kalau anak saya, tiga tahun usianya, gayanya sewaktu berpikir, kedua matanya menghadap ke atas (entah apa yang dilihatnya), digerak-gerakan ke kanan dan ke kiri, persis seperti bola bekel sambil mulutnya dimajukan sedikit (manyun) dan pipinya sedikit dikembungkan, jadi seperti ikan buntal. Lucu sekali, mungkin karena saya ayahnya, jadi segala tingkah lakunya semuanya lucu. Tapi itulah geraknya sewaktu berpikir.
Jadi, berpikir itu berpusat di kepala? Di otak?
Otak adalah bentuk fisik yang terdapat dalam kepala, dalam tulang tengkorak. Otak bertanggung jawab terhadap proses yang disebut sebagai proses neuronal elektrokimia. Proses yang terkait dengan pengaturan segala fungsi di dalam tubuh termasuk didalamnya adalah sebagai respon terhadap informasi dari luar. Dalam istilah biologi dasar, dikenal sebagai kepekaan terhadap rangsang (irritabilitas).
Sementara pikiran merupakan proses yang terkait dengan sifat-sifat rohaniah atau kejiwaan. Sifat-sifat rohaniah ini seperti misalnya kepercayaan, keinginan, pendapat, anggapan dan lain sebagainya.
Otak dan pikiran tidak terpisah dalam melaksanakan prosesnya tetapi terdapat hubungan kait mengkait diantaranya, hubungan antara proses rohani dan neuronal. Sehingga, yang disebut dengan proses berpikir itu merupakan campuran olah otak dan olah rasa. Perkembangan munculnya olah otak dan olah rasa ini ditandai dengan berkembangnya budaya. Budaya sendiri memiliki dua pengertian yaitu olah budi dan olah daya. Budaya, mengacu kepada proses terjadinya, semestinya dapat berkembang dengan dinamis, tidak statis.
Kembali kepada pengertian berpikir, otak tidak bekerja sendirian, terjadi olah otak, olah rasa dalam nuansa olah budi dan olah daya. Dalam proses berpikir, terjadi aliran menyerap informasi yang diterima, memproses informasi yang diterima tersebut, ditambah hasil dari ‘olah-olah’ tersebut – dimana didalamnya dilakukan proses analisa berdasarkan referensi yang dimilikinya selama ini, kemudian sebagai hasil adalah bisa setuju, menolak terhadap informasi tersebut, atau dihasilkan pandangan lain (baru) terhadap informasi itu, yang lain daripada yang sekedar menyetujui maupun yang tidak menyetujui.
Apakah yang menyetujui terhadap informasi awal itu lebih mendekati kebenaran? Apakah justru yang tidak menyetujui informasi itu yang benar? Ataukah pendapat lain yang muncul itu yang disebut mendekati kebenaran?
Jawabannya dikembalikan kepada referensi yang digunakan dan kebenaran apa yang akan dicapai, kemudian, sejauh mana hasil pikiran itu bisa bermanfaat.
Dua contoh sederhana dari penggunaan pikiran itu akan dicoba disajikan di bawah ini:
Contoh satu:
Seorang (calon) pencuri mendengar bahwa rumah di jalan x nomor y akan kosong selama beberapa waktu karena siempunya rumah, yang juga termasuk golongan berada akan mudik lebaran. Diapun sudah mendapat informasi lainnya bahwa pemilik rumah tersebut tidak akan dijaga oleh siapapun selama ditinggal. Si (calon) pencuri tersebut kemudian melakukan beberapa langkah sebelum melakukan aksinya, antara lain: melakukan pengamatan situasi sekitar, melakukan persiapan, melaksanakan simulasi (hanya dalam pikiran) – mulai dari melakukan aksinya sampai dengan selesai. Pada hari H, hari yang direncanakan, si pencuri (sudah bukan calon lagi, tetapi sudah benar-benar menjadi pencuri) itupun mulai melakukan aksinya. Ternyata semuanya sesuai dengan yang telah direncanakannya, maka si pencuripun berhasil menunaikan aksinya dengan gemilang.
Contoh dua:
Saya coba mengambil contoh dari film sang pencerah, yang sedang marak belakangan ini. Dari tokoh utamanya, KH. Ahmad Dahlan, beliau mendapati kondisi di sekitarnya di Yogyakarta waktu itu yang menurutnya dari segi agama yang diketahuinya, dalam kondisi yang memerlukan perubahan. Kemudian, berbekal ilmu pengetahuan Islam yang dipelajarinya, mulailah beliau mencoba memperhitungkan langkah-langkah yang bisa dilakukannya untuk memperbaiki kondisi dan situasi tersebut. Perlahan-lahan dilaksanakanlah langkah-langkah yang telah diperhitungkannya tersebut. Walaupun pada awalnya banyak mendapatkan tentangan, namun pada akhirnya, kesuksesanlah yang diraihnya.
Dari contoh di atas, bukan hendak menyamakan capaian tokoh ulama tersebut dengan pencuri, tetapi lebih menunjukkan bahwa proses berpikir bisa dilakukan oleh siapa saja, dalam bentuk apa saja untuk mencapai tujuan apa saja. Proses berpikir masuk kedalam segala lini kehidupan.
Untuk contoh satu, dari sisi pencuri, dia sudah melakukan proses berpikir itu. Menurut pencuri itu, apa yang sudah dilakukannya sudah benar. Yang penting berhasil dan si pencuri itu cukup untuk menyambung hidupnya. Mencuri disamakan dengan mencari nafkah. Dari sisi si empunya rumah, jelas, ini merupakan kerugian baginya karena harta bendanya disikat oleh pencuri. Menurutnya, tidak ada benarnya, mencari nafkah dengan cara merugikan orang lain. Pendapat ini pun berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya selama ini, berdasarkan proses berpikirnya pula.
Untuk contoh dua, tokoh pencerah itu pun melakukan proses berpikir. Berpikir untuk memperbaiki kondisi keagamaan umat Islam di Yogyakarta khususnya. Banyak langkah perubahan yang akan dilakukan berdasarkan ilmu pengetahuan yang dipelajari dan dimilikinya. Namun reaksi yang berbeda muncul dari lingkungan yang merasa bahwa perubahan yang dilakukannya justru menyimpang dari ajaran Islam itu sendiri. Mereka yang memunculkan reaksi berbeda dengan tokoh sang pencerah inipun mendasarkan pendapatnya kepada ilmu yang mereka miliki selama ini dan kepada proses berpikir yang telah dilaluinya, hanya saja, proses tersebut menghasilkan hasil pemikiran yang berbeda dengan tokoh sang pencerah itu.
Jadi, pada dasarnya, tidak ada yang salah dalam proses berpikir, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mendayagunaan proses berpikir itu sehingga hasilnya dapat diterima oleh banyak pihak serta memberikan manfaat, dan melandaskan proses berpikir kepada referensi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Selamat berpikir, sebagai tanda bahwa kita memaksimalkan fungsi-fungsi berpikir yang kita miliki.
Diberdayakan oleh Blogger.





