• Vestibulum quis diam velit, vitae euismod ipsum

    Etiam tincidunt lobortis massa et tincidunt. Vivamus commodo feugiat turpis, in pulvinar felis elementum vel. Vivamus mollis tempus odio, ac imperdiet enim adipiscing non. Nunc iaculis sapien at felis posuere at posuere massa pellentesque. Suspendisse a viverra tellus. Nam ut arcu et leo rutrum porttitor. Integer ut nulla eu magna adipiscing ornare. Vestibulum quis diam velit, vitae euismod ipsum? Quisque ...

  • Aliquam vel dolor vitae dui tempor sollicitudin

    Proin ac leo eget nibh interdum egestas? Aliquam vel dolor vitae dui tempor sollicitudin! Integer sollicitudin, justo non posuere condimentum, mauris libero imperdiet urna, a porttitor metus lorem ac arcu. Curabitur sem nulla, rutrum ut elementum at, malesuada quis nisl. Suspendisse potenti. In rhoncus ipsum convallis mauris adipiscing aliquam. Etiam quis dolor sed orci vestibulum venenatis auctor non ligula. Nulla ...

  • Nam ullamcorper iaculis erat eget suscipit.

    Etiam ultrices felis sed ante tincidunt pharetra. Morbi sit amet orci at lorem tincidunt viverra. Donec varius posuere leo et iaculis. Pellentesque ultricies, ante at dignissim rutrum, nisi enim tempor leo, id iaculis sapien risus quis neque. Ut sed mauris sit amet eros tincidunt adipiscing eu vitae lectus. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos ...

Twitter

Tampilkan postingan dengan label Psychology. Tampilkan semua postingan


Masa yang paling indah adalah masa remaja.
Masa yang paling menyedihkan adalah masa remaja.
Masa yang paling ingin dikenang adalah masa remaja.
Masa yang paling ingin dilupakan adalah masa remaja.
Remaja
Remaja
Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja.
Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:
  1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
  2. Ketidakstabilan emosi.
  3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
  4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
  5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
  6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
  7. Senang bereksperimentasi.
  8. Senang bereksplorasi.
  9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
  10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.
Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Berikut ini dirangkum beberapa permasalahan utama yang dialami oleh remaja.
Permasalahan Fisik dan Kesehatan
Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine & Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut dan paha. Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998). Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan distres emosi, pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi, rendahnya harga diri, onset merokok, dan perilaku makan yang maladaptiv (& Shaw, 2003; Stice & Whitenton, 2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat sebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia (Polivy & Herman, 1999; Thompson et al).
Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.
Permasalahan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang
Penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan. Walaupun usaha untuk menghentikan sudah digalakkan tetapi kasus-kasus penggunaan narkoba ini sepertinya tidak berkurang. Ada kekhasan mengapa remaja menggunakan narkoba/ napza yang kemungkinan alasan mereka menggunakan berbeda dengan alasan yang terjadi pada orang dewasa. Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.
  • Pengaruh sosial dan interpersonal: termasuk kurangnya kehangatan dari orang tua, supervisi, kontrol dan dorongan. Penilaian negatif dari orang tua, ketegangan di rumah, perceraian dan perpisahan orang tua.
  • Pengaruh budaya dan tata krama: memandang penggunaan alkohol dan obat-obatan sebagai simbol penolakan atas standar konvensional, berorientasi pada tujuan jangka pendek dan kepuasan hedonis, dll.
  • Pengaruh interpersonal: termasuk kepribadian yang temperamental, agresif, orang yang memiliki lokus kontrol eksternal, rendahnya harga diri, kemampuan koping yang buruk, dll.
  • Cinta dan Hubungan Heteroseksual
  • Permasalahan Seksual
  • Hubungan Remaja dengan Kedua Orang Tua
  • Permasalahan Moral, Nilai, dan Agama
Lain halnya dengan pendapat Smith & Anderson (dalam Fagan,2006), menurutnya kebanyakan remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok, alkohol dan narkoba (Rey, 2002). Tiga jenis pengaruh yang memungkinkan munculnya penggunaan alkohol dan narkoba pada remaja:
Salah satu akibat dari berfungsinya hormon gonadotrofik yang diproduksi oleh kelenjar hypothalamus adalah munculnya perasaan saling tertarik antara remaja pria dan wanita. Perasaan tertarik ini bisa meningkat pada perasaan yang lebih tinggi yaitu cinta romantis (romantic love) yaitu luapan hasrat kepada seseorang atau orang yang sering menyebutnya “jatuh cinta”.
Santrock (2003) mengatakan bahwa cinta romatis menandai kehidupan percintaan para remaja dan juga merupakan hal yang penting bagi para siswa. Cinta romantis meliputi sekumpulan emosi yang saling bercampur seperti rasa takut, marah, hasrat seksual, kesenangan dan rasa cemburu. Tidak semua emosi ini positif. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Bercheid & Fei ditemukan bahwa cinta romantis merupakan salah satu penyebab seseorang mengalami depresi dibandingkan dengan permasalahan dengan teman.
Tipe cinta yang lain adalah cinta kasih sayang (affectionate love) atau yang sering disebut cinta kebersamaan yaitu saat muncul keinginan individu untuk memiliki individu lain secara dekat dan mendalam, dan memberikan kasih sayang untuk orang tersebut. Cinta kasih sayang ini lebih menandai masa percintaan orang dewasa daripada percintaan remaja.
Dengan telah matangnya organ-organ seksual pada remaja maka akan mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual. Problem tentang seksual pada remaja adalah berkisar masalah bagaimana mengendalikan dorongan seksual, konflik antara mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, adanya “ketidaknormalan” yang dialaminya berkaitan dengan organ-organ reproduksinya, pelecehan seksual, homoseksual, kehamilan dan aborsi, dan sebagainya (Santrock, 2003, Hurlock, 1991).
Diantara perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja yang dapat mempengaruhi hubungan orang tua dengan remaja adalah : pubertas, penalaran logis yang berkembang, pemikiran idealis yang meningkat, harapan yang tidak tercapai, perubahan di sekolah, teman sebaya, persahabatan, pacaran, dan pergaulan menuju kebebasan.
Beberapa konflik yang biasa terjadi antara remaja dengan orang tua hanya berkisar masalah kehidupan sehari-hari seperti jam pulang ke rumah, cara berpakaian, merapikan kamar tidur. Konflik-konflik seperti ini jarang menimbulkan dilema utama dibandingkan dengan penggunaan obat-obatan terlarang maupun kenakalan remaja.
Beberapa remaja juga mengeluhkan cara-cara orang tua memperlakukan mereka yang otoriter, atau sikap-sikap orang tua yang terlalu kaku atau tidak memahami kepentingan remaja.
Akhir-akhir ini banyak orang tua maupun pendidik yang merasa khawatir bahwa anak-anak mereka terutama remaja mengalami degradasi moral. Sementara remaja sendiri juga sering dihadapkan pada dilema-dilema moral sehingga remaja merasa bingung terhadap keputusan-keputusan moral yang harus diambilnya. Walaupun di dalam keluarga mereka sudah ditanamkan nilai-nilai, tetapi remaja akan merasa bingung ketika menghadapi kenyataan ternyata nilai-nilai tersebut sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dihadapi bersama teman-temannya maupun di lingkungan yang berbeda.
Pengawasan terhadap tingkah laku oleh orang dewasa sudah sulit dilakukan terhadap remaja karena lingkungan remaja sudah sangat luas. Pengasahan terhadap hati nurani sebagai pengendali internal perilaku remaja menjadi sangat penting agar remaja bisa mengendalikan perilakunya sendiri ketika tidak ada orang tua maupun guru dan segera menyadari serta memperbaiki diri ketika dia berbuat salah.
Dari beberapa bukti dan fakta tentang remaja, karakteristik dan permasalahan yang menyertainya, semoga dapat menjadi wacana bagi orang tua untuk lebih memahami karakteristik anak remaja mereka dan perubahan perilaku mereka. Perilaku mereka kini tentunya berbeda dari masa kanak-kanak. Hal ini terkadang yang menjadi stressor tersendiri bagi orang tua. Oleh karenanya, butuh tenaga dan kesabaran ekstra untuk benar-benar mempersiapkan remaja kita kelak menghadapi masa dewasanya.
REFERENSI :
Choate, L.H. (2007). Counseling Adolescent Girls for Body Image Resilience: Strategi for School Counselors. Profesional School Counseling. Alexandria: Feb 2007. Vol. 10, Iss. 3; pg. 317, 10 pgs. Diakses melalui http://ezproxy.match.edu/menu pada 9 Mei 2008
Fagan, R. (2006). Counseling and Treating Adolescents with Alcohol and Other Substance Use Problems and their Family. The Family Journal: Counseling therapy For Couples and Families. Vol.14. No.4.326-333. Sage Publication diakses melaluihttp://tfj.sagepub.com/cgi/reprint/14/4/326 pada 18 April 2008
Gunarsa, S. D. (1989). PsikologiPperkembangan: Anak dan Remaja. Jakarta: BPK. Gunung Mulia.
Hurlock, E.B. (1991). Psikolgi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Terjemahan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo). Jakarta : Penerbit Erlangga.
Mongks, F. J. , Knoers, A. M. P. , & Haditono, S. R. (2000). Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Muss, R. E. , Olds, S. W. , & Fealdman (2001). Human Developmen. Boston: McGraw-Hill Companies.
Rey, J. (2002). More than Just The Blues: Understanding Serious Teenage Problems. Sydney: Simon & Schuster.
Rini, J.F. (2004). Mencemaskan Penampilan. Diakses dari e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.
Santrok, J. W. (2003). Adolescence (Perkembangan Remaja). Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Setiono, L.H. (2002). Beberapa Permasalahan Remaja. Diakses dari www.e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.
Tambunan, R. (2001). Diakses dari www.e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.
Mitos-mitos Seputar “Gak Bakal Hamil”. Diakses dari www.e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.


fingers2Siapa sangka jari jemari ternyata bisa menentukan “nasib” manusia? Bukan ramalan lho, tapi ini hasil studi ilmiah. Anak lelaki dengan jari manis lebih pajang dari jari telunjuk bisa belari lebih cepat. Ternyata ukuran panjang jari terkait dengan hal-hal baik dan buruk yang dibawa oleh kesuburan, kerentanan terhadap penyakit, dan kepribadian.
Ilmuwan mengatakan bahwa peran hormon testoteron semasa di dalam rahim lah yang menentukan panjang pendeknya jari seorang anak. Tim ilmuwan dari Southampton University melakukan studi pada 241 anak lelaki usia 10-17 tahun pada kompetisi bakat di Qatar. Mereka yang memiliki jari manis lebih panjang ternyata mampu berlari lebih cepat daripada yang berjari manis pendek.
Matematika dan Bahasa
“Mereka unggul sejak garis start dan terus lebih unggul hingga selesai,” komentar John Manning, salah satu anggota tim ilmuwan itu.
Studi terdahulu mengatakan bahwa panjanng jadi juga terkait dengan tingkat agresi seorang lelaki. Anak-anak yang memiliki jari manis lebih panjang juga kerap meraih skor tinggi dalam matematika daripada skor verbal atau bahasa. Sedangkan mereka yang jari telunjuknya lebih panjang justru bagus dalam skor membaca dan menulis.
Tahun 2006 pernah juga dilakukan studi yang membuktikan bahwa panjangnya jemari juga ada hubungannya dengan prestasi atlet perempuan. Dan kabar buruknya adalah, mereka yang memiliki jari manis lebih panjang dari jari telunjuk justru berisiko menderita osteoartritis, demikian menurut jurnal Arthritis and Rheumatism.
Tahun 2004, American Journal of Human Biology memuat bahwa bagian tubuh yang tidak simetris -telinga kiri lebih besar dari kanan, misalnya- berhubungan dengan stres sang ibu saat mengandung mereka. “Stres saat hamil dapat menghasilkan anak dengan bagian tubuh tidak simetris,” jelas Zeynep Benderlioglu dari Ohio State University.
Wah, ternyata bentuk anggota tubuh kita juga berhubungan dengan perilaku dan otak kita, ya.


brain musicBagi kebanyakan orang, musik itu asyik buat dinikmati. Namun ternyata jika dikenalkan dan dilatih sejak usia muda, musik bisa meningkatkan kemampuan otak. Hal itu sudah banyak diketahui sejak lama. Sebuah penelitian terbaru membuktikan adanya korelasi kuat antara berlatih musik bagi anak-anak dengan kemampuan mental lain.
Laurel Trainor, direktur Institute for Music and the Mind di  McMaster University, West Hamilton, Ontario, beserta timnya melakukan pembandingan antara anak usia prasekolah yang mengikuti pelajaran musik dengan yang tidak. Hasilnya, mereka yang ikut berlatih musik memiliki respon otak lebih besar dibanding yang tidak. Ini terlihat dari serangkaian tes pengenalan suara yang diberikan pada mereka. Riset ini mengindikasikan bahwa berlatih musik mampu memodifikasi bagian korteks pendengaran otak.
Menurut Trainor, dengan berlatih musik, bisa mengubah cara berpikir atau kognisi secara umum. Cukup berlatih musik satu atau dua tahun saja, maka bisa meningkatkan kemampuan memori dan perhatian. Semua ini diketahui berkat sejumlah tes monitor elektrik dan impuls magnetik pada otak.
“Kami memiliki hipotesa bahwa berlatih musik, bukan sekedar mendengarkan musik secara pasif, memengaruhi kemampuan atensi dan memori, yang meningkatkan mekanisme otak,” jelas Trainor. Namun jika hanya sekedar mendengarkan saja tanpa berlatih bermain musik, maka tidak akan menghasilkan efek yang sama.
Selain Trainor dan timnya, ilmuwan Harvard University, Gottfried Schlaug, juga melakukan studi serupa. Menurut Schlaug, hubungan antara berlatih musik di usia anak-anak dengan kemampuan pendengaran dan motorik otak setara dengan peningkatan kemampuan verbal dan non verbal.


Somerset Maugham, seorang penulis Inggris, pernah menanyai salah seorang pacar H.G. Wells, mengapa seorang laki-laki gemuk, dan berwajah biasa, begitu beruntung dalam mendapatkan para wanita yang cantik? “Badannya memancarkan aroma madu,” ujar gadis itu. Meskipun tidak semua bau badan bisa dikatakan sensual atau jatuh cinta karenanya, bau alamiah yang dikeluarkan oleh manusia mendapat perhatian khusus dari berbagai kalangan, termasuk di dalamnya para ilmuwan di berbagai universitas di dunia.
Jatuh cinta adalah sebuah rasa yang dimiliki seseorang ketika melihat seseorang lainnya yang menarik. Apabila kedua orang ini cocok dan menjadi pasangan, maka rasa ini juga masih ada pada permulaan relasi. Perasaan ini muncul karena di dalam tubuh diproduksi beberapa zat-zat tertentu yang sedikit membius otak dan efeknya bisa disamakan dengan efek narkoba. zat-zat tertentu ini dinamakan feromon. Feromon membuat seseorang kecanduan sehingga ingin melihat pasangannya atau orang idamannya sesering mungkin.
Istilah feromon berasal dari bahasa Yunani yaitu phero yang artinya “pembawa” dan mone “sensasi”. Senyawa feromon sendiri didefinisikan sebagai suatu subtansi kimia yang berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh mahluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses reproduksi. Senyawa feromon pada manusia terutama dihasilkan oleh kalenjar endokrin pada ketiak, telinga, hidung, mulut, kulit, dan kemaluan. Feromone aktif apabila yang bersangkutan telah akil balig.
Sifat dari senyawa ini tidak kasat mata, mudah menguap, tidak dapat diukur, tetapi ada dan dapat dirasakan oleh manusia. Senyawa feromon ini biasa dikeluarkan oleh tubuh saat sedang berkeringat dan dapat tertahan dalam pakaian yang kita gunakan. Feromon pada manusia merupakan sinyal kimia yang berada di udara yang tidak bisa dideteksi melalui bau-bauan tapi hanya bisa dirasakan oleh vomeronasalorgan (VMO) di dalam indra pencium. Sinyal feromon ini diterima oleh VMO dan dijangkau oleh bagian otak bernama hipotalamus. Di sinilah terjadi perubahan hormon yang menghasilkan respons perilaku dan fisiologis.
Senyawa feromon dapat menimbulkan rasa ketertarikan antara dua orang berlainan jenis dengan bekerja sebagai pemicu dalam reaksi-reaksi kimia, ketika dua orang berdekatan dan bertatapan mata, maka feromon akan tercium oleh organ tubuh manusia yang paling sensitif yaitu VMO yaitu organ dalam lubang hidung yang mempunyai kepekaan ribuan kali lebih besar daripada indera penciuman.
VMO ini terhubung dengan hipotalamus pada bagian tengah otak melalui jaringan-jaringan syaraf. Setiap feromon berhembus dari tubuh, maka senyawa ini akan tercium oleh VMO dan selanjutnya sinyal ini akan diteruskan ke hipotalamus agar memberikan tanggapan. Dalam hitungan detik, maka akan ada respon dari otak melalui perubahan psikologis tubuh manusia baik itu perubahan pada detak jantung, pernafasan, temperatur tubuh, peningkatan kerja hormon testoteron atau hormon esterogen dan kalenjar keringat.
McClintock dan Kathleen Stern pada tahun 1988 dalam hasil penelitiannya di jurnal Nature menyatakan ada dua jenis feromon yang secara spesifik berpengaruh pada kesamaan siklus haid. Siklus menstruasi terdiri atas tiga fase, yakni menses, pra-ovulasi dan luteal alias pascaovulasi. Salah satu dari feromon dihasilkan oleh perempuan pada fase pra-ovulasi dari siklusnya dan mempercepat ovulasi di fase berikut.
Feromon lain dipancarkan pada saat ovulasi berlangsung. Sinyal ini memiliki efek memperlambat siklus. Hasil akhirnya adalah berupa siklus sejumlah perempuan yang tinggal saling berdekatan. Fenomena feromon sebagai bentuk komunikasi ini lama-lama mulai dicoba diterapkan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Terutama sejak ditemukan bahwa feromon juga dihasilkan kelenjar dalam tubuh manusia. Dan yang penting, bisa mempengaruhi hormon-hormon dalam tubuh manusia lainnya.
Feromon pertama ditemukan di Jerman, oleh Adolph Butenandt, ilmuwan yang juga menemukan hormon seks pada manusia yaitu estrogen, progesteron dan testosteron. Ketika pertama kali ditemukan pada serangga, feromon banyak dikaitkan dengan fungsi reproduksi serangga.Para Ilmuwan mula-mula melihat feromon adalah sebagai padanannya `parfum` di dunia manusia.Jean-Henri Fabre pada usia 19 tahun memulai karir sederhananya sebagai guru di Avignon, Perancis.
Sebagai guru ia punya minat yang kuat ke alam. Ia betah duduk berjam-jam mengamati kehidupan-kehidupan kecil yang sibuk sendiri di beranda belakang rumahnya. Bukan cuma duduk diam, Fabre membuat catatan dan eksperimen-eksperimennya sendiri.
Autodidak sejati, Fabre juga melatih dirinya melukis dan membuat illustrasi buat bukunya sendiri. Dari hasil pengamatan dan eksperimennya, Fabre menerbitkan 10 seri ensiklopedia tentang serangga `Souvenirs Entomologiques` yang di kemudian hari diakui sebagai karya klasik dalam dunia akademik Perancis.Charles Darwin, John Stuart Mill dan Louis Pasteur, raksasa-raksasa sains dan filosofi zaman itu mengagumi Fabre karena kecermatan dan detil pengamatannya.
Fabre menghabiskan tahun-tahun berikutnya mempelajari bagaimana ngengat-ngengat jantan menemukan betina-betinanya. Fabre sampai pada kesimpulan kalau ngengat betina menghasilkan zat kimia tertentu yang baunya menarik ngengat-ngengat jantan.Dengan kesimpulan Fabre ini, mulailah seluruh lapangan penelitian baru tentang feromon.
Efek dari senyawa feromon dan senyawa-senyawa kimia lain terhadap tubuh manusia dapatlah disamakan dengan efek narkoba yang akan membuat seseorang kecanduan sehingga ingin melihat pasangannya atau orang idamannya sesering mungkin. Perasaan cinta ini selang beberapa waktu akan menghilang karena produksi senyawa tersebut tidak berlangsung terus menerus. Kemampuan tubuh untuk menghasilkan feromon berkurang setelah dua sampai empat tahun. Akankah cinta kita terhadap pasangan kita akan hilang? Wallahu`alam. ***


Mana yang lebih dominan pengaruhnya bagi perilaku seseorang? Genetik atau lingkungan? Ilmuwan menemukan faktor lain, yakni otak. Ya, otak manusia ternyata juga memengaruhi perilakunya. Ukuran sebuah area pada otak berhubungan erat dengan kepribadian seseorang.
Mayoritas orang dengan kepribadian altruistik, yakni orang yang peduli pada sekitar, mempunyai ukuran lebih besar di area bawah cingulated cortex, wilayah otak yang terlibat dalam memahami keyakinan orang lain. Ukuran yang lebih besar pada area ini diasumsikan bekerja lebih kuat.
“Dari studi ini kita bisa memulai teori mengenai bagaimana kepribadian dihasilkan oleh otak,” ujar peneliti Colin DeYoung dari University of Minnesota. Selama ini dipercaya bahwa kepribadian seseorang dibentuk oleh faktor genetik dan lingkungan, maka temuan ini dapat menjelaskan perbedaan perilaku dan sikap manusia dari waktu ke waktu. Atau bisa juga diketahui apa sesungguhnya yang menghasilkan pola perolakub dan emosi yang kita sebut sebagai kepribadian.
Ada banyak cara untuk menjelaskan karakter seseorang, mulai dari karakter yang banyak bicara, pencemas, hingga pekerja keras dan teratur. Para psikolog mengkategorikan kepribadian manusia menjadi lima kelompok besar, yaitu ekstrovert atau terbuka, neurotisme, penyetuju, penyadar, dan pemikir.
Psikolog dapat menangkap gambaran kepribadian seseorang dengan mengenali kekecenderungan mereka berekspresi dari setiap kelompok tadi. Sejauh ini ilmuwan sudah mulai menghubungkan riset kepribadian dengan neurologi, mencoba mengetahui mekanisme otak yang bertanggungjawab pada perbedaan karakter.
DeYoung dan koleganya memindai otak 116 partisipan yang sebelumnya menjawap kuesioner lengkap untuk mengetahui kategori kepribadian mereka di antara lima kategori besar tadi. Kemudian, mereka saling mencocokkan gambar otak para partisipan. Gambar otak setiap partisipan diamati, terutama pada lima area yang memengaruhi kecenderungan kepribadian mereka. DeYoung dibantu dengan program komputer untuk mengamati semua area otak tersebut, sehingga dapat dilakukan perbandingan seberapa besar area masing-masing otak dan diketahui apa saja fungsinya. Hubungan antara ukuran wilayah otak denan kepribadian manusia bditemukan pada empat dari lima kategori besar kepribadian yang disebut tadi. Hanya pada kategori pemikir saja tak ditemukan.
Skor tertinggi ada pada kategori neurotisme, yaitu jenis kepribadian yang cenderung memiliki pengalaman emosi negative, termasuk panik dan kesadaran diri yang berhubungan dengan area otak bagian tengah cingulated cortex. Area ini diduga terkait dengan deteksi kegagalan dan respon terhadap kesakitan emosi dan fisik. Kepribadian neurotis memiliki area dorsomedial prefrontal cortex yang lebih kecil, yakni area otak yang mengatur emosi.
Kepribadian ekstrovert, yaitu mereka yang suka bergaul, mudah menerima, memiliki daerah medial orbitofrontal cortex yang lebih besar, sebuah area otak yang terlibat dalam proses pemberian penghargaan. Ini menjelaskan mengapa orang yang ekstrovert sangat sensitive pada penghargaan, dimana di lingkungannya ia sangat ingin dihargai dan diterima. Orang dengan kepribadian penyadar, cenderung punya disiplin diri tinggi, suka keteraturan, memiliki tengah frontal gyrus yang lebih besar, yakni area otak yang terlibat dalam daya ingat dan perencanaan.
Penelitian ini juga tidak mengatakan bahwa kepribadian seseorang akan berlaku sama selama hidupnya. Walau tidak mudah, kepribadian bisa berubah seiring dengan bertambahnya pengalaman dan lingkungan, serta pola pikir.


Pernah melihat atau bahkan merasakan seseorang patah hati yang luar biasa sedihnya? Bahkan ada yang sampai berbuat hal-hal di luar akal sehat, nekad, dan banyak lagi. Dulu, secara logika hal itu sulit dijelaskan, namun kini ilmuwan sudah mendapat jawaban mengapa hal itu dapat terjadi.
Sebuah studi terhadap otak manusia menyatakan bahwa lelaki atau perempuan yang patah hati karena cinta dan memandang foto mantannya akan mengalami aktivasi pada daerah otak yang terkait dengan perasaan dihargai, kecanduan, pengontrol emosi, dan rasa sakit. Hasil studi ini memberi pemahaman bahwa memang sulit bag sebagian orang untuk mengalami putus cinta, sehinga memicu perilaku ekstrim, bahkan pembunuhan dan bunuh diri.
“Rasa romantisme cinta adalah sebuah kecanduan,” jelas Helen E. Fisher, pakar antropologi biologi di Rutgers University yang memimpin penelitian ini. “Ini adalah kecanduan yang kuat dan ajaib saat semua berjalan baik, namun akan menjadi kecanduan yang parah jika cinta itu hilang.”
Para peneliti berspekulasi bahwa respon otak terhadap penolakan rasa cinta memiliki dasar evolusioner. Sirkit pada otak yang terkait dengan rasa cinta sudah ada sejak jutaan tahun lalu, sehingga memungkinkan nenek moyang kita untuk fokus pada energi perjodohan hanya pada satu orang di satu waktu, dan memulai proses perjodohan itu, demikian menurut Fisher. Dan ketika kita ditolak dalam hal cinta, maka kita merasa kehilangaan rasa penghargaan yang terbesar dari hidup kita, yaitu pasangan kita.
Sistem otak ini kembali aktif untuk membantu kita membuat apsangan kembali pada kita.
Fisher dan timnya memindai 15 otak partisipan yang berusia setara, yakni duduk di bangku kuliah, 10 wanita dan 5 pria. Semua memiliki pengalaman sedang putus cinta tapi masih mencintai mantannya. Rerata hubungan percintaan mereka adalah 2 tahun, dan sudah putus sekitar 2 bulan. Semua partisipan memiliki skor tinggi dalam perhitungan skala rasa cinta, sebuah sistem kuesioner yang diberikan ilmuwan untuk mengukur intensitas perasaan cinta mereka. Partisipan juga mengatakan bahwa mereka menghabiskan lebih dari 85 persen waktu terjaga mereka untuk memikirkan kenapa mereka ditolak pasangannya.
Pada eksperimen dimana partisipan memanang foto mantan kekasihnya, mereka ditanyai mengenai semua kenangan yang dialami bersamanya. Mereka juga diminta memandang foto anggota keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Serangkaian percobaan itu menghasilkan:
Memandang foto mantan menstimulasi bagian otak bernama ventral tegmental yang terlibat dalam motivasi dan rasa dihargai. Bagian ini juga menjadi aktif ketika seseorang sedang jatuh cinta. Ini cukup masuk akal, sebab baik dalam keadaan sedih atau senang, saat kita mencintai seseorang maka kita akan tetap mencintainya.
Bagian otak bernama nucleus accumbens dan orbitofrontal/prefrontal cortex juga ikut aktif. Ini adalah bagian otak yang berhubungan dengan kecanduan intens seperti pada kokain dan rokok.
Terjadi pula peningkatan aktivitas di bagian otak bernama insular cortex dan anterior cingulated, bagian yang terkait dengan rasa sakit dan rasa susah.
Dengan mengetahui kenapa orang bisa berbuat nekad saat putus cinta, kelak akan dapat ditemukan solusi pemecahnya. Makin lama rentang waktu yang dialami setelah pasangan putus maka terjadi pula penurunan aktivasi bagian-bagian otak tadi.


Stresnya orang tua ternyata berbeda dengan stres anak remaja. Walau menghadapi masalah yang serupa, maka respon mereka bisa jadi beda. Inilah yang dipelajari oleh Adriana Galván, seorang neurosaintis dari University of California, Los Angeles.
“Studi mengenai stress dan perkembangan kognisi kebanyakan terfokus pada stress kronis, stre hebat dan traumatis, seperti penelantaran anak dan penolakan,” ujar Galvan.
Pada riset barunya, Galvan dan tim akan berusaha mengenali kaitan antara stress sehari-hari yang berhubungan dengan hormone stress dengan keputusan yang dibuat selama masa remaja.
Saat stress, biasanya otak menginterprestasikannya sebagai situasi mengancam. Bagian otak bernama hypothalamus melepaskan hormon adrenocorticotrophic releasing hormone (ARH) yang menstimulasi kelenjar bawah otak memproduksi adrenalin dan kortisol, dan meningkatkan tekanan darah serta detak jantung. Ketika situasi stress sudah berlalu, hippocampus menghantikan produksi hormon ini sehingga tubuh kembali ke keadaan normal.
Bagaimana seseorang merespon stres akan berbeda antara satu dengan lainnya, tergantung pada pengalaman mereka terdahulu. Galván memonitor level stress para partisipannya seanyak 4 kali sehari. Dari data diketahui bahwa sumber terbesar stress para remaja adalah orang tua, sedangkan sumber stress orang dewasa adalah pekerjaan.
Ada juga perbedaan dari sisi waktu stres. Orang dewasa cenderung mengalami stress di pagi hari, sedangkan remaja di sore hari. Pada remaja, stress lebih memicu kerusakan kognitif dibanding pada orang dewasa. Galvan juga menemukan bhwa kaum remaja menghasilkan kortisol lebih banyak daripada orang dewasa saat stress.
Para partisipan juga menjalani pemindaian functional magnetic resonance imaging (FMRI) yang memungkinkan ilmuwan mengetahui bagian otak mana yang bekerja selama mereka menjalankan tugas khusus.
Dengan mengetahui apa perbedaan remaja dan orang dewasa dalam merespon stress, diharapkan dapat bermanfaat dalam pengambilan keputusan di bidang kebijakan publik, juga bagi psikiater, psikolog, pendidikan, dan pengembangan manusia. Studi ini juga menghadirkan bukti-bukti bagaimana stress mempengaruhi kemampuan kognisi dan fungsi otak.

Diberdayakan oleh Blogger.