• Vestibulum quis diam velit, vitae euismod ipsum

    Etiam tincidunt lobortis massa et tincidunt. Vivamus commodo feugiat turpis, in pulvinar felis elementum vel. Vivamus mollis tempus odio, ac imperdiet enim adipiscing non. Nunc iaculis sapien at felis posuere at posuere massa pellentesque. Suspendisse a viverra tellus. Nam ut arcu et leo rutrum porttitor. Integer ut nulla eu magna adipiscing ornare. Vestibulum quis diam velit, vitae euismod ipsum? Quisque ...

  • Aliquam vel dolor vitae dui tempor sollicitudin

    Proin ac leo eget nibh interdum egestas? Aliquam vel dolor vitae dui tempor sollicitudin! Integer sollicitudin, justo non posuere condimentum, mauris libero imperdiet urna, a porttitor metus lorem ac arcu. Curabitur sem nulla, rutrum ut elementum at, malesuada quis nisl. Suspendisse potenti. In rhoncus ipsum convallis mauris adipiscing aliquam. Etiam quis dolor sed orci vestibulum venenatis auctor non ligula. Nulla ...

  • Nam ullamcorper iaculis erat eget suscipit.

    Etiam ultrices felis sed ante tincidunt pharetra. Morbi sit amet orci at lorem tincidunt viverra. Donec varius posuere leo et iaculis. Pellentesque ultricies, ante at dignissim rutrum, nisi enim tempor leo, id iaculis sapien risus quis neque. Ut sed mauris sit amet eros tincidunt adipiscing eu vitae lectus. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos ...

Twitter

Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan


H_04_TalleyrandCount Talleyrand adalah menteri luar negeri Perancis di Jaman Kekaisaran Napoleon. Ia adalah seorang diplomat yang hebat, dan telah mengabdi sebagai diplomat, dari jaman revolusi Perancis (1789),  sampai jaman Raja Louis Phillipe (1830). Seorang Diplomat tingkat dunia yang sangat kawakan dalam seni diplomasi, selalu dijuluki ‘He/She’s Talleyrand’. Ini adalah pujian atas sumbangsih Talleyrand pada seni diplomasi di dunia.
Adapun, disini akan disajikan percakapan antara Talleyrand, dengan Tsar Alexander, Tsar Rusia. Latar belakang percakapan tersebut, adalah kekhawatiran Tsar Alexander terhadap semakin kuatnya Perancis, dan kekhawatiran bahwa akhirnya Perancis akan menguasai Eropa. Tsar memanggil Talleyrand untuk berkonsultasi, tanpa sepengetahuan Napoleon. Talleyrand memang dikenal sebagai agen ganda. Dialog ini disusun dari beberapa referensi.
Tsar Alexander (berekspresi cemas): ‘Perancis semakin hari semakin kuat, dan kami dari pihak Rusia, meminta pendapat anda, bagaimana kami harus berurusan dengan Napoleon?’
Count Talleyrand: ‘Menurut saya, Napoleon sudah membuat banyak kerusakan di Eropa, dan perang demi perang sudah terjadi karena dia’
Tsar Alexander: ‘Namun, bagaimana seharusnya kami berurusan dengan Napoleon? Perancis adalah bangsa yang besar, kelangsungan hidup bangsa kami sangat tergantung dengan hubungan baik dengan Kekaisaran Perancis’
Count Talleyrand: ‘Benar yang mulia, itu adalah hubungan baik dengan Perancis, namun bukan dengan Napoleon’
Tsar Alexander (Ekspresi terkejut dan heran): ‘Apa?….Kau….Talleyrand….Mengapa kau berkata demikian terhadap atasanmu sendiri?’
Talleyrand: ‘ Tenang yang mulia, akan saya jelaskan posisi saya. Sebagai orang Perancis, saya adalah orang yang selalu berjuang demi kejayaan tanah air saya, dan merupakan prioritas utama bagi saya, untuk mengabdi demi kepentingan bangsa Perancis. Namun, Napoleon telah merusak segalanya. Berkat dia, Perancis diseret kedalam perang yang berkepanjangan, dan rakyat kami menderita akibat ambisi dia. Adalah penting bagi saya, juga demi kepentingan bangsa kami, juga demi perdamaian eropa, bahwa Napoleon harus segera disingkirkan dari tahtanya!’
Tsar Alexander (Sangat heran): ‘Kau…….’
Hasil dari pembicaraan ini sudah jelas. Talleyrand akhirnya membelot ke Rusia, dan membangun lobi untuk menyingkirkan Napoleon. Akhirnya Napoleon tersingkir dari tahtanya, dan sewaktu dia kembali, hanya untuk dikalahkan di pertempuran Waterloo.
Sepak terjang Talleyrand memang sangat kontroversial. Pengikut Napoleon menuduh dia sebagai ‘penghianat bangsa‘, karena penghianatannya terhadap Napoleon. Namun, sebagian sejarawan Perancis memiliki pendapat lain. Setelah Napoleon disingkirkan, kekuatan utama eropa, yang dipimpin oleh Rusia, Inggris, dan Prusia(jerman) mengadakan kongres di kota Vienna, Austria.  Berkat lobi intensif dari Talleyrand, akhirnya Perancis tidak diduduki dan dipecah belah oleh Rusia, Inggris, dan Prusia. Keputusan Kongres Vienna masih tetap mempertahankan keutuhan wilayah Perancis. Berkat kepiawaian lobi Talleyrand, martabat bangsa Perancis tetap terjaga. Negara Perancis tetap utuh, dan bahkan setelah kongres, menjadi salah satu negara imperialis eropa yang utama. Sejarah memang selalu banyak cerita dibalik apa yang terlihat.
Seorang Talleyrand adalah ikon bagi seni berdiplomasi. Indonesia pun juga memiliki tokoh seperti dia, misalnya Bung Hatta dan Ali Alatas. Meletusnya kasus Ambalat, maupun masalah diplomatik kita dengan negara tetangga, sudah sebaiknya pendekatan diplomasi selalu dikedepankan. Lolosnya Perancis dari kehancuran pasca perang Napoleon, adalah berkat kelihaian diplomasi Talleyrand. Pengakuan kedaulatan oleh Belanda ke Indonesia pada tahun 1949 adalah berkat jasa Bung Hatta dan tim nya. Sementara, perdamaian di Kamboja, tidak lepas dari tangan dingin Ali Alatas dan tim. Diplomasi memang sungguh suatu seni, yang dapat menyelamatkan martabat suatu bangsa.


Premiere Stoertebeker-FestspieleRobin Hood adalah pahlawan dari Inggris, yang telah menjadi ikon bagi kaum tertindas. Dia juga diasosiasikan sebagai ‘penjahat’, oleh lawan politiknya, yaitu Sherif of Nottingham, dan Pangeran John. Namun, tahukah anda, bahwa Jerman pun juga memiliki tokoh pahlawan yang serupa dengan Robin Hood? Dia adalah Klaus Störtebeker. Kisah hidupnya pun juga penuh bumbu mistis. Lawan politik dia, yaitu petinggi Liga Hanseatik, juga menuduhnya sebagai ‘bajak laut’. Mari kita simak kisahnya!
Kebangkitan Liga Hanseatik di abad pertengahan: Jerman sebagai kekuatan maritim dunia
Jauh sebelum Inggris menguasai dunia dengan angkatan lautnya, dan jauh sebelum Amerika Serikat merdeka, Jerman telah menjadi kekuatan maritim dunia. Pada abad ke 13, beberapa negara kota di Jerman, diantaranya Bremen, Demmin, Greifswald, Hamburg. Lübeck, Lüneburg, Rostock, Stralsund dan Wismar bersatu untuk membentuk kartel perdagangan. Nama kartel tersebut adalah Liga Hanseatik, dan berkantor pusat di Lübeck (Sekarang di negara bagian Schlesweig-Holstein, Jerman utara). Sampai sekarang, Hansa stadt (Kota Hanseatik), tetap menjadi nama resmi dari kesembilan kota di Jerman tersebut, dalam rangka mengingat masa lalu gemilang mereka. Liga Hanseatik memiliki armada perdagangan yang terbaik pada jamannya. Daerah operasional Liga ini, merentang dari London, Inggris, melalui Bergen, Norwegia, sampai ke Novgorod, Rusia. Pada puncak kejayaannya, seluruh rute perdagangan di laut utara (Baltik) dan Skandinavia dimonopoli oleh Liga Hanseatik. Komoditi yang dibeli oleh anggota liga di Baltik timur, diantaranya adalah kayu, lilin, amber, resin, bulu binatang, dan gandum. Komoditi tersebut akhirnya dijual kembali di Jerman atau Inggris.
Liga Hanseatik mengalami masa kejayaannya dari abad 14 sampai 16, sebelum akhirnya mengalami penurunan pada abad 17. Akhirnya, kantor terakhir Liga Hanseatik di Hamburg, Bremen, dan Lübeck ditutup pada tahun 1862. Liga Hanseatik akhirnya mengalami penurunan dan kehancuran, karena beberapa faktor, diantaranya adalah kebangkitan Inggris dan Belanda sebagai kekuatan maritim,  Bangkitnya kekaisaran Rusia , dan menguatnya nasionalisme Jerman yang berpusat di Berlin, Prusia. Di era dimana Liga Hanseatik berkuasa dengan kapitalisme klasik mereka, tampilah seorang Klaus Störtebeker di panggung sejarah.
Siapakah Störtebeker?
Pada awalnya, Störtebeker adalah anggota dari vitalienbruder, atau tentara bayaran, yang mengabdi pada Kerajaan Swedia, sewaktu berperang melawan Denmark. Pekerjaan vitalienbruder adalah memberikan logistik pada ibu kota Swedia, Stockholm, yang saat itu dikepung oleh Tentara Denmark. Namun, setelah kontrak dengan Kerajaan Swedia selesai, vitalienbruder tetap melakukan pembajakan terhadap kapal pedagang, yang biasanya berasal dari Liga Hanseatik.
Störtebeker lahir di Wismar, Jerman, pada tahun 1360. Störtebeker dan vitalienbrudermulai diperhitungkan sebagai kelompok bajak laut, semenjak Liga Hanseatik mengusir mereka dari Pulau Gotland pada tahun 1398. Semenjak itu, Störtebeker dan rekan-rekannya mulai aktif dalam membajak kapal dagang milik Liga Hanseatik.
Störtebeker memiliki benteng di Marienhafe, Frisia timur, dari tahun 1396. Disana, dia menikah dengan anak perempuan dari penguasa Frisia. Disana, masih ada menara yang memiliki nama Störtebeker di Marienhafe.
Menurut legenda, pada tahun 1401, armada dari Hamburg, yang dipimpin oleh Simon Utrecht telah berhasil menangkap Störtebeker dan krew di dekat Helgoland. Alhasil, Störtebeker dan krewnya dibawa ke Hamburg, dimana mereka diadili atas tuduhan membajak kapal dagang. Störtebeker dan ke73 rekannya akhirnya dieksekusi dengan dipancung. Legenda yang paling terkenal mengenai Störtebeker adalah mengenai eksekusi dia sendiri. Störtebeker meminta kepada walikota Hamburg, supaya membebaskan sebanyak mungkin rekan-rekannya, yang berhasil dia lewati sambil berjalan setelah dipancung. Walikota Hamburg setuju, dan setelah dipancung, badan Störtebeker bangkit dan berjalan melewati kesebelas rekan dia, sebelum algojo menjegal kakinya. Bagaimanapun, walikota Hamburg mengingkari janjinya, dan kesebelas orang tersebut juga dieksekusi bersama rekannya yang lain.
Störtebeker dan Perlawanan kaum tertindas
“ Störtebeker itu seperti Che Guevara, seorang pejuang kebebasan, namun juga seperti Robin Hood, sebab dia melawan yang kaya, untuk membela yang miskin….Kita memerlukan seseorang seperti dia di jaman sekarang ini, karena banyak penindasan yang terjadi pada kalangan pekerja” . Demikian pernyataan dari Philip Benz, seorang warga kota Stralsund.  Menurut hikayat, Störtebeker memang dikenal selalu membagi pampasan perang secara adil kepada anak buahnya, dan juga membaginya dengan orang miskin. Lama setelah dia meninggal, Störtebeker menjadi figur propaganda politik. Kelompok kiri dan sosialis mentahbiskan Störtebeker sebagai pahlawan di abad pertengahan, melawan Liga Hanseatik yang Kapitalis. Sebuah monumen didirikan di kota Hamburg, untuk mengenang perjuangan dia sebagai pelaut yang gagah berani.
Di Jerman Timur (Deutsche Demokratische Republik/DDR) , sejak tahun 1959, produksi teater outdor telah dilakukan pada pulau Rugen, Stralsund Utara. DDR mengangkat figurStörtebeker sebagai seorang pahlawan, yang meninspirasi pembangunan negara tersebut dalam kerangka ideologi sosialisme.
Indonesia juga memiliki tokoh yang ‘anti hegemoni’ seperti Störtebeker. Contohnya, Wanabaya, yang merupakan salah satu tokoh dalam drama ‘Mangir’ dari Pramoedya Ananta Toer. Merupakan hal yang sangat baik, jika kita bisa belajar banyak dari perjuangan para tokoh yang berusaha menegakkan keadilan.
Referensi


HistSciTechHomeHampir semua kamus yang ada mendefinisikan kata “sejarah” (history) adalah rentetan peristiwa yang “benar-benar” terjadi di masa lalu. Jadi berdasarkan definisi tersebut apa yang terjadi saat ini, pada detik berikutnya sudah menjadi sebuah sejarah. Pertanyaan yang sering timbul adalah peristiwa tersebut apakah benar-benar terjadi ataukah hanya sebuah rekayasa dari penulis sejarah. Karena ada sebuah ungkapan bahwa sejarah adalah peristiwa yang dituliskan kembali oleh mereka yang berkuasa, dengan demikian akan ditulis menurut selera sang penguasa.
Namun demikian apakah itu akan menjadikan sejarah adalah sesuatu hal yang basi dan membosankan. Tidak bisa dikatakan demikian, karena pada dasarnya setiap peristiwa sejarah akan membuat rasa penasaran kita, tentang kebenarannya dan Implikasinya di kehidupan kita saat ini. Sebagaimana ucapan pemimpin kita Bung Karno yang membuat akronim JAS MERAH yaitu jangan sekali-kali melupakan sejarah, karena dengan belajar dari sejarah kita akan bisa mengambil hikmah dibalik peristiwa tersebut.
Rekayasa Komunikasi
Dari sejarah penemuan rekayasa komunikasi lintas atlantik tanpa kabel lewat kode morse yang diciptakan Guglielmo Marconi, maka dapat berkembang tekhnologi informasi Internet lintas batas. Dari penemuan golongan darah oleh Karl Landsteiner maka akhirnya berkembang metode penciptaan bayi tabung, dengan belajar pada sejarah penemuan Teori Relativitas Einstein maka berkembanglah penemuan-penemuan pesawat ruang angkasa yang mengantar Neil Amstrong untuk mendarat di bulan. Tak dapat disangkal sejarah bisa menunjukkan sebuah era yang sarat perubahan dramatis dan mencengangkan.
Sejarawan Eric Hobsbawm penulis buku “The Age of Extremes” menyebut abad XX sebagai abad yang singkat, alasannya karena banyaknya peristiwa yang muncul dan serba cepatnya perubahan yang terjadi nyaris di segala bidang, sehingga jalannya waktu terasa amat cepat dan singkat. Sehingga sejarah bukanlah sekedar kumpulan hari, tanggal, atau fakta-fakta kering di masa lalu, tetapi ada sebuah dimensi yang menujukkan peristiwa-peristiwa yang sarat akan makna.
Dalam sejarah Indonesia di abad XX banyak kejadian-kejadian yang dramatis, dimulai dari berdirinya boedi Oetomo, sumpah pemuda, kemerdekaan, peristiwa G 30 september 1965, lengsernya Soeharto, reformasi, Diturunkannya Abdurrahman Wahid, bencana tsunami, semuanya menuunjukkan sebuah periode dalam sejarah yang penuh dengan perubahan yang dramatis. Semua harus bisa kita jadikan cermin dalam upaya untuk menjadikan bangsa yang tidak akan mengulang kesalahan-kesalahan yang sama di masa kini dan yang akan datang.
Pelajaran
Pembantaian yang sangat sadis di Gerakan 30 september 1965 hendaknya dijadikan instropeksi agar tidak pernah terulang di kemudian hari. Bukan hanya kematian dan luka secara fisik saja yang dialami para korbannya tapi lebih dari itu anak cucu mereka mempunyai trauma secara psikis dan belum lagi stigmatisasi dari masyarakat bahwa mereka adalah pihak yang harus disingkirkan dalam percaturan politik di Negara ini. Belum lagi peristiwa kerusuhan dan penjarahan di mei 1998, yang memunculkan isu adanya pemerkosaan secara massal pada etnis tertentu yang sampai sekarang belum bisa dibuktikan secara hukum.
Semua itu haruslah bisa dijadikan sebuah pelajaran dari pengalaman sejarah yang tak ternilai harganya, janganlah peristiwa-peristiwa yang menyedihkan tersebut terulang di masa mendatang. Sudah terlalu banyak ongkos social yang harus dibayar karena peristiwa-peristiwa tersebut. Dalam peristiwa sejarah juga harus dapat menambah motivasi-motivasi dalam membangun bangsa ini, seperti lahirnya kebangkitan nasional, sumpah pemuda, kemerdekaan, keberhasilan pembangunan, semua haruslah menjadi cermin untuk memompa semangat juang kita.
Bagi para sejarawan, mempunyai tugas yang berat untuk menuliskan sejarah dengan berdasarkan peristiwa, fakta, dan analisa yang bisa dipertanggung jawabkan kredibilitasnya secara akademis, jangan sampai ada unsur tekanan dan paksaan dari pihak manapun sehingga sejarah yang dituliskannya menjadi bias. Karena banyak keputusan-keputusan yang dibuat saat ini untuk kepentingan jangka panjang dengan menengok pada sejarah yang telah terjadi. Sebagaimana pepatah lama yang menyatakan : “Seseorang yang lupa akan sejarahnya akan ditakdirkan untuk mengulanginya.”


Dunia ini adalah panggung sandiwara. Itulah lagu Achmad Albar, yang sangat familiar bagi kita. Namun tahukah anda, bahwa yang mengucapkan kalimat tersebut pada awalnya, adalah William Shakespeare?. Semenjak drama dan sandiwara karya Shakespeare mendunia, maka drama dan sandiwara pun menjadi kehidupan sehari-hari. ‘Hantu Shakespeare’ sudah menjadi keseharian kita, dimana dalam melakukan apapun, kita harus bersandiwara. Namun, apakah kita harus terus bersandiwara? Apakah menjadi apa adanya itu tidak mungkin? Apa latar belakang pandangan dunia ‘sandiwaraisme’ ini? Apa yang bisa menumbangkannya? Mari kita simak!
Shakespeare dan Ratu Elizabeth I
Sewaktu Ratu Elizabeth I naik tahta sebagai Ratu Inggris pada tahun 1558, negara tersebut dalam keadaan kacau balau. Dibandingkan dengan Perancis yang kaya raya misalnya, kas negara Inggris hanya sepersepuluhnya. Dibanding Spanyol, Perancis, dan Portugal, jajahan Inggris saat itu jauh lebih sedikit daripada mereka. Ratu Elizabeth mengambil langkah konsolidasi, supaya mengangkat prestise Inggris di mata internasional. Salah satu jasa dia, adalah dengan membangun angkatan laut inggris. Semenjak Inggris mengalahkan Spanyol pada perang laut tahun 1588, maka profil internasional Inggris juga semakin menanjak. Hal itu semakin jelas, sewaktu pada tahun meninggalnya Ratu Elizabeth , dan mulai bertahta pengganti Elizabeth, yaitu Raja James, di tahun 1603, akhirnya Inggris membuka koloni di Benua Amerika, yaitu di Jamestown. Dengan ini, maka Inggris menjadi negara imperialis utama dunia, bersama Spanyol, Perancis, dan Portugal. Pada waktunya nanti, di jaman Dinasti Hannover, dimana Inggris dipimpin Raja-Raja dari Jerman Utara, maka Inggris menjadi negara imperialis nomor satu di dunia, dan menyingkirkan negara lain. Di era konsolidasi imperialisme tersebut, hadirlah Shakespeare di panggung sejarah. Sebenarnya, tradisi drama Shakespearean, dengan konsolidasi imperial Inggris, sama sekali tidak bisa dipisahkan. Kerajaan kecil tersebut (saat itu), memang sedang mencari suatu tradisi, yang bisa menjadikannya setara dengan Perancis atau negara imperialis lain.
Rasanya drama-drama Shakespeare, seperti ‘Julius Caesar’, ‘Macbeth’, dan ‘Romeo and Juliet’ tidak perlu dikupas lagi, sebab sudah sering sekali diulas dan dipentaskan dalam berbagai interpretasi. Namun, akhirnya sejalan dengan menguatnya tradisi drama Shakespeare, akhirnya siapapun yang terpengaruh pandangan dunia tersebut, maka akan menjadikan drama dan sandiwara sebagai bagian dari hidupnya sehari-hari. Baik dalam berdiplomasi, bisnis, urusan famili, semuanya menjadi sandiwara. Sewaktu kita makan malam dengan sebuah keluarga Inggris misalnya, ‘table manner’ harus diperhatikan dengan benar. Cara megang sendok, garpu, dan cara minum semua harus benar sesuai dengan standar British. Disiplin pun mesti gaya British, dimana kekakuan akan tepat waktu dan bahkan gerak gerik tubuh sekalipun harus tepat dan benar.  Drama kerajaan Inggris, yang sampai sekarang juga benar2 menjadi drama opera sabun juga (Kasus Lady Di, Camilla, dll) akhirnya menjadi santapan sehari hari. Hal itu terjadi di negara lain juga. Di Perancis, juga terkenal skandal Ratu Margot, istri Louis XIII, yang memiliki PIL, sama juga dengan Lady Di. Jika suka menonton TV BBC (British Broadcasting Corporation), maka kita akan langsung paham, bahwa debat parlemen diHouse of Commons penuh dengan tata krama dan sopan santun. Opera sabun kerajaan, Tradisi/Ritual, Table manner, sopan santun, debat parlemen dan atau tata krama, menjadi bagian dari drama dan sandiwara sehari-hari, sesuai dg pandangan dunia Shakespearean. Dramaisme tersebut juga berlaku di seluruh eropa dan jajahannya, sampai 14 Juli 1789, sewaktu revolusi Perancis meletus.
‘Gempa Bumi’ Revolusi Perancis terhadap Pandangan dunia Shakespearean
Kelompok borjuis Perancis merupakan kelas menengah yang baru tumbuh. Mereka bukan berasal dari kalangan bangsawan, namun berasal dari pedagang atau pekerja. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai pengacara, dokter, atau pedagang. Ada tiga orang yang menonjol dari kalangan tersebut, yaitu Marat, D’anton, dan Robespierre. Walau banyak sekali pihak yang nantinya terlibat dalam perjalanan Revolusi Perancis, namun tiga orang tersebut adalah orang yang paling berpengaruh dalam menentukan jalannya revolusi. Tradisi kaum borjuis Perancis, sangat berbeda dengan dramaisme Shakespearean. Dalam perspektif mereka, kebenaran bukanlah harus dibungkus dalam serangkaian tradisi/ritual/atau drama, namun harus diperjuangkan. Memperjuangkan kebenaran tersebut, bisa juga dengan memperdebatkannya, atau dengan diskusi panjang lebar secara apa adanya. Cara lain, tentu dengan melakukan pemberontakan. Kelompok borjuis ini, memiliki kontak yang sangat ekstensif dengan para borjuis di new england, di benua Amerika. Sewaktu para borjuis new england melakukan pemberontakan melawan imperialis Inggris pada 4 Juli 1776, dan memproklamirkan negara baru, yaitu Amerika Serikat, maka para borjuis Perancis serta merta mendukung penuh. Marquis De La Fayette, merupakan salah satu borjuis Perancis yang terjun langsung dalam perang kemerdekaan Amerika Serikat (AS) melawan Inggris. Pada saat revolusi Amerika berlangsung, Thomas Jefferson, yang nantinya menjadi Presiden AS ke tiga, menjabat sebagai duta besar Amerika Serikat untuk Perancis. Hubungan dekat dia dengan borjuis Perancis tersebut, yang menjadikan negara baru tersebut memperoleh dukungan internasional. Benjamin Franklin, salah satu founding father AS, juga merupakan teman dekat dari Voltaire, seorang sastrawan besar Perancis. Keberhasilan Revolusi AS tahun 1776 tersebut, yang juga mereka dukung, menjadikan para borjuis Perancis berpikir, bahwa revolusi serupa juga dapat dilakukan di tanah air mereka.
Cerita sejarah lengkap revolusi Perancis, tentu saja tidak perlu dibahas disini. Tempat lain sudah membahasnya secara lengkap. Kaum borjuis, yang memang sangat terdidik dan memiliki tradisi yang berbeda dengan kerajaan, akhirnya merancang suatu coup d’etatterhadap kerajaan. Akhirnya 14 Juli 1789, rakyat Paris menyerbu penjara Bastille, dan beberapa saat setelah itu, Robespierre dkk memproklamirkan pemerintahan sementara Republik Perancis. Dalam sejarah modern Perancis, periode ini dinamakan Republik pertama (Pemerintahan Nicholas Sarkozy sekarang sudah era Republik kelima).
Semangat Revolusi Perancis, dengan semboyan mereka ‘liberte, fraternite, et egalite’ (Kebebasan, Persaudaraan, dan Persamaan) menjadi virus yang menyebar luas ke seluruh eropa. Di Jerman, pada tahun 1794, diproklamirkan Republik Koln, sesuai dengan semangat revolusi perancis. Otto von Bismarck, kanselir pertama jerman, juga termasuk figur besar yg dipengaruhi oleh semangat Revolusi Perancis, sebab ia juga terlibat pada revolusi kaum liberal jerman pada tahun 1848. Sejalan dengan bertransformasinya Perancis dari Kerajaan yang penuh tata krama dan ritual, menjadi Republik yang egaliter, maka seluruh eropa daratan mengikuti teladan yang diberikan Perancis. Jerman dan Italia juga mengikuti dalam beberapa waktu kemudian, yaitu menjadi Republik. Sementara di Rusia, kaum Bolshevik, yang juga dipengaruhi semangat revolusi Perancis, pada tahun 1917 sukses melakukan Coup d’etat terhadap Tsar, dan memproklamirkan Uni Soviet. Sampai sekarang, Rusia yang dahulunya monarki yang sangat kolot, masih tetap menjadi Republik.
Virus Revolusi Perancis ini, sangat dibenci oleh Inggris. Membayangkan bahwa kerajaan Inggris dengan semua tradisi dan ritualnya, akan disapu bersih oleh ‘anarkisme’ revolusi Perancis, merupakan hal yang sangat mengerikan bagi mereka. Untuk menjaga supaya tradisi kerajaannya tetap lestari, maka Inggris melakukan perlawanan habis-habisan terhadap ide revolusi perancis. Inggris mendukung negara yang menjadi musuh Perancis, seperti Rusia dan Prusia/Jerman. Namun, dengan berjalannya waktu, akhirnya semua sia-sia. Amerika Serikat, yang merupakan bangsa yang lahir dari kolaborasi borjuis New England dan Perancis, akhirnya menjadi negara adidaya, jauh meninggalkan Inggris. Bahkan di Perang Dunia I dan II, AS banyak sekali membantu Inggris, dalam rangka melawan Jerman. Tanpa bantuan AS, Inggris bisa saja ‘lenyap’ ditelan oleh para pasukan tempur Gothic tersebut. American English, bukan British English, menjadi bahasa bisnis internasional. Waktu membuktikan, bahwa akhirnya dunia barat dibangun oleh kerja keras para borjuis yang selalu apa adanya, bukan oleh bangsawan yang penuh ritual.
Hikmah Cerita tersebut
Cerita diatas masih memiliki relevansi dengan bangsa kita. Para founding father kita, yaitu Bung Karno dan Bung Hatta, selalu terinspirasi oleh pergolakan yang terjadi di Eropa. Mereka berdua menguasai beberapa bahasa eropa, selain Belanda dan Inggris, dan selalu berusaha membaca referensi barat dalam bahasa aslinya. Walau memiliki banyak ketidak sepahaman, Bung Karno dan Bung Hatta selalu bersahabat baik. Bahkan dimasa ketika Bung Karno memberlakukan demokrasi terpimpin, dan Bung Hatta sangat tidak sepaham dengan konsep itu, mereka selalu menyempatkan diri untuk saling berkorespondensi lewat surat. Walau banyak ketidak setujuan, selalu terjadi dialog yang bersifat apa adanya diantara kedua bapak bangsa tersebut. Mereka tidak pernah menyembunyikan apapun satu sama lain. Bahkan dialog dan debat yang bersifat apa adanya tersebut sudah dimulai sejak awal, ketika persiapan proklamasi. Sewaktu rapat BPUPKI, diperlukan debat dalam jangka waktu lama, hanya untuk menentukan apa dasar negara kita. Akhirnya, Pancasila diputuskan menjadi dasar negara. Penentuan bentuk negara Indonesia, yang merupakan republik, bukan monarki, juga merupakan simbolisme dari semangat Revolusi Perancis. Bukan kebetulan, bahwa kedua bapak bangsa kita memang dari awal tidak pernah cocok dengan konsep monarki, yang ditumbangkan oleh Revolusi Perancis.
Melihat konsepsi ini, memang benar-benar tidak mungkin mengatakan, bahwa ajaran Soekarno-Hatta adalah benar-benar ajaran lokal murni. Selain pemikiran mereka penuh warna revolusi Perancis, yang dikontekstualisasi, pemikiran mereka benar-benar berkehendak untuk mengintegrasikan Indonesia dengan dunia, bahkan kalau perlu menjadi pemimpin dunia. Bukan justru mengisolasi diri dari dunia dengan segala kekolotannya. Bercermin dari ajaran mereka, bisa disimpulkan bahwa ajaran apa adanya dan kejujuran, bukanlah semata-mata ajaran orang bule atau barat, namun merupakan bagian dari kearifan lokal, sebab pernah dipraktekkan oleh para bapak bangsa kita, yang dahulu kala mengecap pendidikan Belanda. Menjadi apa adanya, tanpa perlu bersandiwara, sebaiknya mulai dibudayakan sejak awal. Tren dunia sekarang berjalan ke era tersebut. Web 2.0, globalisasi, dan perdagangan bebas telah mengharuskan kita untuk lebih transparan dalam merepresentasikan diri kita. Era penuh sandiwara sudah sepantasnya ditinggalkan, supaya kita menjadi diri kita sendiri. Drama dan sandiwara cukuplah menjadi bagian dari tradisi teater kita yang kaya, bukan menjadi bagian hidup sehari-hari.


15Netsains.Com – Tulisan ini adalah bagian kedua dari dua tulisan. Di artikel terdahulu sudah disebutkan bahwa Perang Salib mampu menjadi media transfer budaya dan ilmu pengetahuan Islam ke dunia barat. Selain bahasa Arab yang banyak dipelajari orang Barat masa itu, sejumlah peradaban Islam juga terserap ke dunia Barat.
Pengetahuan kedokteran Islam juga terbukti sudah unggul di masa tersebut.
Usamah Ibn Munqidh, seorang politikus dan diplomat era itu, pernah melihat pasien wanita yang dikeluarkan otaknya hidup-hidup karena dokter kaum Frank itu menyangka ada setan yang bersarang di kepala wanita itu sehingga dia sakit. Akibatnya, tentu saja pasien wanita itu tewas. Dalam bidang ini terjadi interaksi yang sangat dinamis antara kaum Frank dan kaum Muslim. Sewaktu salah seorang anak pemimpin kaum Frank, Amalric, sakit, dia meminta Abu Sulayman, seorang dokter muslim, untuk mengobatinya. Setelah Salahuddin merebut Yerussalem, keluarga Amalric ini mengabdi kepada Salahuddin dan penerusnya (Hillenbrand, 2007: 440).
Dalam ilmu arsitektur, ada asumsi bahwa telah terjadi pertukaran ataupun percampuran budaya antara kaum Muslim dan kaum Frank. Misalnya saja penggunaan kembali bahan bangunan tentara Salib pada monumen-monumen Islam. Di dalam masjid Aqsha, misalnya, beberapa material bekas yang digunakan pada lengkungan-lengkungan depan bangunan merupakan ornament pahatan yang berasal dari bangunan tentara Salib abad kedua belas (Hillenbrand, 2007: 476).
Pintu masuk gereja di St.Jean d’Acre dibawa dari Acre pada 1291 dan dipasang di masjid al-Nashir di Kairo. Patina-patina (meja berbentuk sigma) yang antic kembali digunakan di masjid-masjid Suriah. Tampaknya motif dari perbuatan itu adalah untuk menegaskan kemenangan kaum Muslim atas tentara Salib.
Selain itu, banyak pula tempat minum yang dipahat dengan menggunakan gaya Arab sekaligus gaya kaum Frank. Para penguasa muslim dan kaum Frank biasa saling bertukar hadiah-hadiah mewah sebagai bagian dari kehidupan politik kemudian dipajang di rumah mereka masing-masing (Hillenbrand, 2007: 479-485).
Selain itu, petunjuk interaksi antara kaum Frank dan kaum Muslim di bidang ilmu pengetahuan ditandai dengan banyaknya kosakata Eropa yang mengambil dari bahasa Arab, diantaranya zenith (samt, ‘zenit’), azimuth (samt, ‘azimuth’), dan astrolabe (asthralab, ‘astrolab’). Ini menunjukkan bahwa Eropa berutang budi pada kaum Muslim dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.
Peradaban
Michaud mengatakan bahwa tidak ada peristiwa yang lebih menentukan dalam sejarah Abad Pertengahan selain perang penaklukkan tanah suci, atau istilah itu kita kenal dengan perang Salib. Perang Salib jelas mempunyai dampak yang sangat besar, baik terhadap Eropa ataupun kaum Muslim. Diantara dampak itu adalah berkat Perang Salib, terjadi interaksi yang sangat intens antara Eropa (kaum Frank) dengan kaum Muslim di berbagai bidang seperti kebudayaan, ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, dan lain-lain.
Karakter kaum Frank digambarkan tidak mengenal peradaban, jarang mandi, dan kotor. Berkat interaksinya dengan kaum Muslim, sedikit demi sedikit mereka mengenal peradaban. Begitu pula di bidang ilmu pengetahuan, banyak pemimpin kaum Frank yang belajar bahasa Arab dan ilmu-ilmu lain.
Yang menarik adalah terjadi percampuran budaya antara kaum Frank dan kaum Muslim dalam seni arsitektur. Ada juga beberapa kosakata Eropa yang asal katanya berasal dari bahasa Arab. Setelah perang Salib selesai, kaum Frank kembali ke negerinya masing-masing sambil membawa kebudayaan dan ilmu pengetahuan kaum Muslim yang telah menjadi satu di dalam diri mereka. Selanjutnya, nilai-nilai peradaban unggul itu mereka sebarkan ke seluruh Eropa hingga akhirnya terjadi Renaissance.


crusade-lagiCatatan: Artikel ini merupakan bagian dari makalah saya yang berjudul Perang Salib Sebagai Media Transfer Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Islam Menuju Barat. Bagian pertama dari dua tulisan.
Adalah satu realita pahit yang harus kita telan bahwa penguasa ilmu dan peradaban pada saat ini adalah Barat, sedangkan umat Islam pada saat ini hanya menjadi peran pembantu. Seperti yang kita tahu, awal mula berkuasanya Barat adalah saat bangkitnya mereka dari the Dark Ages menuju Renaissance yang berawal dari Italia dan menyebar ke seluruh Eropa.
Menurut Drs.Burhanuddin Salam, M.M, dalam bukunya Sejarah Filsafat Ilmu dan Teknologi halaman 150, periode Renaissace ini dimulai sejak abad ke-12, ketika Gerrard Van Cremona menyalin kembali filsafat Yunani dari umat Islam atau hasil kebudayaan Islam, seperti Canon of Medicine di bidang kedokteran hasil karya Ibnu Sina atau yang di Barat lebih dikenal dengan Avicenna. Pekerjaan penerjemahan ini terus berlangsung terus pada abad 13 dan abad 14. Sejak itu ratusan bahkan ribuan buku umat Islam pun diterjemahkan lalu dipelajari oleh para mahasiswa Barat hingga Renaissance pun muncul.
Sayangnya, Barat telah bersikap tidak jujur kepada diri sendiri tentang sumber-sumber peradaban modern dari dunia modern yang dibangunnya. Barat hanya mengakui agama Kristen, warisan Yunani-Romawi, dan kebudayaan tradisionalnya saja. Barat tidak mengakui peradaban Islam sebagai salah satu sumber pemicu kebangkitannya. Ada missing link di antara masa Yunani-Romawi dan Renaissance.
Ada sejarah yang hilang. Memang, pada saat itu Barat tengah memasuki masa yang kita sebut the Dark Ages di mana Barat memasuki masa keterbelakangan yang amat parah. Namun, masa keterbelakangan itu adalah satu petunjuk samar bahwa di belahan dunia lain tentu ada peradaban yang telah berhasil merebut dominasi Yunani-Romawi. Peradaban itu adalah peradaban Islam.
Salah satu sebab mengapa karya-karya umat muslim bisa diterjemahkan oleh orang Barat, itu karena kedua peradaban itu saling berinteraksi. Dan salah satu momen emas untuk kedua peradaban itu saling berinteraksi adalah Perang Salib. Para sejarawan telah mengakui dengan gamblang bahwa Perang Salib telah membuka mata bangsa Barat akan ilmu pengetahuan dan peradaban yang lebih tinggi.
Sayangnya, pembahasan mengenai bagaimana proses transfer ilmu dan peradaban dari umat Islam menuju Barat sangat minim. Di artikel ini, penulis akan berusaha menyajikan secara singkat bagaimana proses itu terjadi.
Interaksi Kaum Muslin dan Kaum Frank di Bidang Ilmu
Sumber-sumber Islam menuturkan bahwa para pemimpin tentara Salib berusaha keras belajar bahasa Arab. Richard the Lion Heart sendiri mempelajari bahasa Arab (Hillenbrand, 2007: 411). Selain itu, ketika dipenjara, Raymond dari Tripoli pun berusaha keras belajar bahasa Arab.
Tampaknya tujuan awal mereka adalah untuk mempertahankan hidup mereka di negeri kaum Muslim. Yang ironis, mayoritas kaum Muslim enggan belajar bahasa kaum Frank yang notabene terdiri dari beberapa bahasa Eropa seperti bahasa Inggris, Prancis, dan Jerman (Hillenbrand, 2007: 409). Sikap ini juga terlihat dari sikap para sejarawan Muslim pada masa itu yang tidak menganggap belajar bahasa kaum Frank adalah hal yang penting. Tampaknya sikap itu muncul karena kaum Muslim merasa bahwa tingkat pendidikan dan peradabannya lebih hebat dibanding kaum Frank.
Seorang tentara Salib pernah menawarkan kepada Usamah agar putranya belajar seni militer di Eropa. Namun, Usamah menolak. Dia malah berkata bahwa seorang yang benar-benar terpelajar tidak akan menyesal menolak tawaran belajar ke Eropa itu.
Dalam bidang kedokteran, jelas kaum Muslim jauh lebih unggul. Para dokter Muslim ahli dalam mendiagnosis luka, menyembuhkan penyakit, bedah-membedah, menjahit luka, membalut luka, makanan, transfusi darah, dan lain-lain. Sementara itu, tingkat keahlian dokter kaum Frank jauh tertinggal.
Masih ada beberapa kisah lain yang membuktikan bahwa peradaban medis Islam sudah cukup maju di zaman itu. Apa saja? Bersambung ke bagian kedua tulisan ini.


Mata yang indah dan sehat sangatlah penting karena mata adalah jendela hati. Tetapi semakin lama fungsi mata akan semakin lemah dan hal ini merupakan gejala alami yang sulit dilawan. Manusia telah punya banyak alternatif untuk mempertahankan fungsi mata, misalnya menggunakan kacamata dan lensa kontak.
Lensa kontak makin hari makin populer saja dan menjadi pilihan, baik untuk alasan medis maupun fesyen. Ada baiknya sebelum ada memutuskan untuk memakain lensa kontak, ketahui dulu rambu-rambu penggunaan dan pemeliharaannya.
Popularitas lensa kontak baru terasa dalam beberapa tahun terakhir, tetapi keberadaannya sudah ada sejak lama. Menurut ahli sejarah, ide lensa yang menempel langsung pada bola mata sudah sejak tahun 1000 dan terdokumentasikan pada tahun 1508 dari sketsa tentang kaca mata yang langsung bisa dikenakan pada bola mata oleh Leonardo Da Vinci. Da Vinci dikenal sebagai inspirator bagi penemuan-penemuan alat-alat yang semakin hari semakin mutakhir dan dapat kita lihat pada saat ini.
Versi lain sejarah lensa kontak dipercaya ditemukan oleh Rene Descartes pada tahun 1632. Descartes membuat lensa yang dikenakan pada kornea mata dan membuat gelas yang diisi air untuk menetralkan kekuatan kornea mata. Dua ratus tahun kemudian ide awal Leonardo Da Vinci dan Rene Descartes terealisasikan oleh seorang fisikawan Inggris Thomas Young, dengan membuat tabung gelas berisi air dan memuat lensa yang sangat kecil. Pada tahun 1827, Sir John Herschel anak dari seorang ahli astronomi Inggris kenamaan William Herschel membuat lensa yang dihaluskannya sendiri sehingga pas dipakai langsung pada permukaan mata. Penemuan Sir John Herschel ini menjadi sejarah penting bagi perkembangan lensa kontak yang ada sekarang ini.
Menurut salah satu lembaga survey dunia diperkirakan ada 250 juta orang di dunia yang menggunakan lensa kontak atau 4 % dari jumlah manusia termasuk 40 – 60 juta orang di Amerika Serikat dan 20 juta orang di Jepang. Penggunaan lensa kontak merupakan salah satu teknik yang membantu penderita gangguan mata yang kurang nyaman bila menggunakan kacamata. Banyak lensa kontak diwarnai biru untuk membuat mereka lebih mudah terlihat saat dibersihkan, disimpan atau saat dipakai atau warna-warna lain untuk mengubah penampilan mata pemakainya.
Lensa kontak adalah lensa korektif yang mengoreksi kelainan refraksi (pembiasan atau penyimpangan arah), atau kelainan penglihatan yang disebabkan adanya ketidaksesuaian optik (sistem pencahayaan) pada mata. Dapat juga berfungsi sebagai kosmetik, atau terapi yang biasanya ditempatkan di kornea mata. Lensa kontak biasanya mempunyai kegunaan yang sama dengan kacamata konvensional atau kacamata biasa, tetapi lebih ringan dan bentuknya tak nampak saat dipakai.
Bentuk lensa kontak adalah lensa tipis yang diletakkan di dataran depan kornea. Lensa tipis ini mempunyai diameter 8-10 mm dan nyaman dipakai karena terapung pada selaput bening, seperti kertas yang mengapung pada air. Supaya terapung dengan baik pada permukaan selaput bening maka permukaan belakang lensa berbentuk sama dengan permukaan depan selaput bening.
Setiap orang mempunyai bentuk lensa yang berbeda permukaan kecembungannya di depan selaput bening. Permukaan belakang kornea atau basecurve lensa kontak dibuat cembung kuat, flat atau normal agar dapat menempel secara longgar pada permukaan. Pelonggaran ini supaya air mata (tepatnya film air mata) dengan mudah masuk di antara lensa kontak dan selaput bening. Fungsi film air mata ini adalah untuk membawa oksigen ke selaput bening.
Bentuk lensa kontak untuk rabun jauh atau myopia, yaitu bayangan difokuskan di depan selaput jala atau retina, diperlukan lensa kontak negatif (tipis di tengah) yang dapat memperlemah pembiasan sinar ke belakang. Bagi penderita rabun dekat atau hipermetropia diperlukan lensa kontak positif (tebal di tengah dan tipis di tepi). Bagi penderita mata silindris atau astigmat (pembiasan sinar tidak pada satu titik), yang diperlukan adalah lensa kontak yang bentuknya silinder sesuai dengan kekuatan lensa silindris yang diperlukan.
Dari sisi bahan baku pembuatannya, ada berbagai macam jenis lensa kontak diantaranya lensa kontak lunak atau softlens yang terbuat dari hidrogel. Lensa kontak keras (semi hardlens atau rigidlens), yaitu lensa kontak kaku yang terbuat dari bahan silikon akrilat. Lensa kontak rigid gas permeable (RGP) atau lensa kontak kaku yang tembus gas oksigen dan karbon dioksida yang merupakan hasil pengembangan lensa kontak keras. Lensa keras memberikan penglihatan yang tajam, tetapi kelenturannya kurang sehingga perlu penyesuaian pada selaput bening dan sering terasa kelilipan. Lensa lembek bersifat lentur dan cepat mengikuti kelengkungan selaput bening, namun mudah menjadi tidak bening karena mengandung air.
RGP memang relatif lebih mahal dari softlens, tetapi bisa tahan sampai setahun. Selain itu RGP dapat menghambat pertambahan minus mata yang tinggi, khususnya yang sejak kanak-kanak sudah minus. Kelemahan RGP adalah lamanya proses adaptasi mata hingga diperlukan waktu 1-2 minggu. Lamanya adaptasi membuat orang jarang memilih RGP. Berbeda dengan RGP, softlens tidak memerlukan waktu adaptasi yang lama, penggunanya bisa langsung merasa nyaman pada hari pertama.
Ada pula jenis lensa kontak terapi, berbahan lunak dan bisa mengantarkan obat-obatan tertentu dalam waktu lama, sering digunakan pada pasien sakit mata yang memerlukan obat tetes mata terus-menerus. Obat mata diteteskan ke lensa kontak dalam dosis tinggi agar dapat dirilis pelan-pelan ke mata, sehingga tak perlu repot lagi meneteskan obat terus-menerus.
Lensa kontak mempunyai kelebihan dibandingkan kacamata. Bebas gangguan embun seperti yang terjadi di kaca mata ketika hujan. Lapang pandangan menjadi lebih luas tanpa gangguan tepi bingkai kacamata sehingga mempermudah saat berolah raga dan mengendarai kendaraan. Lensa kontak akan mengoreksi tajam penglihatan lebih baik dibanding kaca mata. Terutama bagi yang mengalami kelainan-kelainan refraksi yang tinggi. Pada mata silinder yang tinggi, lensa kontak juga mengoreksi lebih baik ketimbang kaca mata. Tersedia dalam berbagai pilihan warna untuk keindahan dan dapat digunakan sebagai pengobatan seperti pada luka bakar kimia.
Resiko Komplikasi
Komplikasi pemakaian lensa kontak yang terbanyak adalah reaksi alergi. Lensa kontak yang memiliki kadar air tinggi, daya hantar oksigennya lebih bagus dibanding yang berkadar air rendah. Lensa kontak dengan kadar air tinggi juga punya kelemahan, semakin tinggi kadar airnya, akan lebih mudah menimbun lemak, protein, dan kotoran yang berasal dari air mata yang menempel pada lensa kontak, sehingga tak bisa lagi hanya dibersihkan dengan cairan perawatan.
Reaksi alergi dapat juga timbul karena masuknya benda pembawa alergi (debu atau serbuk) ke dalam mata. Umumnya alergi terjadi musiman dan penderita memang memiliki riwayat alergi, dengan gejala timbul rasa gatal, mata merah, pembengkakan di kelopak mata. Cara penanggulangannya adalah hindari faktor penyebab alergi, menghilangkan bengkak dengan mengompres pakai air dingin dan bila ada peradangan gunakan obat anti radang dan beri obat antialergi.
Selain alergi dapat juga terjadi infeksi dengan masuknya organisme berbahaya ke dalam mata seperti bakteri, jamur, protozoa, dan virus. Gejala yang timbul adalah mata merah, kelopak mata lengket, air mata berlebihan, daya penglihatan berkurang dan timbul noda pada kornea. Tindakan pertama yang harus dilakukan adalah kompres mata dengan air dingin, memberi air mata buatan dan terapi antibiotik jika perlu.
Sindroma mata kering (kerato conjunctivitis sicca) yaitu munculnya noda (keratitis) kronis pada kornea inferior. Komplikasi ini karena produksi sekresi air mata pemakai lensa tidak cukup dengan gejala mata terasa terbakar, air mata sering keluar dan cairan di mata cenderung berlebihan. Pengobatan dapat dilakukan dengan memberi suplemen air mata, salep dan mengganti materi lensa kontak. Jika tak berhasil, hentikan pemakaian lensa kontak.
Infiltrates atau peradangan pada jaringan mata akibat lensa kurang bersih, oksigen yang kurang, reaksi alergi hingga muncul infeksi. Biasanya tampak seperti sekelompok sel berwarna putih (white internal cell clusters) dengan gejala penglihatan berkurang, mata merah, timbul noda putih di mata. Komplikasi ini bisa diatasi dengan mengihindari pemakaian lensa kontak saat aktif, sering-sering berganti lensa, memberikan antibiotik, dan perhatikan cara merawat lensa.
Noda kornea atau Spherical Punctuated Keratinize (SPK), terjadi akibat penggunaan lensa yang terlalu ketat, sehingga mata kekurangan oksigen, alergi atau keracunan dengan tanda-tanda merasa tidak nyaman, sensitif terhadap cahaya dan ada noda pada kornea mata. Pengobatan dapat dilakukan dengan mengurangi atau menghentikan sama sekali pemakaian lensa kontak.
Blepharitis atau radang kelopak mata, terjadi akibat lensa tidak cocok, dengan gejala timbul gatal-gatal, kelopak mata seperti terbakar, timbul kerak pada kelopak mata, pembuluh darah mata tampak jelas, kelopak mata saling menempel dan biasanya diikuti dengan SPK. Untuk sementara hentikan pemakaian lensa kontak, kompres mata dengan air hangat atau diberi salep antibiotik.
Corna edema dimana cairan dalam kornea berlebihan, sehingga menimbulkan stres pada kornea. Biasanya karena mata kekurangan oksigen dengan gejala penglihatan berkabut, mata merah, kenyamanan berkurang saat lensa dibuka, terdapat kristal di kornea, tampaknya pembuluh darah tampak dan timbul SPK. Pengobatan dapat dilakukan dengan menambah oksigen pada mata, mengurangi atau menghentikan pemakaian lensa kontak.
Berbeda dengan kacamatan, lensa kontak adalah alat bantu penglihatan yang menempel langsung pada bagian dalam mata. Sebelum menggunakannya, kaji dulu plus minus penggunaannya dan bila sudah menggunakannya pandai-pandailah merawatnya agar terhindar dari dampak negatifnya.

Diberdayakan oleh Blogger.