• Vestibulum quis diam velit, vitae euismod ipsum

    Etiam tincidunt lobortis massa et tincidunt. Vivamus commodo feugiat turpis, in pulvinar felis elementum vel. Vivamus mollis tempus odio, ac imperdiet enim adipiscing non. Nunc iaculis sapien at felis posuere at posuere massa pellentesque. Suspendisse a viverra tellus. Nam ut arcu et leo rutrum porttitor. Integer ut nulla eu magna adipiscing ornare. Vestibulum quis diam velit, vitae euismod ipsum? Quisque ...

  • Aliquam vel dolor vitae dui tempor sollicitudin

    Proin ac leo eget nibh interdum egestas? Aliquam vel dolor vitae dui tempor sollicitudin! Integer sollicitudin, justo non posuere condimentum, mauris libero imperdiet urna, a porttitor metus lorem ac arcu. Curabitur sem nulla, rutrum ut elementum at, malesuada quis nisl. Suspendisse potenti. In rhoncus ipsum convallis mauris adipiscing aliquam. Etiam quis dolor sed orci vestibulum venenatis auctor non ligula. Nulla ...

  • Nam ullamcorper iaculis erat eget suscipit.

    Etiam ultrices felis sed ante tincidunt pharetra. Morbi sit amet orci at lorem tincidunt viverra. Donec varius posuere leo et iaculis. Pellentesque ultricies, ante at dignissim rutrum, nisi enim tempor leo, id iaculis sapien risus quis neque. Ut sed mauris sit amet eros tincidunt adipiscing eu vitae lectus. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos ...

Twitter

Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan


Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dalam istilah penilaian pendidikan merupakan titik terendah kejaran yang ditetapkan untuk menjadi target sehingga kita benar-benar mengakumulasikan segenap kekuatan dan kemampuan untuk mencapai titik tersebut. Eskalasi usaha yang timbul itulah yang menjadi secercah harapan seberapa tujuan pendidikan akan tercapai. Seberapa kemungkinan dunia pendidikan dinegeri tercinta ini maju.
Pertanyaan yang timbul adalah sudahkah KKM yang kita tentukan memberikan harapan kemajuan bagi negeri ini? Adakah KKM yang kita tentukan menimbulkan gairah berupaya untuk menyingsingkan lengan baju bekerja keras, sistematis dan berkesinambungan? Atau justru kita buat KKM yang sama sekali tidak memotivasi sehingga kekuatan dan kemampuan yang adapun tidak diberdayakan maksimal.
Mungkin kita dapat merepleksi semuanya. Pada saat ini tidak sedikit tapi tidak terlalu banyak “mindset” guru yang sudah merasa cukup “lunas” bekerja ketika sudah merencanakan pembelajaran, melaksanakannya, mengevaluasi, mengadakan perbaikan pengayaan sekedarnya kemudian menilai dan menaruh nilai itu pada daftar nilai. Bahkan tidak sedikit yang melenyapkan beberapa fase, yang penting menelorkan nilai pada daftar nilai. Padahal semestinya harus tertanam pemikiran bahwa tugas guru adalah membuat siswa menjadi hebat dalam materi apapun yang dibahasnya.
Untuk menjadi hebat mungkinkah dengan KKM yang 60% saja? Sepertinya 75% pun hanya membuat siswa kita biasa-biasa saja. Untuk hebat minimal 90% bahkan 100%. Kenapa tidak? Itu sasaran, itu target, hanya dengan target dan sasaran itulah kemungkinan segenap kemampuan indrawi ini bereaksi terpancing untuk mencurahkan segenap kemampuan dan kekuatan.
Mungkin beberapa orang dari kita berpikir bahwa itu hanya mimpi. Tidak terlalu salah memang, apabila kita tidak segera bangun. Beberapa analisis yang dijadikan patokan penetapan KKM seperti
1. Kompleksitas indikator (Kesulitan & Kerumitan)
2. Daya dukung (sarana/prasarana, kemampuan guru, lingkungan, dan biaya)
3. Intake siswa (masukan kemampuan siswa)
Itupun sepertinya dapat dipahami sebagai sebuah upaya untuk tidak terlalu sekenanya saja, “mengawang-ngawang” tapi kalau pada akhirnya apapun itu teori dan seberapa “jelimet” analisisnya kalau hanya menghasilkan sebuah bahu sandaran untuk dijadikan alasan dan tidak menimbulkan gairah eskalasi usaha dalam peningkatan mengajar dan belajar, sepertinya harus dikaji kembali.
Berbicara tentang kemampuan siswa seorang guru mestinya jangan melemahkan kemampuan siswa. Apalagi diri sendiri baik gurunya apalagi siswa belum apa-apa sudah merasa tidak mampu. Kita jangan sampai seperti seekor anak elang yang dierami induk ayam. Menetas, bermain dan mencari makan dengan sodara tetasnya anak ayam. Suatu saat di atas langit sana terbang seekor elang jantang dengan gagahnya. Semua anak ayam takut dan segera sembunyi diketek induknya. Anak ayam yang sebenarnya anak elang melongo dibalik bulu induk ayam sambil berkhayal betapa hebat dan gagahnya kalau dia dapat terbang melayang seperti elang di atas sana. Tapi sampai dewasa dia tidak mencoba mengepakan sayapnya sehari-harinya hanya mencakar tanah mengais-ngais cacing sampai pada akhirnya mati seperti ayam-ayam yang lain.
… … …
Semua anak mempunyai kemampuan yang sama hanya mungkin kecepatan daya tangkapnya yang berbeda. Maka strategi yang mungkin adalah pengkondisian remedial yang benar-benar matang dan sistematis. Guru sepertinya harus merencanakan alokasi remedial/perbaikan yang cukup banyak. Dan sebagai penghargaan terhadap hasil usaha mestinya nilai yang diterakan pada daftar nilai adalah nilai terakhir yang terbaik. Bagaimana dengan anak yang sudah tuntas tapi nilainya jadi dibawah yang perbaikan? Untuk itu iklim dan musimnya sekarang harus berubah kepada mereka tawarkan untuk ikut tes lagi atau puas dengan nilai sebelumnya. Dan pilihan anak adalah gambaran tingkat kecerdasan dan kecerdikan dirinya. Suasana ini akan cukup meningkatkan derap belajar bagi semua siswa baik yang lambat pun yang cepat.
Bukankah kita sudah mencoba KKM tinggi tapi hasilnya tetap rendah, sehingga untuk tahun ini kami turunkan. Mungkin ini salah satu kasus pula yang membuat kita tidak optimis. Persoalannya adalah sudahkah tahun lalu kita meremidi dengan sungguh-sungguh. Bukankah prinsip belajar tuntas mestinya jangan melanjutkan dulu sebelum mencapai target (dalam hal ini KKM) kita. Bukankah kita terbatas waktu masa harus terus menerus meremidi? Untuk itulah kita mesti mengalokasikan waktu yang cukup sepertinya seumpama untuk 12 jam maka untuk 6 jam terakhir adalah wilayah perbaikan (?).
Bukankah dan bukankah…….. … … …
Penulis menyadari semua yang biasa terjadi itulah kenyataan dan bukan tanpa kerja keras, adakalanya dengan hampir tetesan keringat darahpun titik ideal yang kita harapkan tetap sulit dijangkau dan semua itu terbentur dengan segenap persoalan lapangan yang luar biasa variatif.
Namun apabila masih mungkin barangkali ada celah yang masih belum kita dayagunakan secara maksimal. Barangkali ada peluang yang belum termanfaatkan atau justru ada kemampuan dan kekuatan yang selama ini tersembunyi diselimuti kemalasan kita sendiri.
Yang pasti kalau KKM cukup dengan angka minim yang ditenggarai harapan aman-aman saja kapan dunia pendidikan kita akan maju? GURU MESTINYA OPTIMIS UNTUK MENENTUKAN KKM YANG TINGGI


Dengan atau tanpa diperhatikan secara seksama prilaku siapapun khususnya dalam hal ini anak dalam keseharian tampaknya biasa-biasa saja. Baru sesuatu tampak jelas manakala sudah ada efek perilaku yang ekstreem keluar dari biasanya dan itu terjadi ketika daya dorong atau watak sudah terbentuk bahkan mungkin mendarah daging. Ketika keadaan sudah seperti itu apa lagi yang bisa diperbuat untuk mengubahnya? Sulit !
Dari ketiga anak yang sedang berjalan beriringan dan bergurau tampaknya tak ada sesuatupun yang berbeda. Mereka semua anak umur belasan. Tapi tahukan anda seberapa sama dan seberapa beda pola pikir ketiga anak tersebut. Kita ambil contoh cara pandang mereka terhadap kamar mereka sendiri. Anak pertama memandang betapa penting rapi dan bersihnya sebuah kamar, jika tidak dalam kondisi rapi dan bersih sangat mengganggu kenyamanan perasaannya. Anak kedua tidak begitu peduli dengan bersih dan rapinya kamar dia, baik bersih atau berantakan dia nyaman-nyaman saja. Anak ketiga justru sepertinya lebih nyaman dengan keadaan yang “super amburadul”. Dia merasa dalam posisi asing bahkan hampir tak bisa tidur apabila harus berada di kamar yang rapi dan bersih.
Mengapa seperti itu? Diantaranya bahwa dalam dasar pikiranya sudah terbentuk secara kuat bahwa kamar yang ia temui dan aman untuk dinikmati seperti dasar pikir mereka masing-masing. Itu karena sudah secara evolusi yang ia temui seperti itu dan seperti itu. Bukankah seekor burung pipit akan tetap nyaman dalam sarangnya yang terbuat dari lilitan semak semak kecil dan ia akan tetap memilih itu walau dihadapanya diberikan sebuah rumah manis dengan gantungan pengharum dan be- AC. Mengapa pula Nenek dan Kakek memaksa ingin pulang ke kampung dari pada tinggal bersama cucunya di rumah mewah, cerita punya cerita, nenek dan kakek sudah sangat merindukan mandi di pancuran dan lebih parahnya sudah beberapa hari ini di kamar mandi mewah rumah cucu tak bisa “BAB”
Kembali pada tiga anak diatas… tak ada sesuatu yang istimewa dari contoh kasus perbedaan dasar pikir terhadap nuansa sebuah kamar. Tak ada ancaman terhadap masyarakat dan Negara dari ketiga perbedaan pola pandang ketiga anak tadi. Sehingga semuanya berjalan tanpa begitu terperhatikan. Tapi dalam hidup ini dihadapkan dengan berbagai kasus-kasus lain yang sangat kompleks dan rumit.
Salah satu contoh sisi lain adalah seberapa sama dan seberapa beda ketiga anak tadi memandang dirinya dalam mengarungi perjalanan hidupnya. Anak pertama selalu ingin menjadi yang terbaik, selalu ingin jadi pahlawan, selalu ingin setia dan selalu ingin menjadi tokoh baik dalam perjalanan hidupnya sebab entah pada saat yang mana watak itu tertanam kuat dari ribuan cerita yang ia baca dan saksikan dari buku/film/kehidupan tentang substansi cerita-ceritanya. Anak kedua memandang perjalanan hidup hadapi saja mana yang mengenakan. Jika ada kesempatan untuk tidak baik, untuk tidak jadi pahlawan, untuk tidak setia kenapa tidak dicoba dan dinikmati karena entah pada saat yang mana watak itu tertanam kuat dari ribuan cerita yang ia baca dan saksikan dari buku/film/kehidupan tentang substansi cerita-ceritanya. Anak ketiga justru selalu mencari cari kesempatan untuk tidak baik, untuk menjadi penjahat dan untuk berselingkuh sebab entah pada saat yang mana pula watak itu tertanam kuat dari ribuan cerita yang ia baca dan saksikan dari buku/film/kehidupan seperti di muka.
Sungguh fenomena yang unik, tapi untuk kasus ini ternyata berpotensi mengancam ketentraman masyarakat dan Negara. Sehingga kadang menimbulkan keonaran dan persoalan besar. Tapi apabila sudah tertanam kuat dalam diri seseorang…tampaknya sulit !
Contoh ketiga anak tadi hanyalah gambaran dominasi watak sebab dalam hidup memang tak selamanya konstan, setiap orang kena oleh istilah “owah gingsir” hanya saja dari secara keseluruhan masing-masing punya dominasi watak yang berlainan.
Jadi betapa kita harus selalu mengawasi dan mengawal sumber apresiasi anak dan setidaknya mampu mengukur apa yang tertanam dan berpotensi menjadi daya dorong dalam perjalanan hidupnya sekarang dan ke depan.
Jangan anggap sepele kebiasaan anak dalam permainannya yang selalu berperan ingin menjadi “sebagai penjahat”, dan sebagai-sebagai lain yang merupakan actor antagonis.
Sebab tidak ada yang tahu persis pada saat yang mana dasar pikir itu akan melekat kuat menjadi “hak paten” bagi dirinya.
Selain itu pengkondisian bahan bacaan dan tontonan baik dari sisi porsi dan substansi yang mungkin akan menjadikan kualitas “adukan” tinggi, sehingga menghasilkan pondasi watak yang cemerlang ini bagian yang harus selalu dibangun bersama.
Selama ini kita telah hidup dari apresiasi kita terhadap alam yang kita temui sejak kecil. Dan jujurnya “inilah watak” yang tertanam kuat pada diri kita masing-masing.
Maka apabila terasa ada yang bisa dibenahi mari benahi terhadap anak kita. Berikan selalu sumber untuk diapresiasi yang berkecenderungan nilai positif sambil terus mencoba membaca dan mengenali kemana arah pola pikir anak kita bergerak dan terbentuk.
Penulis adalah Kepala SD Negeri 1 Utama Kecamatan Cijeungjing, Ciamis 46271 (08122284481)
http://www.ujugunawan.blogspot.com


Percayakah kamu, kalau kini kamu bisa menjadi mahasiswa di Inggris atau Amerika Serikat walaupun kamu adalah siswa SMU atau pekerja di Indonesia? Maksud saya bukan menjadi mahasiswa dengan program kuliah jarak jauh di mana kita mendapatkan gelar pada akhirnya, tapi lebih pada mengikuti proses belajar yang benar – benar terjadi di ruang kelas Universitas – universitas top dunia. Kalau jawabanmu tidak, kamu perlu simak lebih jauh perkembangan dunia pendidikan di internet. Kini, berbagai universitas terkemuka telah membuka pada dunia bagaimana proses belajar mengajar sebenarnya terjadi di ruang kelas mereka.
Coba saja tengok University of California at Berkeley (UC Berkeley). Sejak tahun 2001, kampusnya sudah rutin merekam kuliah berbagai fakultasnya tiap semester dan mempublikasikannya di internet dengan rutin. Perekamannya ada yang dilakukan dengan audio saja, tapi ada juga yang dengan video. Cara publikasi rutin konten audio / video seperti ini disebut podcast. Khusus untuk UC Berkeley, mereka menamainya webcast.berkeley. Kamu – kamu yang berminat bisa langsung menuju ke home page-nya dan mendownload kuliah yang kamu mau. Tawaran mata kuliahnya rata – rata hanya pada semester awal saja, namun subjek yang ada cukup bervariasi: biologi molekuler, politik, ilmu komunikasi, fisika, bahkan filosofi. Saya sendiri sejauh ini baru mendengarkan kuliah biologi, namun profesornya pantas diacungi jempol. Mereka bisa menyampaikan materi kuliah dengan padat dan jelas dalam waktu rata – rata satu jam, dan beberapa bahkan ada yang bisa menyampaikannya dengan beberapa guyonan yang menghibur. Kalau kamu menggunakan iTunes atau program lain yang dapat mendownload podcast langsung, kamu bisa mendaftar ke RSS feed dari mata kuliah bersangkutan dan konten baru akan langsung didownload begitu mereka dipublikasikan.
Ruang Kelas Digital?
Ruang Kelas Digital?
UC Berkeley bukan satu – satunya universitas yang membuka isi ruang kelasnya ke seluruh dunia. Massachussets Institute of Technology (MIT) juga melakukannya dengan program OpenCourseWare (OCW). Namun berbeda dengan webcast.berkeley di mana kita seperti ikut ada dalam ruang kuliah, konsep OCW adalah publikasi materi – materi yang digunakan untuk kuliah di MIT. Beberapa mata kuliah menyediakan rekaman kuliah secara audio dan video, namun kebanyakan hanya menyediakan silabus, topik tiap pertemuan, dan jadwal aktivitas selama kuliah berlangsung saja. Ini tetap informatif karena kamu – kamu yang penasaran apa saja yang digunakan di dalam ruang kelas salah satu universitas terbaik di dunia kini bisa tahu.
Masih ingin belajar lagi? Kamu juga bisa melakukannya di program iTunes U yang dijalankan oleh Apple. Jika webcast.berkeley dan OCW dijalankan oleh universitasnya masing – masing, maka iTunes U merupakan kumpulan berbagai materi edukasi gratis, seperti kuliah dosen atau seminar dengan pembicara tamu, dari berbagai universitas yang dilakukan oleh Apple. Di sini pilihan universitasnya jauh lebih beragam: dari Stanford, Yale, sampai Cambridge University. Begitu pula pilihan mata kuliahnya: dari arsitektur, teknik, sampai studi mengenai film dan huruf kanji Jepang. Untuk browsing mata kuliah yang tersedia, kamu perlu menjalankan iTunes di komputermu dan membuka link ini. Kumpulan berbagai kuliah dari berbagai universitas juga dapat ditemukan di Academic Earth. Yang membuatnya berbeda dari yang lain adalah semua materi yang ada di situs tersebut merupakan video dan bisa ditonton langsung secara streaming. Pilihan yang ada memang jauh lebih sedikit dibanding iTunes U. Namun, jika kamu lebih suka menonton kuliah daripada mendengarkannya saja, inilah salah satu alternatif situs yang bisa kamu kunjungi.
“Ah, Lebih Enak Baca Wikipedia”
Kamu mungkin bertanya, apa untungnya semua ini untuk saya? Google dan Wikipedia sudah cukup untuk menjawab rasa penasaran saya. Memang, untuk informasi yang singkat dan cepat kamu bisa mengandalkan kedua situs itu. Kamu mungkin bisa tahu apa itu genom, apa itu mesoderm, atau bagaimana sirkuit CPU bekerja. Tapi apakah kamu tahu pentingnya meneliti genom? Apa pentingnya mempelajari mesoderm? Atau teori fisika apa saja yang mendasari pembuatan CPU? Kamu bisa mencarinya lagi tentu, di Google dan Wikipedia, namun pada akhirnya yang kamu dapatkan adalah sekumpulan fakta – fakta yang terkadang sulit dirangkai menjadi satu cerita utuh. Inilah keunggulan mengikuti kuliah – kuliah tersebut: konteks cerita yang utuh. Untuk memahami satu isu, kamu perlu memahaminya secara keseluruhan, bukan cuma sepotong atau dua potong faktanya saja. Dengan mendengarkan ahli – ahli di bidang bersangkutan menyampaikan kuliah, kamu bisa mendapatkan konteks cerita itu dengan lebih mudah. Coba saja bandingkan, kamu mem-browse internet selama satu jam mencari informasi tentang kontrol ekspresi gen prokariot atau kamu mendengarkan kuliah dengan topik yang sama selama satu jam.
Selain itu, kamu juga memiliki kebebasan lebih banyak dengan adanya cara belajar seperti ini. Kalau kamu punya portable audio atau video player, kamu bisa membawa kuliah – kuliah di atas ke manapun kamu pergi. Mirip seperti membawa buku, namun kamu tidak perlu kawatir barang bawaan menjadi berat. Kamu bisa mendengarkannya di mobil ketika jalan macet, atau ketika kamu di kampus menunggu temanmu datang. Mudah bukan?
Nah, tunggu apa lagi. Jangan mau kalah dengan orang lain dan tunjukkan bahwa kamu juga mampu belajar sendiri. Lagipula, semua materi itu gratis. Yang kamu butuhkan hanya kemauan (dan koneksi internet yang memadai tentunya).


sekolah1Dalam penyusunan RAPBN 2010 sementara, Departemen Pendidikan Nasional akan memperoleh porsi anggaran paling besar, dibandingkan Departemen lain. Sesuai kewajiban pemerintah untuk memprioritaskan anggaran pendidikan, hal tersebut sudah semestinya menjadi suatu kewajaran.
Pembiayaan serta alokasi dana pendidikan hanyalah salah satu dari sekian banyak persoalaan yang harus dihadapi menteri pendidikan yang akan datang. Baik secara fungsional maupun struktural, pendidikan kita memang perlu mendapatkan perhatian utama demi kemajuan dan kesejahteraan ke depan.
Tantangan pertama bagi sang menteri beserta Depdiknas ialah untuk mempertanggungjawabkan dana APBN tersebut beserta janjinya dengan sekolah gratis. Sebagai suatu program yang sudah dicanangkan dan digembar-gemborkan, masyarakat tentu menanti pertanggung jawabannya.
Namun, persoalan lain yang lebih mendasar menanti untuk diselesaikan satu per satu. Persoalan dunia pendidikan dengan masalah lapangan kerja adalah salah satunya. SMK sebagai solusi jangka pendek (atau mungkin juga menengah) harus dikembangkan lagi dan mempertahankan prestasi yang telah diraih dalam beberapa tahun terakhir.
Tetapi, di sisi lain perlu ditegaskan bahwa pendidikan bukanlah institusi yang berfungsi untuk mencetak tenaga kerja semata. Logika link and match yang dianut adalah salah dan terlampau pragmatis. Dampaknya, dunia pendidikan kita terbawa arus industrialisasi mulai dari komersialisasi lembaga hingga pada cara berfikir positivistik dengan mematok nilai ujian sebagai indikator keberhasilan.
Sudah saatnya ditegaskan kembali bahwa UN tidak bisa menjadi alat penentu kelulusan siswa, dengan alasan apapun. Keteguhan pemerintah pada pelaksanaan UN hanya semakin memperjelas cara pandang terhadap pendidikan sebagai sebuah industri, karena ujian nasional tidak ubahnya sebuah ISO pada lembaga formal untuk mengukur tingkat keberhasilan kinerja.
Janganlah heran jika dunia pendidikan kita semakin kehilangan rohnya, dan hanya dibungkus oleh daging berupa lembaga-lembaga pendidikan yang mencoba untuk menarik keuntungan dari kebutuhan masyarakat. Dibukanya dunia pendidikan bagi arus modal lokal dan asing serta UU BHP secara terang-terangan memperlihatkan pengurangan peran pemerintah dalam dunia pendidikan.
Dialog mengenai BHP pun sudah dihidupkan dimana-mana, dengan sebuah konsensus yang berisi penolakan. Tapi nyatanya, seruan masyarakat tersebut ditanggapi pemerintah dengan menutup kuping.
Komersialisasi pendidikan yang sudah, dan kemungkinan besar akan justru semakin jelas terjadi, bukan hanya merugikan mereka yang secara finansial tertutup peluangnya untuk menikmati pendidikan. Dalam jangka panjang, negara dan bangsa inilah yang akan merasakan akibatnya. Sumber daya manusia yang berkualitas hanya akan ditemukan di kelompok atau kelas masyarakat yang latar belakangnya memang memungkinkan secara materiil.
Bahaya lain dari industrialisasi ialah pragmatisme dalam cara berfikir dan bertindak. Dengan cara pandang bahwa pendidikan hanya dilihat sebagai investasi, maka nilai –nilai yang ditanamkan di dalam dunia pendidikan akan terbatas pada nilai-nilai yang berguna bagi dunia usaha dan bukan untuk pengembangan ilmu serta pengetahuan itu sendiri.
Padahal, pendidikan yang menurut H.A.R. Tilaar pada hakikatnya berperan untuk memerdekakan dan mengembangkan potensi anak manusia, semakin terpinggirkan oleh peran media massa dan juga arus globalisasi. Untuk bisa kembali kepada hakikat pendidikan tersebut, maka komponen utama pendidikan, yakni guru itu sendiri, juga harus dijauhkan dari cara berfikir pragmatis yang menjebak guru dalam perangkap prestasi. Cara belajar yang dialogis harus dikembangkan untuk mengajak siswa berfikir secara kritis. Untuk itu, guru tidak boleh lagi memasuki ruang kelas dengan perut kosong. Kesejahteraan guru sudah semestinya adalah suatu kewajaran.
Siapapun menteri pendidikan berikutnya, ia memiliki tugas mulia untuk mengembalikan dunia pendidikan kita untuk kembali pada khitahnya yakni mengembangkan fikiran dan membangun potensi diri manusia Indonesia. Tetapi pada saat yang bersamaan, menteri berikutnya juga harus tegar menghadapi kenyataan bahwa pendidikan akan selalu dilihat sebagai tangga menuju dunia kerja.


070522_ujian20nasionalAda banyak efek negatif dari Ujian Nasional yang memberikan dampak terpuruknya mental siswa, orang tua beserta pendidik. Tuntutan kelulusan siswa melalui Ujian Nasional membuat pelaku dunia pendidikan melakukan hal-hal yang tidak bermoral. Sebenarnya di lapangan banyak terjadi pencurian soal namun hanya beberapa saja yang terungkap. Ketika mendekati Ujian Nasional, sekolah-sekolah membentuk tim sukses dengan tujuan membantu para muridnya dengan melakukan teknik-teknik yang beraneka ragam..
Yang banyak dilakukan di sekolah-sekolah yaitu dengan cara mengambil sisa soal di ruang ujian kemudian dikerjakan oleh seorang guru lalu disebarkan ke muridnya melalui HP ada juga yang langsung melalui pengawas ruang, walaupun pengawas ruang adalah guru dari sekolah lain tetapi mereka juga seorang guru yang muridnya secara bersamaan juga menghadapi ujian jadi tahu sama tahu kerjasama saling menguntungkan dan masih banyak lagi teknik lain yang dilakukan.
Semua yang mereka lakukan adalah bentuk pengabdian kepada sekolah, yang mereka lakukan adalah bentuk kasih sayang kepada anak didiknya, yang mereka lakukan merupakan wujud keperdulian terhadap masa depan anak didiknya dan mereka adalah para korban sistem yang dibentuk oleh pemerintah.
Pemerintah ingin mendapatkan sebuah angka yang dinamakan standard pendidikan tapi akibatnya para siswa berbuat curang, para pendidik berbuat curang dan sekolah bukan lagi tempat-tempat untuk mendidik mental siswa, sekolah bukanlah lagi tempat untuk mendidik generasi untuk berbuat jujur dan yang lebih ironis, masih pantaskah guru disebut seorang pendidik?. Guru berada pada pilihan yang sulit, mereka harus melakukan hal yang bertentangan dengan hati nurani demi anak didik dan pengabdiannya pada sekolah.
Sekarang kita bicara tentang hasil Ujian Nasional. Universitas tidak mempercayai hasil Ujian Nasional karena belum tentu siswa yang berprestasi mendapatkan hasil UN yang baik. Buktinya Universitas Favorit dalam menerima mahasiswa baru tidak berpedoman pada nilai UN. Yang jelas banyak siswa berprestasi mendapatkan ijasah paket karena kegagalannya menghadapi UN, banyak siswa yang telah dinyatakan diterima di universitas dalam dan luar negeri tetapi batal diterima dikarenakan kegagalan dalam UN. Faktanya beberapa tahun yang lalu ada seorang siswi mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri karena kemampuan bahasa inggrisnya yang baik, namun akhirnya kandas gara-gara nilai matematikanya di bawah standard yang mengakibatkan siswi tersebut tidak lulus UN. Yang jelas jika siswa gagal dalam UN dan mendapatkan ijazah paket, maka kegagalan tersebut akan melekat pada siswa seumur hidup dan akan melukai mental siswa seumur hidup.
Sekarang kita bicara kurikulum yang berlaku. Sekarang ini di Indonesia memakai KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang merupakan pengembangan dari KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). KBK merupakan kurikulum yang mewadahi keinginan siswa untuk mendalami pendidikan sesuai dengan kompetensinya. Andaikan siswa memilih mendalami bidang Olah Raga apakah siswa tersebut menempuh UN sesuai dengan kompetensinya di bidang Olah Raga? Andaikan siswa memilih mendalami bidang kesenian, apakah siswa tersebut menempuh UN sesuai dengan kompetensinya dibidang kesenian?. Lalu, sesuaikan Ujian Nasional dengan kurikulum yang berlaku sekarang?.
Terakhir kalinya bahwa Ujian Nasional mendidik para generasi penerus untuk terbiasa berbuat curang dan siapa yang paling disalahkan jika masa yang akan datang para pemegang ekonomi di Negara ini menjadi koruptor akibat dari didikan Ujian Nasional.
Saya yakin seyakin-yakinnya jika ada capres dan cawapres yang memiliki misi penghapusan UN atau kelulusan tidak didasarkan pada nilai UN maka akan dipilih oleh para Pendidik, siswa, para petani yang anaknya menjadi siswa, para buruh yang anaknya menjadi siswa, para pedagang yang anaknya menjadi seorang siswa, para pelaku industri yang anaknya menjadi seorang siswa dan seluruh warga Indonesia yang anaknya menjadi seorang siswa!
Mohon dikaji para calon penguasa


Guru dan kurikulum adalah komponen penting dalam sebuah sistem pendidikan. Keberhasilan atau kegagalan dari suatu sistem pendidikan sangat dipengaruhi oleh dua faktor tersebut. Sertifikasi tenaga pendidikan dan pengembangan kurikulum yang belakangan ini tengah dilakukan adalah upaya untuk memperbaiki sistem pendidikan melalui dua aspek di atas.
Dalam tulisan ini, penulis ingin menyoroti peran guru dan kurikulum dalam sistem pendidikan nasional. Di sini penulis akan memaparkan kondisi yang ada dan perlunya dilakukan usaha untuk memperbaikinya. Analisis yang dilakukan di sini berdasarkan pengalaman penulis dalam pengajaran dan pengembangan buku pelajaran berbasis kurikulum.
Dicari, Guru yang Profesional
Guru adalah komponen penting dalam pendidikan. Di pundaknya siswa menggantungkan harapan terhadap pelajaran yang diajarkannya. Benci atau sukanya siswa terhadap suatu pelajaran bergantung pada bagaimana guru mengajar. Saya katakan bahwa guru adalah ujung tombak dalam sistem pendidikan. Sebagai ujung tombak, tentu kita sangat berharap kepada peran guru dan kharismanya di hadapan siswa.
Sekarang, mari kita tengok bagaimana peranan guru di kelas. Kita harus berani mengakui bahwa guru berperan besar dalam menjadikan sebuah pelajaran di sekolah sulit dan tidak menarik minat siswa untuk mempelajarinya. Fakta ini didukung oleh pendapat banyak siswa sekolah yang pernah penulis temui dan pengalaman penulis saat sekolah dulu. Dari pengalaman siswa tersebut, penulis mendapati banyak guru yang tidak punya motivasi dan semangat untuk mengajar di kelas. Entah karena malas atau kurang menguasai materi pelajaran, sering guru tidak hadir di kelas dan kalaupun hadir tidak memberikan pelajaran sesuai dengan waktu yang tersedia. Sering waktu pelajaran di kelas diisi dengan mencatat ataupun mengerjakan tugas tanpa siswa diberi wawasan secukupnya tentang materi tersebut.
Ada juga guru yang untuk menutupi kemalasannya dan ketidakmampuannya menguasai materi memberikan tugas kepada siswa untuk merangkum materi pelajaran atau membuat makalah dengan topik materi pelajaran yang akan diajarkan. Dengan siswa telah membuat rangkuman atau makalah guru menganggap siswa sudah mempelajari materi tersebut dan menganggap siswa sudah mampu menjawab semua pertanyaan yang berkaitan dengan materi tersebut. Wow, hebat sekali ya! (Jadi, ngapain aja tuh guru?)
Guru yang lainnya, untuk menutupi kemalasannya dan kekurangannya, ada yang memanfaatkan otoritasnya dengan bersikap galak kepada siswa. Ini diharapkan dapat menarik perhatian siswa terhadap pelajaran yang diajarkannya sehingga guru akan lebih leluasa mengajarkan materi pelajaran. Tetapi, sikap ini malah menambah kebencian siswa kepada guru sekaligus juga terhadap pelajarannya. Tidak heran ada istilah guru killer untuk menyebut guru yang mempunyai sikap seperti ini, galak, kurang jelas dalam menerangkan materi, dan otoriter. Apakah seperti ini sikap guru yang sesungguhnya?
Wajar saja kalau kegiatan belajar di kelas menjadi kurang menarik dan sulit lha wong gurunya saja tidak pernah memberikan pelajaran sama sekali dan lebih suka marah-marah ketimbang mengajar. Dari mana siswa mendapat tambahan pengetahuan kalau bukan dari guru? Padahal guru bertanggung jawab untuk mengantarkan siswa memahami pelajaran dan membimbing siswa untuk menerapkan pelajaran yang diajarkannya.
Berdasarkan pengalaman penulis, sebenarnya banyak cara, metode, dan sarana yang bisa dijadikan bahan dalam mengajarkan suatu materi sehingga dapat menjadi lebih mudah. Sebagai contoh, ketika mengajarkan materi termodinamika dalam pelajaran fisika (kebetulan penulis berlatar belakang fisika) seorang guru dapat menganalogikan hukum termodinamika I dengan krupuk yang sedang digoreng. Krupuk yang digoreng (diberi panas) akan mengalami perubahan volume (membesar) dan kenaikan suhu. Ini sesuai dengan hukum termodinamika I bahwa Q = ΔU + P.ΔV (panas Q mengakibatkan kenaikan suhu (energi dalam) ΔU dan pertambahan volume P.ΔV). Bukankah cara ini lebih efektif? Dan banyak lagi contoh yang bisa dipakai.
Tidak pantas bagi seorang guru yang membiarkan siswanya tidak mendapat tambahan pengetahuan. Dan, kebanggaan bagi guru yang mampu menanamkan pengetahuan kepada siswanya dan pengetahuan itu bermanfaat bagi kehidupan di masa yang akan datang. Jadi, kepada guru marilah kita perbaiki sikap dan metode pengajaran yang selama ini kita jalankan dalam mengajarkan satu pelajaran. Dengan memperbaiki sikap dan metode pengajaran kita adalah salah satu jalan untuk membuat pelajaran itu lebih disenangi dan mudah bagi siswa.
Kurikulum yang Tidak Membumi
Tidak salah lagi, kurikulum adalah salah satu penyebab suatu pelajaran menjadi sangat sulit dan berat untuk dipelajari dan karenanya kurang disukai siswa. Di sini penulis mengambil contoh pelajaran fisika dan kurikulumnya sebagai studi kasus.
Kurikulum fisika yang ada tidak seharusnya diberikan pada tingkatan sekolah menengah. Karena menurut kurikulum ini materi pelajaran yang harus diberikan sangat banyak dan terlalu sulit jika dilihat bahwa jam pelajaran yang tersedia sangat terbatas dan siswa pun tidak hanya belajar fisika. Siswa juga harus belajar matematika, biologi, kimia, agama, ekonomi, sejarah dan lain-lain. Jadi, sangat tidak bijak apabila siswa dipaksakan (dijejali) untuk memahami semua materi yang ada di kurikulum.
Materi yang harus dipelajari oleh siswa tentang fisika begitu banyak dan mendetail yang masih perlu dipertanyakan haruskah materi ini diajarkan pada tingkat sekolah menengah. Perubahan kurikulum pada dasarnya tidak banyak mengubah materi pelajaran fisika ini karena hanya mengubah susunan atau struktur materi pelajaran. Perubahan kurikulum tidak pernah sama sekali menyentuh hal apakah materi ini layak dan harus diajarkan pada tingkat sekolah menengah. Pelajaran fisika yang selama ini kita pelajari di tingkat sekolah menengah seharusnya dipelajari di tingkat yang lebih tinggi (apa karena ini siswa kita banyak yang menggondol medali emas olimpiade fisika?).
Kurikulum yang ada selama ini hanya mampu diikuti oleh segelintir siswa saja yang mampu sedangkan sebagian besar siswa tidak dapat mengikuti apa yang ada di kurikulum. Seharusnya kurikulum dibuat untuk dapat diikuti oleh semua siswa, tidak hanya oleh segelintir siswa yang pintar saja. Berdasarkan pengalaman penulis untuk menjelaskan satu bagian (misalnya, hukum termodinamika I) saja dibutuhkan waktu yang cukup lama. Dan belum tentu bisa dipahami oleh semua siswa karena kemampuan masing-masing siswa berbeda-beda. Akibatnya, tidak cukup waktu yang tersedia untuk menyelesaikan seluruh materi yang ada dalam kurikulum.
Akan tetapi, karena kurikulum telah dijadikan pedoman dan bahkan seolah-olah bagaikan kitab suci yang wajib digunakan, kekurangan-kekurangan yang ada dalam kurikulum tidak bisa diganggu gugat. Ini menjadi beban tersendiri buat guru dan siswa.
Menurut pandangan penulis, pelajaran fisika seharusnya diarahkan untuk dapat membantu memecahkan masalah yang sering timbul dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran fisika bukan sekedar membahas seluruh aspek dari hukum-hukum fisika secara detil sekaligus menyelesaikan semua perhitungan yang berkaitan dengan hukum tersebut tanpa siswa mengetahui apa manfaat yang nyata dari hukum-hukum tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Bisa dikatakan kurikulum yang ada kurang membumi yang membuat siswa kurang berminat mempelajarinya.
Kurikulum yang terlalu padat dan kurang membumi diperparah oleh ketersedian buku sebagai pegangan guru dan siswa dalam pengajaran fisika di sekolah. Ya, harus diakui bahwa buku pelajaran adalah salah satu elemen penting dalam proses pendidikan di sekolah tak terkecuali dalam pelajaran fisika. Di atas telah disebutkan bahwa buku fisika sebagai pengantar memahami pelajaran fisika yang ada tidak representatif. Ini bukan berarti penulisnya yang salah ataupun penerbit yang tidak bertanggung jawab. Penulis maupun penerbit merasa mereka telah membuat buku sesuai dengan kurikulum yang terbaru (kurikulumnya aja ngga jelas!). Dan mereka beralasan buku yang tidak sesuai kurikulum (walaupun lebih membumi dan lebih bisa dibaca (ada ngga ya!)) tidak akan laku dijual. Buku yang sedianya menjadi salah satu elemen penting dalam pendidikan telah terperangkap dalam bisnis semata dan seolah-olah mengabaikan aspek pendidikan. Praktik bisnis ini membuat tidak ada penerbit yang berani membuat buku yang lepas dari pakem dan belenggu kurikulum sehingga buku tersebut bisa lebih membumi dan mudah dipahami.
Salah satu ganjalan lain berkaitan dengan kurikulum yang membuat pelajaran fisika menjadi terlihat sulit adalah adanya ujian nasional (UN) sebagai standar kelulusan. Pelajaran fisika (atau sains pada umumnya) yang sedianya dapat dieksplorasi menjadi lebih menarik terbentur oleh batasan-batasan standar ujian nasional. Dengan adanya batasan-batasan ini guru menjadi terbelenggu dan membatasi pengajarannya hanya pada materi yang diprediksi akan keluar dalam UN. Pengajaran fisika yang dapat diarahkan agar lebih menarik digantikan oleh pembahasan soal-soal untuk menghadapi UN. Keindahan ilmu dan penerapan fisika serta merta akan tertutup oleh kekhawatiran bagaimana menyelesaikan soal UN dengan benar. Tentu saja siswa akan merasa bosan dengan metode pengajaran seperti ini tapi apa boleh buat daripada tidak lulus UN bisa berabe. (Mau ditaruh di mana muka gue kalo ngga lulus UN!)
Penutup
Dengan argumen yang telah dipaparkan di atas, akankah kita diam saja membiarkan praktik semacam ini berlangsung terus?
Penulis yakin apabila setiap pelajaran baik fisika maupun pelajaran lain bisa diarahkan agar lebih membumi dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari akan lebih mudah untuk memahami suatu pelajaran. Dengan demikian, guru juga lebih mudah untuk mengajarkan materi pelajaran kepada siswa di kelas. Dan, pada saat itu tidak akan ada lagi yang mengeluh saat mengikuti suatu pelajaran di kelas.


Selama ini banyak kalangan yang mempertanyakan kegunaan pendidikan seks bagi remaja. Benarkah tidak ada gunanya? Bagaimana status pendidikan seks di luar negeri? Mari kita simak untuk perbandingan!
ScienceDaily (Mar.20, 2008). Riset terbaru menunjukkan bahwa pendidikan seks komprehensif dapat mengurangi kemungkinan kehamilan remaja, dan tidak ada indikasi bahwa hal tersebut meningkatkan level hubungan seks atau penyakit menular seksual (PMS). “Sama sekali tidak membahayakan untuk mengajari remaja mengenai kontrol kelahiran, sebagai tambahan dari penolakan hubungan seks,’ demikian kata pimpinan kajian, Pamela Kohler, Manajer program pada Universitas Washington di Seattle. Orang tua dan pendidik telah lama berargumentasi, apakah siswa harus mendapatkan pengajaran kontrol kelahiran, atau secara mudah bilang saja tidak terhadap seks bebas. Opsi mana yang lebih baik untuk menunda hubungan seks pada remaja.
Kohler dan kolega mengamati hasil dari survei nasional Amerika Serikat tahun 2002 dan berfokus pada remaja heteroseksual umur 15 sampai 19 tahun. Penemuan ini- berdasarkan respon dari 1719 remaja- dipublikasi pada journal of Adolescent Health. Setelah mereview hasil, peneliti menemukan bahwa satu dari empat remaja menerima pendidikan penolakan hubungan seks saja. Sembilan persen, terutama di daerah miskin dan pedesaan, tidak menerima pendidikan seks sama sekali. Dua pertiga sisanya menerima instruksi komprehensif, dengan diskusi kontrol kelahiran dan penolakan hubungan. Remaja yang menerima pendidikan seks komprehensif memiliki kemungkinan 60 persen lebih kecil untuk mendapatkan kehamilan, dibandingkan yang tidak menerima pendidikan seks sama sekali. Kemungkinan kehamilah adalah 30 persen lebih rendah pada mereka yang hanya menerima pendidikan penolakan hubungan seks saja, dibanding mereka yang tidak menerima hubungan seks, namun peneliti mengasumsikan bahwa angka tersebut kurang signifikan secara statistik, sebab beberapa remaja yang masuk dalam kategori diteliti.
Walau mereka juga tidak mencapai signifkansi statistik, survei lain juga menganjurkan bahwa pendidikan seks komprehensif, bukan penolakan hubungan seks saja, mengurangi kemungkinan remaja terlibat pada hubungan vaginal. Kedua pendekatan tersebut tidak dilaporkan mengurangi kemungkinan PMS, namun hasil tersebut secara statistik tidak signifikan. Bagaimanapun, penemuan tersebut mendukung diberikannya pendidikan seks komprehensif, demikian tandas Kohler. ‘Tidak ada bukti untuk mendukung bahwa pendidikan penolakan hubungan seks saja mengurangi kemungkinan terjadinya hubungan seks, atau kehamilan’, kata Kohler lagi.
Don Operario, PhD., profesor pada Universitas Oxford di Inggris mengatakan bahwa kajian tersebut memberikan ‘bukti lebih jauh’, terhadap kegunaan pendidikan seks komprehensif dan ketidak efektifitas dari pendekatan penolakan hubungan seks saja. Bagaimanapun, kajian tersebut tidak menunjukkan bagaimana pendidik harus mengimplementasikan pendidikan seks komprehensif pada ruang kelas, demikian kata Operario, yang mempelajari pendidikan seks. ‘Kita memerlukan pemahaman lebih baik terhadap cara yang paling efektif untuk memberikan tipe pendidikan dalam rangka untuk memaksimalkan pemahaman murid dan penerimaan komunitas’, kata Operario.
Referensi Jurnal : Kohler PK, Manhart LE, Lafferty WE. Abstinence-only and comprehensive sex education and the initiation of sexual activity and teen pregnancy. J Adolesc Health42(4), 2008.
Diterjemahkan dari:
The Center for the Advancement of Health. “Comprehensive Sex Education Might Reduce Teen Pregnancies, Study Suggests.” ScienceDaily 20 March 2008. 28 November 2008 http://www.sciencedaily.com­ /releases/2008/03/080319151225.htm.


ujian-nasionalAdanya rencana Mendiknas untuk memajukan Ujian Nasional (UN) atau tidak, tak akan menjadi masalah bagi siswa yang berkarakter pembelajar dan punya komitmen untuk selalu belajar. Tipe siswa seperti ini akan istiqomah belajar, kapan pun dan dimana pun. Motivasi belajar mereka bukanlah hanya sekedar karena akan menghadapi ujian saja. Mereka istiqomah belajar karena menganggap belajar adalah sebuah kebutuhan, bukan kewajiban. Namun sayang, sedikit sekali kita temukan siswa yang mempunyai karakter seperti itu, malah sebaliknya, kita lebih sering menemukan siswa yang berkarakter lain. Tidak sedikit siswa yang hanya belajar diwaktu mereka akan menghadapi ujian saja dan sejenisnya. Jika hal ini terus dibiarkan, UN bagi siswa semacam ini akan menjadi momok besar. Oleh karena itu, untuk merekalah, tulisan ini ditujukan.
Kiat sukses UN disingkat dengan akronim alfabetis ABCDE. Pertama huruf “A”, Antusias. Kata ini berasal dari bahasa asing en (di dalam), theos (Tuhan), isme (paham). Jadi, antusias bermakna ‘Tuhan ada di dalam diri’ . Innallaha ma’ana. Jika antusias sudah merasuk ke dalam diri seseorang, maka siapapun akan bersemangat dalam hidup dan menghadapi Ujian, meskipun, Ujian yang berat sekalipun. Datangnya Ujian akan mereka sambut dengan sebuah keyakinan bahwa, mereka mampu menghadapinya dengan segala persiapan yang sudah matang. Niat dan motivasi akan selalu menyala dari dalam diri mereka, tak perlu lagi untuk diingatkan. Sebab, rasa antusias ini akan menjadi charger bagi diri masing-masing. Permasalahannya adalah, bagaimanakah dengan kondisi belajar para siswa saat ini? Sudah siapkah mereka?. Hal inilah yang harus kita pikirkan sebagai orang tua dan masyarakat umum.
Kedua huruf “B”, Belajar efektif. Karena waktu di kelas terminal, maka kelas VI SD/MI, kelas IX SMP/MTs, dan kelas XII SMA/SMK/MA akan terasa sebentar dibanding kelas sebelumnya. Kemudian, Bagaimanakah belajar yang efektif itu? Jawabannya adalah belajar secara fungsional dan global, diantaranya; metode peta pikiran (mind mapping) sebaiknya diterapkan dalam catatan pribadi siswa dengan tulisan warna-warni. Secara teori pendidikan, tulisan yang warna-warni, sangat membantu sekali untuk mudah diingat. Berbagai sekolah telah lama mempersiapkan dengan drill latihan soal-soal disertai dengan uji coba (try out) yang notabene tidak hanya sekali dua kali, namun berkali-kali dengan materi terstruktur sejak kelas awal hingga akhir. Try out memang sengaja dibuat mirip dengan situasi yang sesungguhnya atau yang biasa kita kenal dengan istilah simulasi. Sebab, cara ini dipandang efektif selama model soal masih tetap pada ranah kognitif.
Ketiga adalah huruf “C”, Cara memenej waktu. Mengingat waktu yang singkat di kelas akhir, sudah semestinya bagi siswa untuk bisa memenej waktu dengan sebaik-baiknya. Mau tidak mau harus disadari bahwa, semua orang diberi anugerah waktu yang sama yakni, 24 jam dalam sehari semalam, 60 menit tiap jamnya, dan 60 menit juga dalam setiap detiknya. Namun, mengapa hasilnya berbeda?. Jawabannya mungkin terletak pada ketidakmampuan siswa dalam memenej waktu. Dalam teori accelerated learning dijelaskan bahwa, emosi yang positif sangat membantu proses pembelajaran, belajar adalah berkreasi, bukan mengkonsumsi, dan belajar membutuhkan keterlibatan seluruh anggota tubuh serta pikiran. Jika mungkin, menjadikan belajar sebagai ‘hiburan’ juga diperbolehkan, sehingga siswa tidak akan merasa tersiksa dengan belajar keras menjelang UNAS. Refreshing memang diperlukan saat suntuk belajar, dengan konsekuensi tidak menyita waktu. Sebab kelak, bila menyesal karena tidak memanfaatkan waktu secara baik, maka tidak akan bisa diulangi kembali ke masa lalu.
Keempat huruf “D”, Doa dan ibadah. Saat penulis sedang menyelesaikan tulisan ini, penulis teringat ketika dulu ia masih duduk di bangku terakhir SMA Islam Sunan Gunung Jati Tulungagung. Ketika itu Ia sering bertanya pada gurunya, “Pak, ada nggak ya doa yang ‘cespleng’ dan mujarab untuk bisa lulus Ujian Nasional?”. Ketika pertanyaan itu muncul, sangat mungkin sekali bagi siswa untuk mendapatkan jawaban yang tepat. Masalahnya, doa apakah dan oleh siapakah itu? Tentu doa kesuksesan dan doa keselamatan dunia akhirat. Kemudian pertanyaan selanjutnya, siapa saja yang harus berdoa dan beribadah? Tidak lain tidak bukan jawabannya ialah siswa yang bersangkutan, orang tua atau keluarga, dan segenap warga sekolah. Jika doa bersama ini terlaksana, pasti akan menambah ketenangan bagi siswa. Dan jika jiwa tenang, separuh kemenangan (kesuksesan) telah teraih.
Kemudian yang kelima huruf “E”, Empati. Doa yang menambah tenang, juga sebagai wujud kepedulian pada siswa. Siswa sangat membutuhkan empati atau feeling in, minimal sekadar simpati atau feeling on dari orang sekitar. Disinilah peran keluraga dan masyarakat untuk berempati guna membantu menciptakan suasana rumah dan lingkungan yang kondusif untuk belajar.
Akhir kata, dengan kelima kiat di atas, semoga sukses dan bermanfaaat!

Diberdayakan oleh Blogger.